Menurut berita-berita dari berbagai koran lokal dan nasional sampah sudah menjadi masalah secara umum yang terjadi di kota-kota di Indonesia. Mulai dari pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya, permasalahan pengangkutan, hingga masalah di tempat pembuangan akhir (TPA).
Universitas merupakan salah satu penyumbang sampah terbesar dalam suatu kota. Dengan 'penduduk' tetap yang selalu berada di universitas yang memiliki aktivitas rutin, bahkan di hari libur, tentu saja menghasilkan berbagai jenis sampah setiap harinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
penulis kunjungi sampah yang dihasilkan dapat dibagi menjadi 3 kategori berdasarkan tujuan pengolahan akhirnya, yaitu sampah organik, sampah yang dapat didaur ulang, dan sampah tidak dapat didaur ulang.
Sampah-sampah ini dapat diperoleh oleh mahasiswa baik dari dalam maupun luar kampus. Namun, dibuang di dalam kampus. Sampah organik berasal dari sisa-sisa makanan atau jajanan para mahasiswa atau pun sisa-sisa masakan dari kantin atau warung makan serta sampah rumput dan tanaman dari taman yang berada lingkungan kampus.
Sampah yang dapat didaur ulang merupakan berbagai jenis sampah yang terdiri dari plastik, kertas, kaleng, kardus, dan jenis-jenis sampah lain yang dapat dimanfaatkan kembali atau didaur ulang. Sampah yang tidak dapat didaur ulang merupakan sampah lainnya di luar sampah makanan dan sampah yang dapat didaur ulang.
Berbagai jenis sampah di atas yang jika digabungkan jadi satu kemudian dibuang ke TPA di satu kota maka dapat dibayangkan berapa banyak kontribusi volume sampah yang masuk ke TPA hanya dari universitas saja dalam satu kota. Sekarang sudah saatnya sistem pengelolaan persampahaan kuno dengan mengutamakan pembuangan sampah ke TPA harus ditinggalkan mulai dari lingkungan terdidik di universitas.
Contoh penerapan yang sudah sangat baik menurut penulis adalah apa yang dilakukan di Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). Sejak terjadinya kasus Bandung "Lautan Sampah" pada tahun 2006-2007 yaitu ketika Pemerintah Kota Bandung kesulitan untuk mendapatkan lokasi TPA yang dapat menampung seluruh sampah dari Kota Bandung.
ITB berinisiatif membuat tempat pengelolaan sampah mandiri (TPSM) untuk seluruh sampah-sampah yang berasal dari dalam Kampus ITB. Lokasi TPSM ini berada di area dekat Sasana Budaya Ganesha (SABUGA) di mana pasangan SBY-Boediono mendeklarasikan diri mereka sebagai capres-cawapres.
Di lokasi TPSM ini sudah dilengkapi dengan berbagai tipe pengolahan untuk berbagai jenis sampah yang timbul dari kegiatan sehari-hari civitas akademis kampus seperti yang telah dijelaskan di atas. Sampah-sampah dikumpulkan dari lingkungan kampus oleh kendaraan jenis pick up atau pun truk kecil yang berkeliling secara rutin setiap harinya.
Sampah-sampah kemudian dibawa ke TPSM untuk dipilah oleh petugas di lokasi tersebut. Walaupun tempat sampah di ITB sendiri sebenarnya sudah dipilah menjadi 2 golongan yaitu sampah yang mudah membusuk dan tidak mudah membusuk, bercampurnya kedua sampah tersebut masih terjadi dikarenakan ketidakdisiplinan para penghasil sampah.
Sampah-sampah di TPSM yang bergolongan sampah organik akan diolah dengan metode pengomposan. Kompos dapat terbentuk dalam waktu relatif singkat yaitu sekitar 2-3 minggu yang kemudian hasil kompos ini dapat digunakan kembali secara internal untuk pemupukan atau pun dijual ke pihak eksternal.
Sampah yang dapat didaur ulang dapat dipisahkan menurut jenisnya masing-masing. Misalnya sampah botol plastik, gelas plastik, kaleng, kaca, dan lain-lain yang kemudian dapat dijual juga ke berbagai pihak yang dapat menampung jenis-jenis sampah tersebut yang banyak berada di sekitar kota Bandung. Sedangkan jenis sampah yang tidak dapat didaur ulang kemudian dibakar.
Di TPSM ini memiliki insenerator sederhana yang menggunakan bahan bakar minyak tanah untuk dapat membakar jenis-jenis sampah tersebut. Biasanya setelah dipisahkan maka jumlah sampah yang dibakar akan kurang dari 50% dari seluruh total sampah yang dihasilkan. Biaya operasional yang muncul dari TPSM ini akan ditanggung oleh ITB. Walaupun demikian terdapat subsidi dari hasil penjualan kompos dan berbagai sampah yang dapat didaur ulang sehingga dapat mengurangi biaya operasional yang harus ditanggung oleh universitas.
Pengelolaan persampahan dengan model TPSM di ITB dapat dijadikan contoh oleh
universitas-universitas lain di Indonesia. Di Bandung sendiri terdapat lebih dari 10 universitas. Baik di negeri maupun swasta. Belum lagi di kota-kota lain misalnya Jakarta, Surabaya, Semarang, dan lain-lain.
Memang disadari bahwa hanya terdapat sedikit universitas yang dapat menyediakan lahan untuk pengolahan sampah secara mandiri. Tetapi, hal ini justru dapat menjadi ajang kerja sama dalam pengelolaan persampahan. Universitas yang dapat menyediakan TPSM dapat juga mengolah sampah dari universitas-universitas lain yang tidak dapat membuat TPSM sendiri. Namun, tentu saja biaya operasional dari TPSM tersebut dapat ditanggung bersama oleh berbagai universitas tersebut.
Pemerintah melalui Dinas Pendidikan juga dapat memberikan insentif yang dapat membantu dalam memulai sistem TPSM universitas-universitas ini. Jika seluruh universitas dapat menerapkan sistem pengelolaan sampah mandiri maka diharapkan dapat menjadi contoh untuk pemerintah kota dan masyarakat di mana universitas tersebut berada. Kontribusi yang paling berharga tentu saja dengan mengurangi sampah yang masuk ke TPA sehingga dapat ikut dalam menjaga dan melestarikan lingkungan hidup.
Satrian Affan
Pemerhati Lingkungan dan Persampahan
Website: http://www.affan-enviro.com
Email: affanen@affan-enviro.com
(msh/msh)











































