Entah apa yang ada dalam diri hewan ini. Tetapi, para ilmuwan banyak mengungkapkan bahwa hewan yang satu ini banyak memberi dampak negatif bagi manusia. Setelah terungkap bahwa babi memberikan puluhan penyakit bagi manusia yang mengonsumsinya kini babi pula menjadi sumber beredarnya penyakit yang sangat berbahaya sekali bagi manusia. Dampaknya, kita lihat sekarang, bagaimana babi bisa mengguncang perhatian sosial, kesehatan, bahkan ekonomi dan politik dunia.
Tentu semua ini tidak terjadi hanya begitu saja. Ada rekayasa Tuhan dalam keterjadiannya. Kenapa harus hewan babi yang Dia jadikan alat penyebaran penyakit berbahaya ini. Semua ini adalah misteri yang layak manusia ungkap dan jadikan pelajaran. Tetapi, dari itu semua minimal dapat difahami betapa berkuasanya Tuhan dan tidak berdayanya manusia. Hanya lewat perantaraan hewan babi saja manusia sangat panik dibuatnya. Terlebih virus yang menjadi sang pembawa hanyalah makhluk mikroskopis yang super mini dan tak terlihat panca indera.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suatu ketika tatkala sedang mengikuti perkuliahan dalam rangka bagian menempuh kesarjanaan di Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (Bandung), tepatnya pada mata kuliah Fisiologi dan Biokimia Ternak yang diajar oleh seorang Profesor, penulis menjadi tertegun. Tatkala sang Profesor menerangkan tentang kondisi fisiologi dan biokimia babi beliau bertutur bahwa secara fisiologi dan biokimia binatang yang sangat mirip keadaannya dengan manusia adalah babi.
Yang membuat penulis semakin terkejut adalah statement beliau yang menyatakan bahwa manusia yang kehidupannya tanpa dibingkai oleh penghias moral maka sesungguhnya tidak dapat dibedakan sedikit pun dengan hewan babi. Beliau berkata lagi bahwa mungkin itu alasan mengapa dalam Islam babi diharamkan untuk dikonsumsi. Oleh karena memang sama artinya dengan haramnya mengkonsumsi daging manusia. Wallahualam.
Bagi penulis ketika mendengar statemen itu kedengarannya sungguh sangat terlalu kasar. Karena, pada saat itu penulis berpendapat bahwa sebejat apa pun tidak ada seorang pun yang bersedia dirinya disamakan dengan binatang. Apalagi babi.
Binatang yag sangat menjijikan. Waktu itu kemudian penulis mencari referensi yang bisa membantah statemen Profesor tersebut dan referensi yang paling ampuh membantah opini itu adalah tentang kemuliaan manusia dibanding binatang yang bersumber dari Al Quran, kitab suci dari agama yang dianut oleh saya dan sang profesor.
Tatkala membuka lembar per lembar tafsir Al Quran untuk mempelajarinya, alih-alih mendapat ayat yang bisa dijadikan penulis untuk menyerang sang Profesor, yang terjadi malah sebaliknya. Penulis malah diketemukan dengan ayat-ayat Al Quran yang menegaskan tentang kehinaan manusia bila manusia itu tidak menjadi manusia seperti manusia yang diharapkan-Nya.
Saat itu penulis berfikir dari pada berdebat kiranya lebih baik untuk merenung mengkaji satetmen Professor tadi dan membuka tabir hikmah yang dapat mengajarkan sesuatu tentang nilai hakiki seorang manusia dalam kehidupan ini. Minimal untuk ajaran bagi penulis pribadi agar nilai hidupnya tidak lebih dari sekedar nilai hidup dari binatang babi.
Ada salah satu karakteristik babi yang sangat begitu terkenal. Bahkan, menjadi citra dirinya yaitu tentang habitat dasar kehidupannya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kiranya babi sangat popular sebagai hewan paling jorok dan rakus sedunia.
Bukti kejorokannya dapat terlihat dari tingkah lakunya yang tanpa jijik sedikit pun memakan apa pun yang ada di hadapannya. Tak terkecuali kotoran. Apa pun kotorannya. Manusia, binatang, tumbuhan, pula kotorannya sendiri. Semuanya merupakan santapan yang mengasyikkan buatnya.
Teknis memakannya pun tak lebih jauh jijiknya. Kotoran tersebut dikencingi lalu kemudian dilahap sampai tak bersisa. Habitat tingkah lainnya adalah tingkahnya yang super rakus. Hal ini dapat dilihat pada karakter asli pola makannya. Binatang ini akan memuntahkan makanan yang telah dimakannya. Lalu dimakannya kembali hanya untuk memuaskan syahwat perutnya.
Dari pola tingkah habitat asli babi ini kiranya Tuhan berkenan bersedia untuk mau mengajarkan kepada manusia tentang tata hidup yang hina bagi manusia. Manusia yang tidak mengindahkan aturan-aturan Tuhan dalam mencari sesuap rizkinya sehingga tidak lagi ada batasan aturan halal maupun haram dalam benaknya. Tidak memiliki perbedaan yang nyata dengan hewan babi.
Seandainya analisis ini benar pertanyaan penulis adalah apa bedanya babi dengan para koruptor? Kiranya pembaca bersedia menerangkannya.Β
Cecep Hidayat
Ciawi Bogor
hidayat_c2p@yahoo.com
081 318 916 757
Penulis adalah Peneliti Ternak di Badan Litbang Departemen Pertanian RI
(msh/msh)











































