Harus diakui memang perjalanan bangsa ini sejak masa kemerdekaan 1945, Orde Lama (Orla), Orde Baru (Orba), Masa Reformasi, hingga paska Reformasi dipenuhi gejolak dan dinamika kebangsaan yang dinamis. "Krisis Multi Dimensi" dalam ranah ekonomi, politik, sosial budaya, keamanan, dan bahkan sampai kepada krisis identitas kebangsaan sekali pun menjadi sejarah gelap bangsa ini.
Realitasnya angka kemiskinan dan pengangguran semakin meningkat, daya beli masyarakat semakin menurun, praktek korupsi semakin mendarah daging, moral masyarakat semakin tergerus, dan seabrek persoalan lainnya telah menjadi
justifikasi adanya proses yang terus bergulir. Pertanyaannya adalah sampai kapankah kita akan terus mengalami kondisi seperti ini? Bisa kah kita lebih maju lagi? Bisakah kita menjadi negara makmur dan terbebas dari cekikan kemiskinan? Hanya waktulah yang bisa menjawabnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
signifikan. Kehidupan ekonomi masyarakat semakin terpuruk, korupsi masih jalan terus, penegakan hukum terlalu beraroma tebang pilih, reformasi birokrasi kian kehilangan arah, angka kemiskinan dan pengangguran meningkat tajam, dan krisis moral serta identitas bangsa kian nyata. Semua itu mengakibatkan masyarakat semakin kehilangan kesabaran menjalani ini.
Adalah wajar bila masyarakat menuntut lebih atas prestasi negara ini dalam hal kesejahteraan dan kemakmuran. Karena negara ini terbentuk dengan tujuan mulia yakni mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Harus kita sadari bersama bahwa proses menuju kesuksesan bangsa ini tidaklah
semudah membalik telapak tangan. Siapa pun yang berkuasa di negeri bukankah seorang malaikat yang bisa mengubah segalanya dalam sekejap. Butuh kerja keras dan kekompakan seluruh stake holder bangsa ini dalam menggapai cita-citanya.
Pemerintah harus memaksimalkan kerja dan upaya untuk menorehkan prestasi gemilang dalam semua bidang dan aspek kehidupan masyarakat. Pihak oposisi harus benar-benar bersikap kritis konstruktif yang selalu ingin membantu membangun bangsa ini. Mengingatkan pemerintah bila salah jalur atau keluar dari kepentingan masyarakat.
Tetapi, bukan oposisi yang hanya bisa mengkritik tanpa memberikan solusi yang tepat. Apalagi hanya sekedar ingin menjungkalkan siapa saja yang berkuasa. Jika hal ini bisa dilakukan maka pelan tapi pasti bangsa ini akan beranjak dari keterpurukan menuju kesuksesan.
Bangsa ini harus kita bangun bersama. Dengan semua kemampuan yang ada. Tak ada kata menyerah dalam membangun bangsa ini. Kalau bukan kita siapa lagi yang bisa membangun dan membanggakan bangsa besar ini. Tentunya dengan prestasi terbaik.
Coba tengok sekilas. Torehan prestasi anak bangsa nan membanggakan dalam beberapa olimpiade internasional bidang Fisika. Sangat fantastis, mengharukan, dan membanggakan. Berdasarkan catatan Prof Yohanes Surya sewaktu mengikuti upacara pembagian medali "International Physics Olympiade XXXVII" di Singapore.
Kala itu mayoritas duta besar yang hadir, awalnya mencibir sinis kontingen Indonesia. Tapi, alangkahnya kaget dan malunya mereka ketika panitia menyebut nama "Muhammad Firmansyah Kasim" dari Indonesia sebagai pemenang medali perak.
Kejutan itu tak berhenti disitu saja. Tidak lama kemudian panitia kembali mengumumkan nama-nama pemegang medali emas. Saat itu para duta besar negara sahabat yang hadir kaget luar biasa karena ternyata ternyata medali emas itu kembali diraih oleh 4 anak Indonesia.
Dengan berpeci hitam dan jas hitam mereka maju ke panggung sambil mengibar-ngibarkan bendera merah putih. Sungguh mengesankan dan mengharukan. Semua duta besar langsung mengucapkan selamat pada duta besar kita sambil berkata bahwa "Indonesia hebat".
Kejutan itu tidak berhenti di situ saja. Ketika diumumkan "The Champion of the International Physics Olympiade XXXVII is 'Jonathan Pradhana Mailoa' from
Indonesia". Semua orang Indonesia bersorak. Bulu kuduk berdiri. Merinding. semua orang mulai berdiri. Tepuk tangan menggema cukup lama "Standing Ovation".
Hampir semua orang Indonesia yang hadir dalam upacara itu tidak kuasa menahan air mata turun. Air mata kebahagiaan. Air mata keharuan. Air mata kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang besar.
Melihat cerita di atas selayaknyalah kita sadar bahwa bangsa ini adalah bangsa yang cerdas dan memiliki kemampuan setara dengan negara-negara maju lainnya. Sikap inferior seharusnya dibuang jauh-jauh dari benak kita. Kita bisa menciptakan karya-karya dan prestasi-prestasi terbaik untuk bangsa tercinta ini.
Namun, selain torehan prestasi membanggakan bangsa ini harus sadar bangsa ukiran prestasi mengecewakan juga tak kalah banyaknya. Lihat bagaimana bangsa ini masih setia menduduki peringkat teratas negara paling korup di dunia. Begitu pula dengan cap negara "pembajak" terbesar di dunia dan lain sebagainya.
Keseluruhan prestasi di atas harus benar-benar menjadi pelajaran dan inspirasi untuk bagaimana mencarikan solusi dan alternatif pemecahannya. Penulis yakin kita mampu mengatasinya. Persoalannya sekarang adalah bagaimana kita menyiapkannya, merumuskannya, menjalankannya, mengevaluasinya, dan melakukan perbaikan atas seluruh yang ada. Selain persoalan tersebut adalah bagaimana kita menyiapkan mental dan moral kita untuk mengiringi seluruh proses yang ada.
Kekerasan hati dan keberanian mental, emosional, dan manajerial benar-benar
dibutuhkan dalam kondisi seperti ini. Mentally tough berarti tahan banting atas segala tantangan dan senantiasa bergairah dalam berprestasi. Sedangkan emotionally tough berarti bertindak mantap, bermental baja, berketetapan hati, tegas tanpa kehilangan rasa kemanusiaan. Dan, managerially tough berarti menaruh perhatian pada semua aspek, berpikir, dan bertindak ekonomis dan profesional, menjaga prestasi sesuai dengan visi dan misi yang dimilikinya.
Penulis yakin bila sinergi antara ketiga kekuatan mental di atas tercipta maka Indonesia akan benar-benar mampu mencapai cita-cita luhurnya. Mencapai masyarakat adil, makmur, dan sejahtera. Kita terus belajar menuju yang terbaik untuk bangsa ini. Amien.
Sholehudin A Aziz MA
Jl Al Ikhlas 6 B2A 11 Bumi Sawangan Indah 2 Depok
bkumbara@yahoo.com
081310758534
Penulis adalah Peneliti CSRC UIN Syarif Hidayatulalh Jakarta.
(msh/msh)











































