Kenaikan harga BBM yang pernah mencapai pada level US$ 120/barel yang merupakan level tertinggi sepanjang sejarah di satu sisi, dan di sisi lain kebutuhan masyarakat akan minyak serta lemahnya kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar merupakan kenyataan pahit yang telah terjadi dan menimbulkan definisi tersendiri atas ketidaksanggupan suatu sistem yang menjadi asas dasar dari kemajuan suatu negara untuk menjadi penengah dan solusi atas kemerosotan ekonomi.
Selain faktor-faktor global yang harus diantisipasi akan tetapi juga sistem dan konsep pembangunan di masing-masing negara juga perlu diperbaiki. Apa yang dialami Indonesia pada tahun 1997 dan krisis multidimensi yang tidak terbendung merupakan konsekuensi logis dari penerapan sistem pertumbuhan ekonomi yang dijalankan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keadaan yang terjadi sekarang akan memunculkan sentimen regional, kritik, dan keresahan sosial akan selalu menjadi penghalang atas perbaikan-perbaikan ke depan. Akan tetapi, reformasi yang didengungkan sampai saat ini belum juga memberikan perbaikan yang signifikan terhadap masalah bangsa. Justru malah mengembalikan dan melanggengkan pada persoalan-persoalan klasik seperti di atas.
Yang tidak terelakan lagi adalah kapitalisme internasional saat ini telah mencengkram kuat, mendominasi, dan mengendalikan negara-negara di dunia. Seperti apa yang disampaikan Prof Dr Ir Saul Lemkowitz yang menjadi kunci pada perhelatan ilmiah pelajar dan profesional Indonesian Scientific Meeting 2008 (ISSM 2008) di Delft University of Technology (TU Delft) yang bertema "Sustainable Development in Indonesia: An Interdiciplinary approach", bahwa kapitalisme internasional merupakan salah satu faktor yang menyebabkan peradaban Barat menjadi dominan. Selain faktor lainnya seperti sains dan teknologi.
Lebih lanjut Lemkowitz menyebutkan bahwa kapitalisme itu diikuti penaklukan, kolonialisasi, perbudakan, ekspoitasi, perpindahan ekses populasi, serta genosida khususnya di Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Australia. Lebih lanjut diterangkan bahwa dominansi peradaban Barat hingga 2000, sebelum kebangkitan Cina modern yang begitu cepat.
Dominansi itu meliputi penguasaan dan pengoperasian sistem perbankan internasional. Mengontrol semua valuta keras, menguasai pasar modal internal, dan menebarkan pengaruh kebudayaan dengan penuh perhitungan dengan berbagai komunitas.
Di samping itu juga mereka kuasa melakukan intervensi militer secara masif, mengontrol jalur-jalur pelayaran, mengendalikan sebagian besar riset-riset ilmiah dan teknik pengembangan canggih. Kemudian mengontrol teknik pendidikan unggulan, mendominasi industri dirgantara dan akses ke ruang angkasa, mendominasi komunikasi internasional, serta mendominasi industri persenjataan hi-tech.
Dalam hal ini, peran dan sepak terjang Indonesia di kancah dunia internasional serta kebijakan yang diambil atas kondisi yang dihadapi tetap menjadi pertaruhan dalam membawa nasib dan masa depan bangsa dan negara. Maka dari itu perlunya peran dan sumbangsih para generasi bangsa yang akan datang agar dapat menstabilkan keadaan yang telah semrawut ini ke arah kemajuan dan perkembangan.
Elvan Syaputra
Institut Studi Islam Darussalam Gontor Ponorogo
elvansyaputra@gmail.com
085267354065
(msh/msh)











































