Memprihatinkan Susu

Memprihatinkan Susu

- detikNews
Jumat, 29 Mei 2009 09:44 WIB
Memprihatinkan Susu
Jakarta - Dalam menu sehat dikenal istilah "empat sehat lima sempurna". Penyempurna ini adalah susu. Istilah ini tidak berlebihan karena minuman putih bersih ini memiliki kandungan nutrisi yang lengkap dibandingkan minuman lainnya sehingga susu memiliki banyak khasiat yang sangat bermanfaat bagi tubuh.

Susu biasanya dikenal sebagai minuman penguat tulang dan gigi karena kandungan kalsium yang dimilikinya. Kandungan lain dalam susu yang tidak kalah pentingnya untuk tubuh adalah fosfor, zinc, vitamin A, vitamin D, vitamin B12, vitamin B2, asam amino, asam pantotenat, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Akan tetapi pada beberapa minggu terakhir ini masyarakat peternak sapi perah dihadapkan pada kondisi yang sangat memprihatinkan. Susu sebagai produk utama hasil ternak sapi perah mengalami penurunan harga ditingkat koperasi peternak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penurunan harga susu ini dipicu karena terjadi penurunan harga pembelian susu yang dilakukan oleh beberapa industri pengolahan susu (IPS). Sebut saja PT Nestle Indonesia, PT Ultra Jaya, PT Frisian Flag, PT Indolakto Indomilk, dan lain sebagainya.

Kemungkinan mendasar alasan atas penurunan harga di tingkat IPS tersebut adalah karena harga susu impor harganya lebih murah dibandingkan dengan harga susu segar yang dibeli dari koperasi (peternak lokal).

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) perkembangan impor susu di negara ini dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2006 Indonesia mengimpor susu sebesar 188.128 ton. Pada 2007 meningkat menjadi 198.217 ton. Dan, pada tahun 2009 ini, dari bulan Januari hingga Mei saja Impor susu Indonesia sudah tercatat mencapai 90.147 ton.

Sebagai negara agraris yang berbasis pada pertanian-peternakan dan kaya akan sumber daya alam Indonesia seharusnya mampu melakukan swasembada susu dan bukan hanya ketergantungan pada impor susu. Mentalitas semangat swasembada dan bangga pada produk dalam negeri tentunya harus menjadi motivasi untuk membangun negeri ini.

Alih-alih demikian dengan alasan untuk menambah dan menggiatkan gerakan minum susu dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa justru pajak masuk impor susu (bea masuk) sejak 13 Februari 2009 dihapuskan menjadi 0%, kebijakan ini diatur dalam Permenkeu No 19/PMK.011/2009. Sungguh upaya yang kontradiktif dengan semangat swasembada.

Menghadapi permasalahan ini sekiranya ada beberapa solusi yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan berbagai pihak terkait, di antaranya adalah:

Pertama, kebijakan bea masuk impor komoditas susu dikembalikan pada tingkat seperti sebelumnya yakni 5% atau lebih tinggi sehingga dapat memacu produksi susu segar dalam negeri.

Kedua, jika langkah pertama tidak dapat dilakukan maka pemerintah juga harus menghapus bea masuk impor bahan baku pakan ternak. Karena sebagian besar bahan baku pakan ternak seperti jagung dan polar sebagian besar di Impor.

Jika harga pakan terus merangkak naik sedangkan harga susu terus menurun maka wajar saja banyak peternak yang tidak bergairah lagi untuk beternak. Hal ini tentu akan berdampak pada semakin meningkatnya angka pengangguran dan kemiskinan di negeri ini.

Ketiga, jika langkah kedua tidak dapat dilakukan maka pemerintah harus bersungguh-sungguh dalam melakukan program diversifikasi pakan ternak sapi dan mewujudkannya dalam bentuk kongkret dan bukan hanya dalam tataran penelitian-penelitian. Diversifikasi pakan ternak seperti singkong tidak mustahil mampu dikembangkan di bumi pertiwi Indonesia ini.

Keempat, ketika beberapa upaya di atas tidak juga mampu dapat diwujudkan peternak yang tergabung dalam koperasi dan beberapa pihak terkait bersama-sama pemerintah agar melakukan sistem agribisnis yang terpadu (terintegrasi) dari hulu ke hilir.

Selain memiliki ternak sendiri peternak juga memiliki industri pengolahan dan mampu memasarkan produknya kepada masyarakat. Upaya ini sudah sangat terbukti ampuh dalam mengatasi permasalahan kestabilan harga susu pada peternak. Bahkan peternak sendiri dapat mengatur berapa harga yang ditawarkan dan tidak bergantung pada IPS.

Salah satu peternak (tergabung dalam koperasi) yang sukses dalam menerapkan upaya ini adalah Amul di India (Patinbandla dan Sastri, 2004). Dewasa ini Amul telah berubah menjadi perusahaan besar dengan organisasi yang kompleks dan efisien serta terintegrasi secara horizontal dan vertikal.

Seperti halnya koperasi susu lainnya koperasi ini dibentuk untuk membantu peternak marginal yang sebelumnya tergantung pada pedagang pengumpul yang mengenakan rente margin pengumpul yang sangat tinggi. Koperasi susu ini memperkuat posisi peternak menghadapi pabrik susu dan menggantikan fungsi pedagang pengumpul dan mengatasi masalah likuiditas peternak.

Kemudian koperasi ini berkembang secara horizontal dengan memperluas daerah usaha. Sisa hasil usaha (SHU) dari kegiatan ini diinvestasikan secara vertikal. Baik dalam kegiatan penyimpanan, processing, dan transportasi susu. Amul juga telah mengembangkan diri dalam kegiatan lebih lanjut dalam barang konsumsi seperti susu, tepung, dan cokelat.

Kelima, untuk mengatasi permasalahan jangka pendek yakni banyaknya susu yang dibuang beberapa koperasi susu karena harga susu sangat murah pemerintah dapat menyelamatkan perekonomian rakyat dengan cara melaksanakan program minum susu gratis di sekolah seluruh Indonesia.

Biaya minum susu ini dapat ditanggulangi dengan dana BOS (Biaya operasioanl Sekolah). Toh, gerakan minum susu adalah upaya mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengantisipasi loss generation. Akan tetapi upaya ini tentunya harus dipahami oleh berbagai komponen, dilaksanakan secara serius dan berkesinambungan. Tidak hanya seremonial belaka.

Apalagi konsumsi susu masyarakat Indonesia saat ini berdasarkan data dari Dewan Persusuan Nasional (DPN) hanya sebesar 6 liter per kapita per tahun atau 2 tetes per kapita per hari. Sangat jauh dibandingkan dengan Malaysia.

Negara tetangga serumpun ini konsumsi susunya sudah mencapai 25,4 liter per tahun. Sehingga wajar dan diakui jika Malaysia sumber daya manusianya lebih maju dibandingkan Indonesia. Padahal pada tahun 1970-80-an, Malaysia adalah murid kita. Sungguh ironis.

Drh Iwan Berri Prima

Penulis adalah Dokter Hewan Baru yang disumpah tanggal 19 Mei 2009 di FKH IPB, Mantan Ketua Umum IMAKAHI (Ikatan Mahasiswa Kedokteran Hewan Indonesia).



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads