Kesantunan Kampanye

Kesantunan Kampanye

- detikNews
Sabtu, 04 Jul 2009 17:09 WIB
Kesantunan Kampanye
Jakarta - Ajang kampanye pemilu pemilihan presiden (pilpres) tahun ini banyak perbedaan mendasar daripada pemilu tahun 2004. Media massa sebagai fasilitator kampanye banyak menurunkan berita yang tidak berimbang bagi 3 pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (capres cawapres).

Saya mengamati semua tulisan bernada kampanye dalam media cetak maupun media cyber. Sangat mencolok. Didominasi atau bolehlah kita sebut 'dikuasai' salah satu pasangan capres incumbent.

Media boleh saja mengeruk keuntungan 'mumpung' untuk mendapatkan sebesar-besarnya pemasukan uang. Namun, seharusnya kejujuran tetap sebagai barometer ketimbang keuntungan. Memang, tidak ada iklan yang tak bertujuan menguntungkan dan menarik minat. Tapi, kita harus ingat bahwa bangsa ini telah sesak nafas dengan segala kebohongan. Kini tiba giliran memasukkan nafas 'kejujuran'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Banyaknya gambar dan tulisan kampanye salah satu capres sangat naif dan penuh kemunafikan. Mereka yang menamakan diri team sukses --team sukses sebenarnya telah banyak melakukan kebohongan. Contoh dalam pamflet dan billboard salah satu capres ditulis 'telah berhasil swasembada pangan, telah berhasil membayar hutang IMF, dan lain-lain'. Terdengar arogan dan penuh kebohongan.

Mereka tidak sadar kalau pun benar demikian adalah karena rakyat yang berjasa. Sebabnya rakyat Indonesia adalah orang-orang yang taat membayar pajak. Justru para pejabat dan pengusaha yang kebanyakan pengemplang pajak terbesar. Betapa tidak adilnya mereka. Demi memenangkan kursi bagi calon prsidennya mereka melakukan cara-cara kobohongan.

Gembar-gembor kampanye santun hanya lips servis belaka. Lihatlah cara-cara salah seorang juru bicara team sukses yang juga seorang pengacara jika menjawab pertanyaan wartawan tentang capres lainnya maka jawabannya sangat arogan dan penuh nada penghinaan. Apakah ini yang dinamakan kampanye santun. Saya pribadi tidak heran melihat sikap-sikap santun yang banyak dijadikan 'topeng' oleh para politikus karena kesantunan yang terlihat hanya 'basa basi'.

Kesantunan, kini banyak dimanipulasi oleh orang-orang yang ingin mendapat apa yang diinginkannya. Banyaknya nilai-nilai etika yang palsu yang hanya polesan sekolah kepribadian telah menghipnotis rakyat sehingga rakyat menjadi mabuk pesona. Hingga rakyat kebanyakan lupa bahwa sejatinya pemilu bukan hanya memilih tampilan luar dari ketampanan, kecantikan, kekayaan; ingat kita membeli isi bukan bungkus!

Artinya rakyat harusnya pintar untuk dapat mengkalkulasi keberhasilan dan kegagalan bangsa selama ini. Jika bangsa masih saja dalam keterpurukan sosial, ekonomi, budaya, berarti para pemimpin dan pejabat pengelola negara masih belum sepenuh jiwa raga memikirkan kepentingan rakyat.

Pemilu yang sebentar lagi dilaksanakan adalah sebuah tonggak sejarah bangsa ke depan. Seyogyanya masyarakat pemilih jangan 'asal' mencontreng seperti memilih artis favorit. Tetapi, pilihlah pemimpin berdasarkan penelitian secara benar dan teliti dengan fakta yang kita rasakan. Hilangkan ego dan penilaian kasat mata karena kita bisa tertipu kulit luar. Bukalah mata hati agar lebih jernih menentukan pilihan. Selamat memilih presiden dan pemimpin.Β Β 

Widya Mukti
Ketua Komunitas "Suara Revolusi (Moral)", Pemerhati Masalah Sosial dan Hukum.


(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads