Harus diakui dinamika politik Indonesia menjelang pemilihan presiden (pilpres) sangat atraktif, penuh egoisme dan ambisi, dengan tidak mendengarkan aspirasi rakyat di tingkatan grassroot. Pilpres kali ini sebenarnya hasilnya bisa berbicara lain seandainya Partai Golkar mendengarkan suara rakyat dengan memilih Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai capres. PDI Perjuangan juga dengan legowo memberi jalan kepada Prabowo Subianto sebagai Capres.
Setidak-tidaknya pilpres tidak akan selesai dalam satu putaran. Bahkan hasilnya bisa berkata lain. Karena, mereka adalah figur-figur yang sangat mengakar dan dekat dengan rakyat. Begitulah kalau ambisi pribadi telah mengabaikan suara rakyat. Bukan kehormatan yang akan didapat. Tetapi, penyesalan dan kekecewaan yang akan senantiasa menghantui sepanjang hayat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tetapi, ternyata semuanya tidak bisa mempengaruhi opini pemilih dalam menentukan pemimpinnya. Ini sebagai bukti dan harus dijadikan pelajaran bahwa alur pemikiran elit politik kita tidak bisa nyambung dengan alam pikiran rakyat kita yang kebanyakan masih sederhana.
Rakyat tidak mengerti dan tidak peduli apa itu bahayanya Neo Liberalisme. Yang diinginkan rakyat adalah apa pun sistem ekonomi yang dianut negara yang penting mereka bisa mencukupi pangan, sandang, papan, dan rasa aman. Dan, buktinya walaupun harga-harga kebutuhan pokok meningkat walaupun harus gali lobang tutup lobang ternyata rata-rata mereka masih mampu membelinya.
Itulah rasionalitas pemilih kita yang rata rata cara berpikirnya masih sederhana. Dengan tingkat pendidikan yang mayoritas masih pas-pasan pula.
Harus diakui 32 tahun di bawah kepemimpinan Jendral Besar Soeharto dengan Orde Barunya rakyat telah dimudahkan dalam segala hal melalui politik subsidi. Walaupun semuanya hanya kamulfase.
Rakyat senantiasa merindukan segala kemudahan dalam memenuhi kebutuhan pokok masa masa itu. Rakyat tidak peduli hutang luar negeri negara kita saat ini mencapai Rp 1,700 triliun.
Rakyat juga tidak peduli kekayaan alam kita seperti tambang emas di Papua dan Migas kita dikuasai Kapitalis Asing semua, dan rakyat juga tidak mau tahu kalau banyak aset strategis kita telah diobral dengan sangat murah ke Kapitalis Asing atas nama Privatisasi.
Tetapi, yang diingat dan dipedulikan rakyat di tengah himpitan ekonomi adalah bagi-bagi uang ala bantuan langsung tunai (BLT). Dengan gaya pemerintah yang berlagak seperti Sinterklas. Sampai ini hari yang terpikir di benak rakyat kita bahwa aksi bagi-bagi uang ala BLT akan berlangsung selamanya, dan harga BBM tidak akan dinaikkan. Rakyat tidak tahu kalau program BLT telah dihentikan dan harga BBM hampir dipastikan akan dinaikkan lagi seiring naiknya harga minyak dunia.
Inilah tipologi sebagian besar rakyat kita, dan sejarah yang telah diukir, rakyat Indonesia telah memilih untuk 'melanjutkan' apa yang sudah ada. Semoga pihak-pihak yang tidak beruntung dalam pilpres ini bisa legowo dan berjiwa besar menerima kekalahan dengan lapang dada.
Apabila 5 tahun ke depan harapan rakyat Indonesia tidak sesuai kenyataan yang ada rakyat juga harus menerima dengan lapang dada bahwa inilah risiko pilihan rakyat dalam demokrasi ala Indonesia, karena penyesalan selalu datang terlambat.
Salam Indonesia Raya.
Arief Arfianto
Mutiara Regency Sidoarjo
areyix@yahoo.com
081553635744
(msh/msh)











































