Masih Saktikah Pancasila

Masih Saktikah Pancasila

- detikNews
Senin, 01 Jun 2009 08:58 WIB
Masih Saktikah Pancasila
Jakarta - Ketika berjalan melewati salah satu sekolah menengah yang sedang melaksanakan upacara di bilangan Menteng Jakarta Pusat saya mendengar sedang membacakan Pancasila yang diikuti oleh seluruh peserta upacara. Terlintas dalam benak saya betapa lancar kelima sila meluncur dari bibir-bibir generasi muda itu.Β 

Lalu terlintas juga dalam benak saya berita-berita politik mulai dari demo-demo, perhitungan suara pileg yang menyisakan kasus-kasus peradilan, para kanditat capres dan cawapres yang berebut simpati rakyat yang tak satu pun di antara mereka yang mengatakan akan melaksanakan secara utuh kelima sila yang sakti itu.

Sekedar mengingatkan. Inilah lima sila yang sakti:
1. Ketuhanan yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kekibajsanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1 Oktober adalah Hari Kesaktian Pancasila yang seingat saya ketika sekolah dulu selalu diperingati dalam suatu upacara meskipun sekedar sebuah seremoni.

Namun, kini saya meragukan kesaktian Pancasila jika melihat dan mendengar berita-berita tentang peristiwa perpecahan di negeri ini. Baik perebutan kursi-kursi keagungan Senayan, kursi-kursi penguasa daerah, sampai dengan tawuran-tawuran yang dipicu masalah sepele yang mengakibatkan kerusakan-kerusakan dan bahkan korban jiwa.

Semua kejadian tersebut sangatlah jauh dari penghayatan dan pengamalan kelima sila di atas. Andai saja, ya, andai saja kita semua menyadari:

Sila kesatu: mungkin tak akan ada lagi yang mengaku "Tuhan" di bumi ini.

Sila kedua: mungkin tak ada lagi perlakuan-perlakuan yang keji dan tidak beradab, hanya untuk menghilangkan "jejak kejahatan"Β  lalu "memutilasi" manusia lain.

Sila ketiga: mungkin tak akan ada lagi pertikaian-pertikaian hanya untuk mementingkan diri pribadi atau golongan semata.

Sila keempat: mungkin tak tak akan ada lagi demo-demo anarkis karena setiap persoalan dapat diselesaikan atas dasar musyawarah dengan segala kebijaksanaan untuk mendapatkan jalan keluar terbaik.

Sila kelima: mungkin tak akan ada lagi kemiskinan-kemiskinan dan kesenjangan-kesenjangan sosial di negeri ini. Tak kan ada lagi peribahasa "yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin".

Setiap kata di atas sengaja menggunakan kata "mungkin" karena saya sedang berharap semoga bangsa ini kembali menyadari betapa "sakti"-nya Pancasila.

Jenal Alamsyah
Jl Probolinggo 18 Jakarta
jeans_1468@yahoo.com
08121061968


(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads