Tulisan ini berniat mempertanyakaan jati diri kita semua sebagai insan konservasi. Bagaimana status quo konservasi Indonesia (KI). Bagaimana quo vadis KI? Dan mau ke mana kita ke depan.
Sebagai pembukaan saya berpendapat sebagai prajurit konservasi komunitas konservasi gagal dalam mengkonservasi hutan. Kita kalah berkompetisi dengan pedagang hasil hutan atau pengguna lahan lainnya. Buktinya hutan kita mulai botak di mana-mana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apakah hanya konflik bisa menjaga hutan kita. Padahal kita ini homo sapiens yang mempunyai otak dan nalar.
Bandingkan Aceh dengan Riau yang hutannya menghilang sangat cepat dalam tiga puluh tahun yang sama. Konflik menjaga hutan Aceh. Pembangunan menghabiskan hutan Riau. Apalagi hutan di daerah Sumatera Selatan habis digunduli mulai tahun 1970, 80, dan 90-an.
Sekarang ditutupi kelapa sawit dan karet. Dulu ada harimau di daerah Muba. Sekarang sudah hilang. Artinya keanekaragaman hayati sudah juga hilang dimakan waktu. Berita baik dari Aceh mulai juga dikotori oleh berita banjir dan tanah longsor.
Walhi banyak melaporkan kegiatan pembalakan liar (illegal logging) di Aceh. Terima kasih kepada Gubernur Irwandi Yusuf. Hutan Aceh bisa bernafas sedikit legah sejak beliau mendeklarasikan moratorium dari pembalakan hutan.
Aceh bersama Fauna dan Flora International (FFI) sedang mengarap jasa karbon dan jasa lingkungan di kawasan Leuser. Semoga program ini bisa masuk REDD dan bisa dideklarasikan di pertemuan UNFCCC di Copenhagen 2012, di mana diharapkan REDD menjadi salah satu bagian dari protokol Copenhagen.
Kalau REDD menjadi salah satu protokol Copenhagen mudah-mudahan kita mendapatkan pendapatan dari hasil penjualan kredit karbon dan jasa lingkungan lainnya. Semoga.
Mohamad Rayan
Jl Imam Bonjol No 80 Jakarta
konservasiindonesia@yahoo.com
081586781831
(msh/msh)











































