Kepemimpinan Profetik

Kepemimpinan Profetik

- detikNews
Jumat, 03 Jul 2009 10:23 WIB
Kepemimpinan Profetik
Jakarta - Pemimpin adalah pelayan bagi rakyatnya. Pemimpin bukanlah seseorang yang dengan kekuasaan dan kewenangan yang dimilikinya lantas menelantarkan rakyat yang dipimpinnya. Atau bahkan menjerumuskan umat manusia pada kehancuran.

Seperti yang Rasulullah Saw sampaikan dalam sebuah hadis: "dua dari golonganku yang apabila mereka baik maka baik semua manusia dan apabila mereka buruk maka buruklah semua manusia; mereka itu adalah Ulama dan Umaro.

Umaro didefinisikan secara sederhana sebagai pemimpin. Namun, dalam konteks ini saya ingin mengatakan bahwa Umaro tidak selalu disimbolkan sebagai individu. Tapi, sebagai sebuah sistem pemerintahan. Hal ini berangkat dari pemikiran bahwa pemimpin dan kepemimpinan itu sendiri merupakan sistem integral yang saling terkait dengan sub-sistem pendukung lainnya untuk menyejahterakan rakyat yang dipimpinnya.
Β 
Kewajiban Pemimpin
Sebagai seseorang yang diberikan kewenangan dan kekuasaan yang besar setiap kepala negara atau pemerintahan memiliki kewajiban untuk menjalankan kekuasaan yang diterima dari masyarakatnya. Dan, kekuasaan yang diperolehnya itu adalah semata-mata untuk menciptakan kemaslahatan bagi setiap orang dan menolak setiap kemudharatan yang berpotensi tercipta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berangkat dari paradigma tersebut pemimpin yang dipilih oleh rakyatnya untuk mengantarkan mereka kepada gerbang kesejahteraan sudah sepantasnya menjalankan amanah yang diberikan dengan sebaik mungkin. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dari Ma'qal bin Yasar dikatakan bahwa "barang siapa yang diberi kekuasaan atas urusan kaum Muslimin kemudian dia tidak bersungguh-sungguh dan tidak memberi nasihat kepada mereka maka sesungguhnya surga haram baginya", sangat relevan dalam kondisi yang demikian.

Kriteria Pemimpin
Banyak pemimpin yang kemudian terlena dengan kekuasaan dan kewenangan yang dimilikinya. Hingga ia lupa dengan tugas pokoknya dalam melakukan pelayanan dan pengabdian. Alih-alih demikian mereka justru membawa kehancuran dan kerusakan di muka bumi ini.

Untuk menyebut beberapa nama seperti Adolf Hitler, Benito Mussolini, George W Bush, adalah sosok-sosok pemimpin yang dipilih oleh rakyatnya secara demokratis. Namun, membawa negara yang dipimpinnya pada kehancuran dan kenistaan yang dalam. Melihat pengalaman tersebut maka kita tidak boleh bergantung pada proses demokrasi semata. Namun, mencurahkan upaya pada pembentukan karakter pemimpin yang memiliki kriteria-kriteria kenabian.

Agar tidak salah dalam memilih pemimpin maka ada tiga kriteria yang dapat dijadikan tuntunan dalam memilih pemimpin. Kriteria pertama adalah afdhaliyah yaitu keutamaan atau keunggulan. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki keunggulan dibandingkan yang lain. Meski pemimpin merupakan suatu sistem namun tidak dapat dielakkan bahwa jika memiliki keunggulan dibanding yang lain akan membawa keuntungan tersendiri dibandingkan pemimpin yang tidak memiliki.

Kriteria kedua adalah alyaqiyah atau kelayakan. Kelayakan di sini tidak terbatas pada layak secara jasadiyah semata. Namun, juga pada aspek mental, kedewasaan, ilmu yang mumpuni dan pengalaman. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dididik dan berjuang dari tingkat bawah hingga ia diangkat oleh kaumnya sebagai pemimpin. Pemimpin yang seperti ini tentu memiliki kelayakan tersendiri ketimbang pemimpin yang hanya mengandalkan kharisma atau pengaruh semu semata.

Dan, kriteria terakhir adalah aslahiyah atau kemaslahatan, yang berarti menjadi sosok pemimpin haruslah membawa keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan. Sering kali terjadi dalam proses pemilihan pemimpin terjadi sengketa dan konflik berkepanjangan yang justru menegasikan kepentingan rakyatnya yang lebih besar. Dari sini sosok pemimpin yang baik mampu mengatur konflik tersebut hingga tidak merambat kepada kehancuran yang lebih luas.

Sifat Pemimpin
Selain kriteria memilih yang di atas seorang pemimpin dituntut untuk memiliki 4
sifat utama, yaitu Siddiq (benar), Amanah (komitmen), Tabligh (komunikatif), dan Fathonah (cerdas). Seorang pemimpin yang baik agar berhasil tidak hanya di dunia namun di akhirat kelak nanti, perlu menguasai dan menjalankan keempat sifat tersebut dengan konsisten. Dalam konteks ketatanegaraan dan kepemerintahan Indonesia presiden perlu mempraktekkan keempat sifat tersebut secara paripurna.

Sifat pertama, Siddiq, maka presiden harus mampu menguasai dan menginterpretasikan peraturan perundang-undangan yang ada di Indonesia secara penuh. Ia haruslah cerdas dalam memahami peraturan-peraturan tersebut. Hal ini penting karena akan sangat fatal akibatnya apabila seorang pemimpin tidak menguasai UUD 1945 dan turunannya dengan baik sebagai tuntunannya dalam memerintah.

Fathonah, berarti presiden menjalankan peraturan perundang-undangan dengan baik dan konsisten. Tentu sangat berbahaya apabila seorang presiden tidak menjalankan peraturan tersebut secara baik. Kemudian setelah presiden menguasai dan mampu menginterpretasikan undang-undang dengan baik lalu menjalankannya secara konsisten maka presiden perlu mensosialisasikan dan mengumumkan peraturan-peraturan tersebut kepada masyarakatnya. Tentu dengan begini negara akan tertata rapih karena setiap lapis masyarakat mulai dari pemimpin di atas hingga masyarakat di bawah menguasai dan menjalankan peraturan yang disusun dengan konsisten.

Namun, itu semua tidak cukup. Bagi seorang pemimpin memiliki visi panjang harus mempraktekkan sifat yang terakhir yaitu Amanah. Pemimpin harus berkomitmen dan tidak mengkhianati apa yang dikuasai, dipraktekkan, dan diumumkan kepada yang lain. Kepercayaan itu sendiri adalah modal sosial yang utama dan terpenting dalam menjalankan pemerintahan yang baik.

Pemilihan Pemimpin
Pemilihan presiden yang sebentar lagi akan dijalankan oleh bangsa Indonesia menjadi ujian tersendiri sebagai satu bangsa dan satu negara. Ujian itu harus dilalui oleh kita semua secara bersama-sama.

Tiga kriteria dan empat sifat pemimpin utama yang telah saya singgung sebelumnya dapat dijadikan salah satu referensi kita bersama, selain referensi yang lain, dalam kita memilih pemimpin Indonesia untuk 5 tahun ke depan. Referensi tersebut agar kita masing-masing sebagai warga negara tidak salah dalam memilih pemimpinnya.

Memilih pemimpin itu sendiri adalah sebuah kewajiban kita bersama. Seperti yang tercantum dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Baihaqi, "Barang siapa yang mengangkat seseorang menjadi pemimpin kalangan muslimin dan dia tahu bahwa ada orang lain yang lebih utama daripada yang diangkatnya, maka dia telah berkhianat kepada Allah SWT, Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukminin".

Dan, tentu dari pemilihan presiden kita berharap akan menciptakan sosok pemimpin yang takut pada Allah SWT, cinta pada Rasul-Nya, dan berkomitmen kepada kesejahteraan rakyatnya. Semoga.

HM Aksa Sanjaya
Jl Tebet barat I 1 Jakarta selatan
hammas969@yahoo.co.id
081399000033



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads