Banyak yang berteori tinggi bahwa jika akan menjadi pemimpin seorang kandidat harus lulus S1 (sarjana). Harus kompeten ('capable'). Harus cerdas. Harus berpengalaman. Harus berpengetahuan luas. Apalagi harus berperawakan meyakinkan (tidak cacat). Dan seterusnya. Dan seterusnya.
Dalam pandangan saya teori 'harus' ini 'harus' itu yang sifatnya personality (dari sisi luar ke dalam) itu sudah runtuh. Sedang digantikan oleh prinsip-prinsip baru. Prinsip dari dalam keluar ('inside out').
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepemimpinan sekali lagi adalah logika tentang memberi manfaat kepada manusia (konstituen, rakyat, tim). "Tak banyak gunanya jika banyak pemimpin punya ilmu top 'bibit bebet bobot'. Namun, rakyat tetap melarat". Kalimat ini dilontarkan oleh pengirim SMS dari Bekasi, di acara 'Aspirasi', Selasa sore, 17 Maret 2009 di radio Smart FM.
Tidak banyak manfaatnya. Pemimpin itu cerdas, pandai, kaya, proaktif, kreatif, jika ia tak mampu memberi manfaat bagi rakyatnya bukan? Tak kurang apa kebanyakan para pemimpin kita terdahulu mereka pemimpin top. Berpendidikan tinggi-tinggi. Taat beragama, pintar-pintar. Namun, rakyat tetap saja miskin dan terbelakang tetapi mereka sendiri kaya dan makmur (lupa keadilan).
Lalu muncul pemimpin monster yang kehilangan daya hidup dari dalam (value, karakter, sikap). Saya sebut ini sebagai "leadership dryness" (kekeringan kepemimpinan). Tak ada kehidupan di sisi dalam. Contohnya: tidak bisa adil, suka egois, suka menang sendiri, maunya benar sendiri, enak sendiri, dan seterusnya.
Definisi Baru
Kini persoalannya bukannya pemimpin kurang pandai melainkan kurang punya moral. Pemimpin masa kini dan masa depan yang dibutuhkan Indonesia adalah pemimpin yang hatinya untuk rakyat (inside out). Pemimpin yang "hidup" di dalam. Karena ia "hidup" (tidak mati) di dalam. Maka yang keluar darinya adalah segala yang hidup. Kebaikan dan kemuliaan ("man for others", "selfless").
Jika ia ingin kaya rakyatnya dulu yang dibuat kaya. Jika ia ingin sejahtera rakyatnya dulu yang dibuat sejahtera. Jika ia ingin meraih sukses rakyatnya dulu yang dibuat sukses. Jika ia ingin meraih target rakyatnya dulu yang dibantu meraih target. Dan seterusnya. Rakyat yang dimuliakan. Bukan pemimpin.
Paradigma dan definisi kepemimpinan "baru" ini saya senang menyebutnya dengan
"the living leadership". Ia sudah meninggalkan pakem 'klasikal' yang dibuat di masa lampau yang berbau sangat manajemen. Manajemen hanya diperlukan sebagai alat ('tools') dan bukan segala-galanya.
Pemimpin yang hanya mengandalkan keahlian manajemen belaka akan gagal. Ia hanya akan ahli putar sana putar sini fungsi manajemen. Memoles proses bisnis. Membongkar struktur organisasi. Membuat prosedur (standard operational procedure, SOP). "Working instruction". Dan seterusnya. Lalu, berakhir sebagai ahli manajemen.
Kita sudah lama sepakat pekerjaan macam itu cukup dikerjakan manajer. Bukan oleh leader. Sebaliknya kepemimpinan yang mengandalkan hati akan berhasil di mata rakyat (baca: dicintai rakyat karena mementingkan rakyat, membawa perubahan demi rakyatnya, memberi hasil bagi rakyatnya). Itulah leader yang sedang kita cari bagi bangsa ini.
"Saya memang berwajah pelayan karena tugas saya adalah melayani rakyat Iran'. Itulah kalimat pembuka penuh karisma dan jiwa penuh melayani dalam wawancara Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dengan TV FOX beberapa bulan yang lalu. Pemimpin besar yang mencintai rakyat dan dicintai rakyat seperti Ahmadinejad ini ternyata terlahir dalam krisis kepemimpinan di Iran.
Menariknya, ia bukan mullah. Bukan pula politisi dan bukan bangsawan. Ia hanya rakyat jelata. Seorang dosen biasa yang tidak dikenal. Namun, jiwa dan kebesaran cintanya pada rakyatnya itulah (the serving heart) yang telah membuktikan premisis kepemimpinan modern (inside out).
Hatinya yang melebihi intelegensianya telah membawanya ke permukaan elit politik pemilihan presiden Iran tahun 2005 lalu dan jadilah ia seorang presiden "baru" pilihan rakyat. Menggeser kepemimpinan Rafshanjani dan Katami. Bukan dengan uang. Bukan dengan materi. Ia menang pemilihan presiden namun dengan kekuatan cintanya (the inside, the value, the heart).
The living leadership-nya kental ketika ia membiasakan diri menyapu jalan Teheran di pagi hari bersama tukang sapu jalanan ketika masih menjadi walikota Teheran. Ia melayani rakyatnya dengan tulus ikhlas.
Kualitas inilah yang membuatnya menang pemilu. Dikabarkan ia tak mempunyai cukup uang untuk memasarkan dirinya sendiri via poster dan spanduk. Ia berjuang dan menang lewat kekuatan cinta (the living inside).
Pemimpin Baru
Rakyat sedang merindukan pemimpin dengan kualitas besar yang mampu dengan tulus ikhlas untuk menghidupkan dan membela rakyatnya. Seperti Ahmadinejad di Iran. Seperti Gandhi di India. Seperti Obama di Amerika.
Mengatasi krisis ekonomi penting. Namun, yang terpenting adalah mencari the living leader yang tepat. KH Ma'ruf Amin dalam Rakernas Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Padang Panjang Sumatera Barat, 24-26 Januari 2009 lalu mengatakan pemimpin Islami sulit dicari. Banyak orang, banyak partai, banyak keinginan mencari pemimpin besar. Lalu di manakah mereka?
Yang pasti mereka tidak kita temukan di atas pohon dan di tiang listrik - yang tiba-tiba nama dan fotonya serta janji-janjinya memenuhi kota kita. Dari mana mereka? Kita tidak mengenalnya dan tidak merasa dekat dengannya? Kontribusinya tidak kita ketahui.
Ada sebuah baliho besar di depan pohon dari partai X di Bogor yang berjanji: "Siap dihukum mati, jika korupsi". Hmm ... Itu baru janji.
Ada lagi di atas pohon: "Saya pemimpin amanah dan bersih siap membawa perubahan, pilihlah aku ... !" Hmmm ... Yang ini bukan hanya janji. Tapi, menganggap dirinya sendiri yang paling hebat dan nomor satu.
Kepada jenis pemimpin seperti itu kita tak akan menyerahkan hidup rakyat banyak kepadanya bukan?
"Humble Heart"
The living leader memiliki 3 kriteria H ('humble heart', 'high hope', 'huge resul'). Kebanyakan pemimpin yang tepat bagi rakyatnya terlahir sebagai rakyat kecil melalui hidupnya dari paling bawah yang didukung rakyatnya dan mati membawa cinta rakyatnya serta dikenang sepanjang masa.
Dari Porbandar di India Barat terlahir Mahatma Gandhi dari ayah Kaba Gandhi dan Ibu Putlibai. Yang sama-sama orang tua yang saleh, jujur, tidak mudah disuap. Gandhi besar sebagai rakyat biasa dari kasta Vaisya (di bawah Brahmana dan Ksatria di atas Sudra).
Jiwa pemimpinnya yang 'humble' muncul karena didera diskriminasi dan ketidakadilan oleh lingkungannya. Hati dan jiwanya tertantang. Dari titik itulah Gandhi mulai melayani rakyatnya. Mempersembahkan hidupnya bagi orang lain. Meyakininya dengan teguh. Memperjuangkannya dengan gigih, ulet, dan tekun. Ahimsanya adalah wujud dari cintanya dan pengorbanannya yang besar bagi rakyatnya. Anehnya, ia tak merasa mengalahkan siapa-siapa dan tak pernah mau ditawari kursi PM India hingga ia meninggal 30 Januari 1948.
Ken Blanchard mengatakan "true leader starts on the inside with servant heart, then moves outward to serve others". Ciri pemimpin yang menghidupkan rakyat. Yang pertama-tama adalah dekat dengan rakyatnya. Rakyat adalah amanahnya.
Semakin hari mereka (pemimpin) semakin mendapat cinta dari pengikutnya dan pendukungnya. Mereka tidak suka perang dan kekerasan. Bercitarasa damai dengan siapa saja. Mereka senantiasa memupuk dan menajamkan rasa cintanya setiap hari dengan pengikutnya. Pemimpin yang mengenal rakyatnya dan rakyat yang mengenali pemimpinnya.
Mereka dibesarkan melalui sebuah proses. Inilah pegangan kita untuk memilih pemimpin yang besar (the living leader). Jika ada calon pemimpin yang tidak memiliki jiwa dan hati yang melayani mereka bukan pilihan dalam "supermarket" pemimpin saat ini.
Jika ada sosok bagai seorang gembala yang mencintai pengikutnya maka merekalah sosok pemimpin yang tepat. Otomatis calon yang tidak kita kenal, tidak jelas asal-usulnya, lewati saja mereka. Kita sebaiknya tidak memilih pemimpin yang tiba-tiba muncul di umbul-umbul dan baleho. Entah dari mana. Mereka yang tidak melalui proses untuk mendekati, merangkul, dan menyatu dengan konstituen yang dilayaninya.
Pemimpin yang kita pilih sebaiknya yang kita ketahui telah melalui proses pematangan sebelumnya di masyarakat. Ia dekat dengan kita. Bukan yang tiba tiba ingin mendekati rakyat hanya ketika menjelang pemilu. Ini tipe pemimpin "laron" (bukan living) dari paradigma memimpin di masa lalu yang tak akan laku. Hari ini ada esok hilang.
"High Hope"
Pemimpin besar lainnya, Barry Obama, yang lahir di Hawai 1961 dan pernah besar di Jakarta. Juga berasal dari keluarga biasa. Ayahnya Barack Husein Obama orang Kenya dan Ann Dunham, Ibunya orang Kansas Amerika. Mereka membesarkan Obama dengan cara-cara biasa dengan tekanan minoritas khas Amerika.
Namun, hati dan jiwanya berhasil membuka tekanan ketidakadilan dan diskriminasi itu perlahan dengan perjuangannya semenjak ia kuliah di Harvard Law School, memperjuangkan undang-undang, melakukan advokasi hukum dan politik bagi rakyat Amerika. "Kekuatan cintanya yang membara bagai api di horison". Itu kata pujian dari presiden Venezuela Hugo Chavez.
Ia tidak mendadak terjun dari langit. Ia dekat dengan rakyatnya. Menyatu bersama warganya di Illinois sebagai senator yunior dan menawarkan harapan besar bagi rakyatnya. Yaitu perubahan kehidupan. The New America.
Gandhi dan Obama sama-sama dekat dengan rakyatnya. Membawa misi perubahan dan menunjukkan kinerja mereka dalam takaran yang berbeda. Ketika mereka berjuang agenda rakyat yang diperjuangkan dan ketika mereka berbicara rakyat yang pertama kali disebutkan dalam kata-kata mereka.
Ketika mereka bernegosiasi rakyat yang diuntungkan dan dimenangkan. Bukan dirinya sendiri. Hati dan jiwanya tumbuh bersama hati dan jiwa rakyatnya. Mereka menjadi satu. Sangat dekat dan saling mendukung ("synergy in unity").
The living leader membawa perubahan bagi kesejahteraan rakyat. Minimum perubahan dalam hal human development indexnya (HDI). Mereka tidak pernah memakai cara kontrak-kontrakkan politik yang rumit itu. Namanya juga kontrak. Ia akan pindah jika kontrakannya sudah habis bukan?
Bagi kita menjadi lebih mudah mengenali pemimpin yang layak dipilih. Pertama, yang tidak sekedar menyurakan perubahan dan pemihakan kepada rakyat kecil (wong cilik). Tetapi, yang disertai program kerja yang realistis. Seperti yang dicontohkan Obama.
Kedua, bukan yang paling kencang teriakannya tentang perubahan (iklannya paling banyak). Tetapi, yang impiannya lebih masuk akal, wajar, dan dapat diterima oleh akal sehat rakyat biasa. Ketika rakyat mendengarkannya rakyat tersentuh dan hati kita pun tergerak untuk mendukungnya mati-matian. Yang tidak dapat menyentuh ("disconnected") dengan hati kita. Dialah yang paling dahulu harus kita pisahkan dari daftar pilihan. Lalu lupakan saja! "Leadership should be a living and fun, too".
"Huge Result"
Jim Collins dalam bukunya Good to Great membantu kita membuat pilihan kita lebih mudah. Pilihlah pemimpin yang hanya kita ketahui telah menunjukkan kinerja bagus di level yang paling kecil. Paling rendah. Tak perlu di level paling senior.
Dari level rendah inilah kita lebih mudah mengujinya. Catatan kinerjanya dapat kita dapatkan. Dapat kita analisa. Dan, dari situlah kita membuat keputusan. Pemimpin yang telah terbukti bekerja baik di level akar rumput di bidangnya.
Logikanya merekalah pilihan terdekat kita dibandingkan yang tidak pernah kita ketahui kinerjanya ("gelap kinerja"). Karena jika mereka sukses dan dapat dipercaya untuk tanggung jawab yang kecil maka mereka akan lebih mungkin sukses dan lebih mampu menangani tanggung jawab yang besar.
David Bohm, ahli fisika kenamaan, mengutarakan adanya koneksitas (connectedness) antara hal yang kecil dan hal yang besar ("everything is connected"). Sosok yang besar. Dukan dari janjinya yang besar. Tetapi, dari nilai-nilainya ("value"). Yang besar dan itu dicerminkan oleh perbuatannya. Kinerjanya yang nyata ("action", "execution").
Hati yang besar "menggerakkan" pengorbanan dan begitu ada pengorbanan maka hasilnya akan besar. Satu-satunya cara termudah untuk menilai kinerjanya adalah melihat dampaknya terhadap indikator kesejahteraan rakyat. Semakin banyak rakyat tidak lapar. Semakin banyak rakyat sehat. Semakin banyak rakyat berpendidikan. Dan seterusnya.
Jika indikator yang kasat mata itu tidak nampak. Lupakanlah dia. Entah itu siapa.
Harry "Uncommon" Purnama,
Penulis adalah Pembicara Motivation Leadership dari Mature Leadership Center
www.mature-leadership.com
(msh/msh)











































