Semangat dan imbauan tersebut memang ditujukan kepada banyak kalangan. Namun, yang menjadi sasaran utama tentu saja adalah pihak penyelenggara yakni Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang selama ini kinerjanya banyak disorot oleh banyak kalangan. Mudah-mudahan deklarasi tersebut tidak menjadi slogan atau retorika semata.
Seperti biasanya dan lazim ditemui banyak negara setiap pasangan capres cawapres akan mempersiapkan program-program dan janji yang kemudian akan ditawarkan kepada masyarakat dan memungkinkan untuk melakukan klaim atas keberhasilan demi keberhasilan yang telah dicapai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Capres Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selaku incumbent di hadapan para pengusaha Kadin mentargetkan angka pertumbuhan ekonomi pada akhir jabatan 2014 sebesar 7%. Sikap yang hampir sama dilontarkan oleh capres Jusuf Kalla ketika menyampaikan pandangannya mengenai patokan angka pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2014 sebesar 8%.
Namun, yang menarik adalah capres Megawati melalui pernyataan pernyataan yang disampaikan oleh cawapresnya di berbagai media dengan mentargetkan angka pertumbuhan ekonomi dua digit pada periode yang sama. Memang, kalau kita amati peryataan-pernyataan dari masing-masing capres tersebut baru sebatas permukaan. Sifatnya terlalu umum.
Sangat mudah untuk mengatakan sesuatu hasil akan bisa optimal dengan keyakinan. Namun, yang lebih penting lagi adalah bagaimana bisa mewujudkan angka-angka pertumbuhan ekonomi tersebut mengingat sejak diterpa krisis keuangan global kita dan beberapa negara di dunia mengalami kontraksi yang hebat terutama dalam perdagangan dan pembiayaan.
Baru-baru ini IMF melansir angka pertumbuhana ekonomi negara kita dengan angka kisaran sebesar 4%-5% yang mana angka kisaran pertumbuhan ekonomi tersebut merevisi prediksi sebelumnya. Yakni 2%-3%.
Di Asia sendiri saat ini hanya empat negara yang mengalami pertumbuhan ekonomi positif. Mereka antara lain adalah China 6%, India 5%, Indonesia 3-4%, dan terakhir Vietnam 2%-3%. Sementara negara-negara lainnya mengalami pertumbuhan ekonomi minus.
Faktor kuat yang masih bisa menyangga pertumbuhan ekonomi kita menjadi positif tak lain adalah masih tingginya minat konsumsi masyarakat kita. Begitu kira-kira pengamatan yang dilakukan oleh team IMF ketika berkunjung ke Jakarta minggu lalu.
Dalam ilmu ekonomi (terlepas dari mashab-mashab yang sekarang diperdebatkan mengenal apa yang dinamakan Fakor-Faktor Produksi, yang antara lain sebagai berikut: modal, sumber daya alam, tenaga kerja. Kalau kita perhatikan kembali janji-janji dari para capres yang mengetengahkan angka pertumbuhan ekonomi nasional ketika berdialog dengan Kadin, rata-rata angka yang diusung adalah di atas 5% sampai dengan 6%. Sedangkan untuk mencapai angka itu diperlukan modal yang begitu besar sehingga investasi yang dicapai dapat terpenuhi.
Menurut angka perhitungan sederhana untuk mencapai angka pertumbuhan ekonomi sebesar 5% sampai dengan 6% diperlukan sedikitnya investasi sebesar Rp 1,500 triliun. Namun, di sisi lain pemerintahannya bisa mengucurkan sebesar Rp 150 triliun. Sisanya terpaksa mendatangkan dari pihak swasta dan korporasi asing. Lantas berapa investasi yang dibutuhkan jika kita ingin mencapai angka pertumbuhan ekonomi dua digit.
Tentu kita tidak boleh pesimis dengan hanya melihat satu sisi saja. Ada faktor lain yang menjadi daya tarik sehingga mengapa para capres berani mematok masing-masing angka pertumbuhan ekonomi tersebut.
Negara kita memiliki banyak sumber daya. Baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Kedua faktor produksi tersebut menjadi alat pemikat bagi calon investor dalam merencanakan investasi mereka. Sumber daya alam kita berupa bahan tambang, pertanian, perkebunan, dan kelautan memiliki potensi yang sangat luar biasa dan bisa mendatangkan keuntungan ekonomis dan memiliki kemampuan untuk menjadi bahan baku dalam menciptakan industri olahan dan pada akhirnya berdampak kepada bangkitnya masyarakat.
Tercapainya suatu angka pertumbuhan ekonomi tidak terlepas dari ikut berperannya perusahaan-perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh pemerintah. Karena sebagai badan usaha milik negara (BUMN) nantinya mereka menjadi lokomotif bagi perkembangan ekonomi secara keseluruhan.
Bank-bank pemerintah yang memiliki likuiditas berlebihan menjaga betul kepentingan-kepentingan ekonomi yang berbasis nasional sehingga kucuran dana dalam bentuk pinjaman dapat dioptimalkan sebaik mungkin dalam menggerakkan faktor-faktor produksi tersebut.
Yang tidak kalah menariknya sekarang ini adalah seluruh pasangan memfokuskan diri bagaimana menterjemahkan isi program-program ekonomi mereka secara detil dan menyangkut kepada sektor-sektor ekonomi yang memiliki prioritas unggulan. Pengadaan infrastruktur yang difasilitasi oleh pemerintah jangan lagi menjadi hambatan bagi calon investor.
Listrik, jalan, jembatan, dan berbagai sarana penunjang lainnya harus dibenahi jika kita ingin mencapai pertumbuhan ekonomi positif dan pentingnya pemerintah membuat regulasi yang bisa dipertanggungjawabakan dan tidak berubah-ubah. Akhirnya penulis ingin mengatakanbahwa kekurangan-kekurangan yang ada harus segara diatasi siapa pun Presiden yang terpilih nanti.
Gunakan Hak Pilih Anda dengan Cerdas.
Helmy Harahap
Perumahan Puri Beta
Jl Hujan Mas No 12 Tangerang
helmy_harahap@yahoo.co.id
0816842044
(msh/msh)











































