Wanitalah yang Mencetak Generasi-generasi Unggul

Wanitalah yang Mencetak Generasi-generasi Unggul

- detikNews
Senin, 29 Jun 2009 09:27 WIB
Wanitalah yang Mencetak Generasi-generasi Unggul
Jakarta - Seorang penyanyi dangdut, Cici Paramida, mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Siti Khajar, TKI asal Garut, terluka parah akibat siraman air panas dan dipukuli majikannya. Nurul Widayanti, TKI asal Ngawi, tewas gantung diri di rumah majikannya.

Peristiwa-peristiwa ini membuat gerakan-gerakan yang mengatasnamakan perempuan semakin marak. Dengan mengklaim memperjuangkan emansipasi wanita, yang dulu pernah diperjuangkan oleh RA Kartini, mereka menggugat berbagai hal yang dirasa mendiskriminasikan wanita dari berbagai segi.

Misalnya, mereka mengatakan bahwa seorang wanita dilabelkan sebagai ibu rumah tangga saja. Wanita mempunyai kewajiban mengurus anak dan suami di rumah. Ketika wanita juga bekerja di lingkup publik dia juga masih dituntut untuk tetap bertanggung jawab pada keluarganya sehingga yang ada adalah terjadi kegamangan terhadap perempuan yang bekerja di lingkup publik dengan tetap masih menjalankan fungsinya tadi di lingkup rumah tangganya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka menggambarkan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah manifestasi dari hubungan kekuasaan antara pria dan wanita yang tidak seimbang sepanjang sejarah. Sehingga menyebabkan dominasi dan diskriminasi terhadap perempuan serta menghalangi kemajuan perempuan.

Yang tidak dapat dimengerti mereka menyoroti hukum-hukum Islam yang mereka anggap merendahkan wanita. Misal, poligami, hukum waris, melakukan segala sesuatu dengan izin suami, bepergian harus dengan muhrim, dan hukum-hukum lainnya.

Bagi mereka hal ini menghambat keproduktifan wanita. Tidak cukup hanya mengugat. Mereka merekontruksi nash-nash Al Quran yang mereka anggap tidak sesuai dengan kesetaraan yang mereka perjuangkan.

Padahal, semua orang tahu, bahwa saat ini bukanlah hukum-hukum Islam yang diterapkan negara kita, sehingga membuat banyaknya kekerasan terhadap wanita. Tidak dapat dipungkiri perjuangan mereka jauh dari perjuangan Kartini yang saat itu memperjuangkan harkat martabat wanita dan bukan menggugat dan menghukumi hukum-hukum Islam.

Berbagai upaya mereka lakukan agar ide keadilan dan kesetaraan gender ini diadopsi masyarakat luas. Maka, ide ini dibungkus rapi sebagai sebuah ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Dalam penyajiannya mereka "melogikakan" liberalisasi hukum Islam. Inilah racun-racun yang mereka sebar dan dibungkus dengan madu untuk menyerang Islam.

Feminisme sesungguhnya dijadikan alat penjajahan negara-negara barat yang tidak menginginkan bangkitnya peradaban Islam. Mereka menjadikan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) sebagai lembaga untuk melancarkan aksi-aksi mereka. Ide-ide feminis menjadi isu globlal sejak PBB mencanangkan Dasawarsa I untuk perempuan pada tahun 1975-1985.

Sejak itu isu perempuan menjadi wabah internasional. Digelarnya berbagai konferensi kesetaraan gender. Hadirlah feminis-feminis muslimah seperti Amina Wadud, Myra Diarsi, Riffat Hassan, serta wanita-wanita muslim lainnya.

Perempuan Mulia dengan Islam

Kira-kira 200 tahun lalu makhluk yang bernama wanita selalu ditempatkan pada tempat yang teramat rendah oleh kaum laki-laki. Peristiwa ini terjadi di berbagai belahan bumi.

Di India, seorang wanita tidak mempunyai hak hidup saat ditinggal mati suaminya. Jadi, ia harus dibakar hidup-hidup bersama suaminya. Di Arab, seorang wanita diletakkan pada derajat yang lebih rendah dari binatang. Hak-haknya dihapus. Di Yahudi, wanita dipandang sebagai salah satu pintu jahannam.

Pada tahun 611 Masehi barulah pembebasan kaum wanita dari segala penderitaan dan kehinaan dimulai. Pelopornya bukanlah seorang perempuan melainkan seorang laki-laki bernama Muhammad. Berbekal petunjuk Allah SWT Muhammad berusaha mengangkat posisi wanita pada tingkat kemuliaan yang tiada tara.

"Surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu", sabda Rasulullah SAW ini mengindikasikan bahwa posisi ibu (yang berarti seorang perempuan) adalah salah satu penentu dalam meraih surga. Karena dalam Islam, kedudukan pria dan wanita adalah sama.

"Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan pula kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan" (An Nahl: 97).

"Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatan, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut asma Allah, allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar" (Al Ahzab 35).

Hanya saja, wanita dan pria mempunyai peranan yang berbeda. Keduanya memang saling melengkapi. Wanita dan pria mempunyai peranan yang sama pentingnya dalam membangun tatanan kehidupan. Pria diwajibkan mencari nafkah. Dengan demikian pria dituntut aktif di sektor publik. Sementara wanita menjadi penentu tumbuh berkembangnya satu generasi.

Wanitalah yang mencetak generasi-generasi unggul. Bukankah ini peran yang teramat penting. Islam sangat menjaga kehormatan wanita sehingga wanita diperlakukan sebagai makhluk yang patut dijaga. Peradaban pun terus berkembang dengan menjadikan Islam sebagai landasan yang hakiki.

Begitulah. Selama kurang lebih 13 abad perempuan dijunjung tinggi oleh Islam. Hingga akhirnya pada awal abad ke-13, kemuliaan itu pelan-pelan memudar, seiring dengan peradaban, sains, dan teknologi yang ditawarkan oleh Gerakan Revolusi Industri.

Pada abad ke-19, muncul benih-benih yang dikenal dengan feminisme yang kemudian terhimpun dalam wadah Women & Liberation (Gerakan Pembebasan Wanita). Pada akhirnya, saat ini gerakan pembebasan wanita dengan konsep kesetaraan gender justru membuat wanita menentang segala fitrahnya. Membuat wanita harus berjuang keras menghidupi dirinya sendiri.

Kekerasan-kekerasan yang terjadi pada wanita adalah buah dari tidak diterapkannya hukum Islam. Inilah permasalahan yang sesungguhnya sehingga membuat wanita (tenaga kerja wanita, TKW) harus mencari nafkah. Padahal tidak ada kewajiban untuk itu dalam Islam.

Jika suaminya tidak sanggup lagi memberi nafkah, yang wajib memberi nafkah adalah saudara Muslim lainnya (ayah, paman, kakek, dan lain-lain). Kekerasan rumah tangga terjadi akibat Islam tidak dijadikan landasan ketika membina rumah tangga.

Telah tercatat dalam sejarah, bahwa Islam sangat memuliakan perempuan. Ketika itu, pemerintahan Khalifah Mu'tasim Billah, ada seorang wanita yang tersingkap roknya. Sang khalifah menurunkan pasukan yang panjangnya dari ujung Baghdad yang satu ke ujung Baghdad yang lainnya.

Saat ini, ketika bukan hukum Islam yang diterapkan, beribu-ribu wanita dilecehkan, tidak ada tindakan untuk mengentaskan itu semua. Jadi jelas sudah, setiap permasalahan yang ada saat ini baik perempuan maupun laki-laki adalah buah dari tidak diterapkannya aturan Islam secara kaffah.

Sangat salah ketika Islam menjadi kambing hitam dari semua masalah yang terjadi. Oleh karena itu saatnya kita kembali pada Islam sebagai hukum yang telah diturunkan Allah SWT. Tidak ada alasan lagi untuk menolak hukum-hukum Islam, karena Islam adalah rahmat untuk semua alam. Wallahualam bishawab.

Nijmah Nurlaili
Jl Geger Kalong Tengah No 74 Bandung
ima_moes90@yahoo.co.id
085782014321



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads