Sungguh Malang Nasibmu Wahai Babi

Sungguh Malang Nasibmu Wahai Babi

- detikNews
Jumat, 10 Jul 2009 10:56 WIB
Sungguh Malang Nasibmu Wahai Babi
Jakarta - Lagi-lagi Babi dituduh sebagai dalang penyebaran penyakit. Kali ini penyakitnya adalah influenza H1N1 pada manusia yang saat ini dilaporkan di banyak Negara.

Sebuah surat elaktronik dari seorang sahabat yang bekerja di pemerintahan mengatakan di Indonesia ada kelompok orang yang ingin melakukan sweeping ke restoran-restoran penjual daging Babi. Ada juga kelompok yang ingin membatasi bahkan menutup peternakan Babi yang ada. Bahkan pemerintah Indonesia juga menutup impor daging Babi dan produk asal Babi ke Indonesia. Terkadang di lapangan masayarakat kita sering bertindak berlebihan.

Saya jadi teringat waktu pengalaman kasus Avian Influenza/Flu Burung pertama kali ada di Indonesia. Waktu itu karena dikhawatirkan Babi bisa jadi mixing vessel (tempat virus dari manusia dan unggas atau flu burung bercampur di mana material genetik virus dapat dipertukarkan/mutasi genetik sehingga membuat virus yg ganas terhadap manusia).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beberapa ekor Babi terpaksa dimusnahkan di Tangerang. Padahal hasil pemeriksaan Laboratorium Veteriner hanya beberapa yang positif dan sampai sekarang pun peran Babi sebagai mixing vessel masih belum jelas meskipun secara teori memang sangat memungkinkan. Bisa jadi di lapangan hal ini terulang lagi dan mungkin diperparah dengan masyarakat yang ingin melakukan sweeping restoran penjual daging Babi itu.

Status Halal Haram Babi
Mungkin perlu kita perlu membedakan ketika kita berbicara masalah penyakit dan ketika kita bicara masalah status halal-haram sesuatu (dalam hal ini Babi). Kelompok orang yang ingin melakukan sweeping restoran yang menjual daging Babi mungkin punya background pemikiran status Babi yang haram di belakangnya (selain ketidaktahuan).

Status haram yang melekat pada Babi ini sering kali dijadikan pembenaran untuk
membunuh dan memusnahkan hewan ini. Selama kita masih menggabungkan konteks penyakit dengan halal-haram tanpa kita sadari bisa jadi kita berlaku tidak adil terhadap Babi yang notabene adalah mahluk Allah SWT juga.

Tidak ada yang tahu pasti latar belakang mengapa Babi diharamkan untuk orang Islam. Kita hanya mereka-reka dan berasumsi. Masalah penyakit yang ada di Babi ini menjadi salah satu alasannya. Dengan semakin canggihnya ilmu kedokteran hewan saat ini apabila semua penyakit hewan yang ada di Babi bisa dihilangkan, apakah kemudian menjadikan statusnya Halal? Tentu saja tidak.Β 

Kalau kita melihat kisah tentang Adam dan Hawa yang dilarang untuk memakan buah khuldi. Allah SWT tidak memberikan alasan kenapa Adam dan Hawa dilarang untuk memakannya, dan hal ini tidak membuat Adam berlaku tidak adil terhadap pohon khuldi dengan menebangnya misalnya.Β 

Hal ini juga yang mungkin menyebabkan lebih dari 300.000 ekor Babi dimusnahkan di bagian utara Kairo Mesir 29 April 2009 lalu. Ratusan peternak babi mencoba melakukan penghadangan terhadap buldoser dan petugas dari Health Ministry Mesir yang akan melakukan eliminasi total ternak Babi di wilayah tersebut.

Namun, usaha mereka sia-sia. Petugas akhirnya mengeliminasi babi yang mereka miliki. Alasan pencegahan dikeluarkan sebagai latar belakang eliminasi ini, tapi H1N1 menyebar di manusia bukan di hewannya dan bahkan tidak ada di Mesir.

Kurangnya Pengetahuan
Kurangnya pengetahuan masyarakat sering kali juga menjadi latar belakang juga sehingga melakukan tindakan yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Terkadang malah tidak manusiawi. Masih terasa sedihnya saat warga sebuah desa di Sumatera Utara mengusir 2 anak yatim piatu yang berasal dari orang tua yang terinfeksi HIV.Β 

Dengan bangga seluruh warga mengusir mereka dan bahkan hampir membiarkan salah seorang meninggal. Semua karena kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap penyakit HIV.

Begitu juga yang akan terjadi terhadap Babi, dan juga peternak babi kalau kita tidak memberikan pengetahuan tentang penyakit H1N1 ini. Oleh karena itu mungkin ada baiknya kita sedikit mengulas tentang si virus. Kalau kita lihat sifat virusnya sendiri dia tidak ditularkan lewat makanan. Virus ini menular dari manusia ke manusia.

Seperti halnya flu yang biasa menyerang kita pada saat pergantian musim misalnya. Dan, belum ada bukti kuat bahwa virus ini berasal dari Babi. Pasien yang diidentifikasi Flu Babi di Meksiko dan Amerika Serikat juga kebanyakan anak-anak dan tidak seorang pun pernah memiliki riwayat kontak dengan Babi.

Secara epidemiologis mungkin kejadian H1N1 yang terjadi pada manusia inimungkin terjadi secara paralel dengan H1N1 yg ada di Babi, artinya masing masing tidak saling berhubungan. Meskipun beberapa ilmuwan mengatakan virus H1N1 yang menyerang manusia di Mexico dan beberapa Negara lainnya juga mengandung materi genetic dari hewan (Babi dan unggas-tidak hanya Babi).

H1N1 ini merupakan influenzavirus tipe A. Bisa ditemukan di hewan maupun di manusia. Sifat virusnya sendiri labil. Mudah sekali mati oleh pemanasan. Bahan kimia serta ultra violet. Seperti disebutkan diatas virus ini tidak menular lewat makanan. Jadi, aman mengkonsumsi daging Babi (bagi yang boleh) asal dimasak dengan benar. Pemanasan di atas 70 derajat cukup untuk membunuh virus ini.

Di Babi sendiri penyakit ini merupakan penyakit yang umum ditemukan pada peternakan Babi dan penyebarannya sudah meluas. Virus influenza diketahui secara reguler bersirkulasi pada populasi Babi di seluruh dunia, dan yang paling banyak ditemukan yaitu subtipe H1N1, H3N2, H1N2, dan H1N3.Β 

Gejala klinis flu Babi sama halnya seperti gejala flu pada manusia. Akan tetapi sifatnya lebih ringan. Ditandai dengan demam akut, gangguan pernapasan, batuk, dan keluarnya cairan dari hidung. Pada banyak kasus Babi tidak menunjukkan gejala sakit.Β 

Sampai saat ini tidak ada obat yang benar-benar efektif untuk H1N1. Saat ini yang digunakan sekarang cuma antiviral. Di indonesia dikenal Tamiflu salah satunya. Sementara vaksin belum diketahui efektivitasnya dalam mencegah H1N1 strain baru ini. Terbaik adalah menjaga kondisi kesehatan kita dan menjaga kebersihan saja. Seperti hal yang sederhana yaitu cuci tangan.

Penguatan Kelembagaan
Setelah Leptospirosis, Toxoplasma, Anthraks, Rabies, kemudian Flu Burung, dan sekarang Flu H1N1 masihkah kita akan menganggap sebelah mata pentingnya kelembagaan yang menangani kesehatan hewan. Kalau dibuat daftar penyakit yang bersifat zoonosis (bisa ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya), ada lebih dari 150 penyakit.

Tanpa kelembagaan yang kuat mampukah kita menanggulangi semua ancaman penyakit zoonosis itu. Padahal kita lihat banyak sekali penyakit-penyakit yang apabila penanganannya pada hewan tidak dilaksanakan dengan benar akan menimbulkan dampak yang hebat pada manusia.

Kelembagaan baik di pusat maupun di daerah sangat dibutuhkan untuk mulai menata
kembali sistem kesehatan hewan dan peternakan. Penentuan kawasan khusus peternakan misalnya di setiap daerah perlu dilakukan untuk mengurangi risiko apabila ada penularan penyakit dari hewan ternak ke manusia.Β 

Pengawasan seluruh peternakan yang ada sehingga aman baik untuk manusia, hewan juga lingkungan. Pengawasan produk asal hewan yang cukup sehingga aman dikonsumsi oleh masyarakat. Peningkatan kualitas masyarakat dan kesadaran akan bahaya penyakit-penyakit ini yang juga perlu terus dibangun dan lain sebagainya.

Ke depan masalah penyakit hewan ini akan semakin berat. Seperti halnya manusia dengan kondisi alam dan lingkungan yang berubah agen penyakit ini juga berkembang dan berubah. Dulu mungkin tidak ada bakteri yang tahan terhadap antibiotika sekarang banyak ditemukan.

Dulu mungkin H1N1 hanya flu biasa saja. Sekarang lebih ganas karena mutasi gen. Dulu belum pernah ada protein yang bersifat infeksius. Sekarang ada Sapi Gila (Madcow/BSE) yang disebabkan oleh protein yang bersifat infeksius pada sapi dan bisa menyerang manusia juga. Bisa dibayangkan nanti ke depannya seperti apa tantangan dari penyakit penyakit ini.

Drh. MM. (Andi) Hidayat *
* Mahasiswa Master Veterinary Epidemiology and Economic Utrecht University
* Staff Fungsional Medik Veteriner Direktorat Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian

Saat ini tinggal di:
Bergweg 47 3707 AA Zeist, The Netherlands
+31643568852
mm.hidayat.andi@gmail.com



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads