Terorisme dan Fungsi Intelijen

Terorisme dan Fungsi Intelijen

- detikNews
Senin, 20 Jul 2009 16:34 WIB
Terorisme dan Fungsi Intelijen
Jakarta - Terorisme telah menjadi ketakutan dan kecemasan global. Seluruh masyarakat dunia merasakan kepanikan. Karena efek dari suatu tindakan teror tidak hanya mengena pada orang per orang. Tapi, berdampak terhadap banyak orang (negara, bangsa, hingga masyarkat dunia).Β 

Dampaknya bukan hanya kematian, kehilangan harta benda, namun yang lebih parah lagi adalah ketakutan dan kecemasan yang menghantui seluruh masyarakat. Efek dominonya akan berdampak lebih dalam lagi.

Berupa travel warning bagi bangsa-bangsa lain, penurunan investasi, kehilangan lapangan kerja, peningkatan pengangguran, penurunan pemasukan, dan kerugian Negara, kehilangan keprcayaan dunia terhadap stabilitas keamanan dan akhirnya penurunan citra bangsa yang sangat sulit untuk memperbaikinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara prinsip Terorisme didefenisikan sebagai penggunaan teror yang sistematis dengan tujuan sebagai alat kekerasan. Secara umum Terorisme diartikan hanya merujuk kepada mereka yang melakukan perbuatan yang ditujukan untuk menciptakan rasa takut (teror).

Dalam sejarahnya Teroris cenderung lebih didorong oleh keinginan untuk solidaritas sosial dengan kelompok lain dari mereka oleh organisasi dari platform ideology berbeda. Baru-baru ini kita dikagetkan oleh terjadinnya terror yang berulang. Berupa Bom bunuh diri.

Masih terang dalam ingatan kita kejadian lima tahun yang lalu di tempat yang sama (Hotel JW Mariott dan Ritz Carlton), dan beberapa tempat di Jakarta, Bali, Makassar, dan lain-lain.

Seharusnya kejadian masa lalu tersebut dapat dijadikan pelajaran supaya kejadian ini tidak berulang lagi. Seharusnya tindakan pencegahan dapat dilakukan oleh Badan Inteligen Negara untuk melindungi masyarakat dari kejadian yang berulang ini.

Sebagai bahan perbandingan selayaknya pemerintah Indonesia banyak belajar dengan sistem Jepang dan Amerika. Kedua negara tersebut memiliki dua perangkat utama yang bisa dicontoh yaitu organisasi intelijen dan kecanggihan teknologi.

Japan Intelligence Security (JIS) dan Central Intelligence Agency (CIA) Amerika Serikat secara kedua organisasi ini telah berupaya melakuakan tindakan pencegahan terhadap berbagai teror yang kemungkinan akan terjadi.

Kedua badan intelijen ini juga bekerja sangat profesional dengan kerja sama lintas sektoral seperti: [Office of Strategic Services (OSS), Federal Bureau of Investigation (FBI),Β  Analyses Strategy Intelligence Comprehensives (ASIC), The Uniform Crime Reports (UCR))]secara akurat dan didukung oleh kecanggihan teknologi dan peran serta seluruh masyarakatnya. Dengan menyiapkan jalur khusus bagi pelapor atau bagi masyrakat yang mencurigai akan adanya aksi teror.

Tujuan utama kegitan intelejin tetunya difokuskan pada tindakan pencegahan.
Selanjutnya informasi yang didapatkan dapat segera diserahkan ke pihak lebih yang berwajib seperti kepolisian negara untuk segera dilakukan tindakan pencegahan.

Bangsa kita telah memiliki Sishankamrata (Sisitem Pertahanan Rakyat Semesta) sudah saat lebih diaktualkan kembali dan diperkuat dengan sarana dan prasara yang lebih canggih. Berdasarkan kejadian ini sudah saatnya organisasi inteljen negara diperkuat dengan kerja sama seluruh masyrakat ditambah pengembangan kecangihan teknologi dan fasilitas petugas.

Saatnya seluruh tumpah darah indonesia bersatu padu melawan kejahatan kemanusiaan dan terorisme.

Dr Taruna Ikrar
University of California Los Angeles
tikrar@uci.edu
+19493023064

Postdoctoral Scholar, University of California, School of Medicine, Irvine, USA
President Center For Interregional Study (CFIS).



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads