Jalan Baru untuk Indonesia

Jalan Baru untuk Indonesia

- detikNews
Kamis, 16 Jul 2009 10:51 WIB
Jalan Baru untuk Indonesia
Jakarta - Pada saat ini kebanyakan rakyat Indonesia belum sejahtera. Belum lagi banyak rakyatnya yang menghadapi persoalan-persoalan seperti kasus TKI yang dianiaya majikannya.

Seperti apa yang menimpa Siti Hajar (33 th) TKI di Malaysia asal Limbangan Garut Jabar. Terluka parah akibat disiram air panas dan dipukuli oleh majikannya. Masih banyak kasus TKI lain yang tidak kalah memilukan. Ada juga kasus Prita Mulyasari yang ditahan karena mengeluhkan pelayanan yang kurang baik dari RS Omni Internasional Alam Sutra Serpong.

Serta masih banyak permasalahan-permasalahan lain baik menyangkut rakyat sebagai WNI maupun permasalahan-permasalahan di lembaga-lembaga pemerintah. Seperti minimnya anggaran untuk Alutsista yang menyebabkan beberapa pesawat heli jatuh dan menelan beberapa korban jiwa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sungguh sangat menyedihkan. Kepedulian penguasa dan elit politik hanya bersifat musiman. Rakyat hanya diperhatikan menjelang pemilu dan pilpres. Ironisnya, derita rakyat sekedar dieksploitasi ramai-ramai untuk mendongkrak popularitas dan perolehan suara di pilpres 2009.

Lebih dari setengah abad Indonesia merdeka dari penjajahan fisik. Namun, hingga kini mayoritas rakyatnya tidak hidup dalam kebaikan. Kebanyakan mereka miskin, bodoh, dan teraniaya. Padahal Indonesia memiliki potensi sumber daya pertanian, kekayaan mineral yang sangat melimpah, serta SDM terbesar ke-4 Dunia.

Sejak Indonesia merdeka diterapkanlah sekularisme dalam mengatur negeri ini. Dengan kebebasan-kebebasan yang ada pada sistem ini telah memberikan dampak negatif dalam tatanan kehidupan manusia. Seperti misalnya kebebasan bertingkah laku.

Orang diberikan kebebasan yang sangat luas dalam hal tingkah laku. Sekali pun termasuk pornoaksi/ pornografi sehingga dampaknya bisa dirasakan saat ini. Kerusakan moral masyarakat, seks bebas, banyak anak remaja hamil di luar nikah. Kebebasan kepemilikan, siapa pun boleh memiliki apa saja termasuk Sumber Daya Alam (SDA), asalkan memiliki modal padahal pada hakikatnya SDA itu adalah milik seluruh rakyat.

Bandingkan dengan apa yang terjadi di era pemerintahan Umar Bin Abdul Aziz (717-720 M - Sejarah Kekhilafahan Islam). Pada saat itu rakyatnya sejahtera. Tidak ada kemiskinan. Tiada satu orang pun yang layak untuk menerima zakat. Kemudian dana zakat digunakan untuk membebaskan budak di Eropa.

Atau masa Khilafah Mu'tasim Billah (833-842 M), Khalifah mengerahkan pasukan perang untuk membebaskan dan menyelamatkan seorang perempuan yang ditawan oleh Romawi. Dan, pada masa Khilafah Murad III (1574-1595 M) Polonia negeri non Islam memilih untuk tinggal di bawah perlindungan Khilafah Islam.

Itulah sedikit gambaran betapa ketika Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan termasuk dalam pemerintahan. Terbukti dapat menyelesaikan seluruh permasalahan kehidupan manusia. Manusia disejahterakan tanpa memandang suku, ras, dan agama. Dan, hal ini terbukti selama 13 abad lamanya Kekhilafahan Islam bisa bertahan.

Tidakkah Indonesia ingin menjadi negara yang kuat, maju, dan berkembang sehingga dapat menyelesaikan krisis multidimensi dan memberikan kesejahteraan yang hakiki bagi seluruh rakyatnya. Saatnya Indonesia mengganti sistem pemerintahan yang ada dengan Sistim Khilafah.

Nadhiya Hanifah
Jl Supratman Bandung
hore_enak@yahoo.com
02272770278



(msh/msh)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads