Pemimpin Cerdas

Pemimpin Cerdas

- detikNews
Senin, 18 Mei 2009 13:06 WIB
Pemimpin Cerdas
Jakarta - Pemilihan presiden (Pilpres) 2009 akan dilaksanakan. Rakyat Indonesia akan melakukan pemilihan presiden dan wakil presiden yang akan menjadi pemimpin bangsa lima tahun ke depan. Pemilihan diharapkan bisa berlangsung satu kali saja dengan pertimbangan agar kepastian siapa pun pemimpin bangsa ini dapat segera diketahui, efisien, serta tidak berlarut-larut karena rakyat sudah lelah melakukan pemilu calon anggota legislatif (caleg) yang penuh hingar bingar.

Sambil menunggu kampanye presiden rakyat pemilih juga perlu mempersiapkan diri agar punya bahan pertimbangan yang rasional untuk menentukan kriteria pemimpin idolanya. Rakyat tidak lagi menggunakan kriteria yang tidak jelas. Program dan visi-misi yang bagus saja masih belum cukup sebagai suatu tolok ukur untuk memilih tokoh tertentu.

Di masa lalu hingga saat ini rakyat dibius dengan wacana yang sepintas populer dan menjanjikan. Contoh hal kombinasi jawa-luar Jawa, pemimpin militer, atau pemimpin sipil. Namun, untuk pemilihan saat ini sudah saatnya rakyat mau mengubah paradigmanya dengan keluar dari wacana-wacana yang disajikan para elit politik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Banyak capres masih melihat pemimpin sebagai jabatan dengan segala hak-hak kekuasaannya. Ini tampak dari aktivitas super sibuk para capres akhir-akhir ini untuk mencari sosok yang akan diajak berkoalisi yang dinilai dapat mewujudkan ambisinya dan memperkuat powernya sehingga kenyamanannya nanti saat berkuasa atau menjabat lebih terjaga.

Secara faktual pemimpin adalah orang yang harus berjuang lebih dahulu daripada masyarakat yang dipimpinnya, dan yang terakhir ketika menikmati hasilnya. Dengan kata lain kepentingan masyarakat di atas segalanya. Esensinya aktualisasi diri dan pengabdian. Ketika dia sudah berkerja dan memperlihat hasil yang signifikan adalah sesuatu yang wajar kemudian dia menikmati dan merasakan dari hasil dan buah kerjanya.

Pemimpin harus memiliki mental dan sikap yang kuat dalam menyimak setiap keadaan. Pemimpin tidak boleh membiarkan dirinya hanyut bersama keraguan. Tapi, ia harus selalu bermental kuat dalam disiplin yang tegas, lugas, dan cerdas agar setiap keadaan dapat dikendalikan secara baik.

Pemimpin cerdas tidak asal membuat keputusan dan tidak asal bertindak. Tapi, ia akan mempelajari setiap hal secara detail dan rinci agar tindakkannya tidak menciptakan kesalahpahaman. Ia akan berpikir cerdas dan bertindak cerdas. Tidak bertindak dalam ketidakpastian dan keraguan.

Pemimpin cerdas itu harus mampu membuat strategi, merencanakan dan menentukan mana yang harus didahulukan. Jangankan memimpin sesuatu yang besar. Untuk mengatur hal yang sederhana saja memerlukan kemampuan berfikir. Membuat sesuatu yang sederhana saja jika tidak memakai strategi tentu akan gagal. Apalagi untuk memimpin sesuatu yang besar. Jika seseorang tidak mampu menentukan mana yang harus didahulukan dan tidak mampu merencanakan. Itu ciri orang yang lemah kepemimpinannya.

Pemimpin cerdas akan selalu merenung dan bertanya kepada pengetahuan diri terbaiknya sebelum mencari solusi yang andal. Ia juga akan selalu memastikan tentang sebuah tindakan yang baik dan yang tidak baik.

Ia adalah seorang pemimpin cerdas yang tahu cara-cara terbaik dalam memformulasikan setiap persoalan bangsa sebelum bertindak. Ia selalu berpikir untuk kepentingan semua pihak dan tidak sekedar menghibur hati sekelompok orang dengan keputusan dan tindakkan yang kurang jelas.

Di Indonesia orang yang cerdas cukup banyak. Setiap kampus melahirkan sarjana setiap tahun. Tetapi, mengapa Indonesia masih menjadi negara yang belum mampu mensejahterakan rakyatnya? Cerdas yang baik adalah cerdas yang dibimbing oleh Allah SWT. Karena kecerdasan yang tidak tertuntun akan berpeluang merusak. Kebatilan yang dilakukan oleh orang yang cerdas lebih berbahaya dibandingkan oleh orang yang bodoh.

Jika orang bodoh mencuri ayam terkadang bukan ayamnya yang tertangkap. Justru dirinya yang tertangkap. Tetapi, jika orang cerdas mencuri bisa sampai miliaran atau triliunan rupiah bahkan bisa membuat negara menjadi bangkrut.

Bahwa Indonesia dikenal sebagai salah satu negara terkorup di dunia. Ini memang permasalahan bangsa yang dihadapi dan harus diatasi saat ini. Kita butuh pemimpin yang secara cerdas dan tegas berani melakukan perubahan memberantas korupsi tanpa pandang bulu sampai ke akar-akarnya. Sekali pun ada pihak-pihak yang menganggapnya sebagai mission impossible.

Dengan demikian pemimpin yang tidak berorientasi jabatan. Memenuhi common sense dan common practise dapat dikategorikan pemimpin cerdas yang kita cari. Dia pemimpin yang tidak akan terjebak pada masalah. Tetapi, terus proaktif mencari solusi dari problem kebangsaan saat ini.

Bambang Dirgantoro
Indopolis Jakarta Barat
politiksehat@yahoo.com
081380047657


(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads