Reinterpretasi Kesejahteraan dan Kemakmuran Petani

Reinterpretasi Kesejahteraan dan Kemakmuran Petani

- detikNews
Selasa, 19 Mei 2009 09:06 WIB
Reinterpretasi Kesejahteraan dan Kemakmuran Petani
Jakarta - Petani dan nelayan dari dulu deritanya tiada pernah berakhir. Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah contoh kiasan yang tepat untuk petani dan nelayan Indonesia.

Banyak orang membicarakan perubahan sampai mendasar pada mereka tetapi perubahan itu khayalah sebuah khayalan dan mimpi. Yang terjadi hanyalah kemiskinan dan keterbelakangan.

Hal ini terlihat jelas di depan mata kita adalah harga pupuk yang dijanjikan rendah kepada mereka. Malah harganya jauh di atas harga eceran tertinggi. Belum lagi waktu mulai memupuk ketersedian pupuk malah langka di pasaran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lebih-lebih setelah panen harga yang di terima petani sangat rendah. Apalagi dengan diikuti kenaikan harga solar bagi para nelayan. Sedangkan hal itu merupakan kunci pokok bagi mereka untuk melaut.

Oleh karena itu pemerintah hendaknya memperhatikan persoalan-persoalan pokok yang langsung dihadapi setiap hari oleh para petani dan nelayan baru kemudian berfikir yang lain. Petani dan nelayan harus dijadikan sebagai kunci utama pembangunan dalam kemajuan bangsa ini.

Tetapi, apa yang terjadi. Walaupun zaman terus berubah. Anggota legislatif terus berganti. Presiden terus berganti. Tidak banyak yang dibuat oleh mereka sebagai penentu arah petani dan nelayan. Justru membuat petani dan jauh dari iming-iming kesejahteraan dan kemakmuran.

Kesejahteraan dan kemakmuran hanyalah buat penguasa. Sedangkan petani dan nelayan dilarang kaya di negeri ini. Selain itu petani dan nelayan di berbagai tempat di Indonesia dijadikan lahan percobaan untuk kepentingan orang-orang tertentu.

Oleh karena itu perlu adanya reinterpretasi tentang kesejahteraan dan kemakmuran. Selama ini makna kesejahteraan dan kemakmuran hanya pengertian pemerintah yang tidak jelas tolak ukurnya yang mendasar bagi pengertian petani dan nelayan.

Pengertian dan makna kesejahteraan dan kemakmuran bagi petani dan nelayan hendaknya diserahkan ke petani dan nelayan bukan menurut ke pemerintah. Apapun pengertian dan makna kesejahteraan dan kemakmuran menurut petani dan nelayan walaupun beraneka ragam justru itulah kesejahteran dan kemakmuran yang sesungguhnya. Artinya suara-suara petani dan nelayan yang di bawah hendaknya di dengar, diperhatikan, dan di tindaklanjuti.

Seperti nelayan akan sejahtera dan makmur manakala memiliki sarana dan prasarana penangkapan ikan yang lengkap, baik itu alat tangkap, perahu bermotor, sistem navigasi, bahan bakar minyak (BBM), dan lain sebagainya. Sehingga pendapatan nelayan akan meningkat.

Bila terjadi demikian kebutuhan pokok akan terpenuhi. Anak-anak mereka dapat bersekolah ke jenjang pendidikan tinggi. Begitu juga dengan petani.

Petani akan makmur dan sejahtera manakala luas lahan yang digarap semakin luas. Pupuk tersedia. Obat-obatan tersedia dan adanya jaminan pasar dari pemerintah dengan harga yang tinggi.

Dalam arti kata pemerintah hendaknya mencari tahu apa keinginan, kemauan, dan kebutuhan petani dan nelayan agar mereka sejahtera dan makmur? Sehingga dengan demikian tolak ukur kesejahteraan dan kemakmuran itu jelas karena diambil dari yang diukur.

Sikap dan kebijakan yang bersifat bottum up sangat perlu dilakukan dan dipertahankan agar semua terukur dengan benar. Dengan demikian, penulis yakin kesejahteraan dan kemakmuran petani dan nelayan sebagai penentu pembangunan bangsa di negeri ini ada titik terang.

Hasbullah
Jalan Pengadegan Utara I No 29 RT 11/06
Pancoran Jakarta Selatan
hasbule@gmail.com
02191320260

Penulis adalah mantan Aktifis Senat Mahasiswa Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Pendiri Kelompok Studi Aplikasi Pertanian (KSAP), dan Anggota IASA.


(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads