Di Barat khususnya AS kredit merupakan suatu hal yang biasa. Masyarakat menjadikan kredit sebagai alur untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Bahkan, kebutuhan properti sehingga banyaknya kebutuhan yang dikonsumsi masyarakat berlabelkan kredit hal yang sangat biasa. Bahkan, dari sandal sampai rumah pun dapat dikreditkan. Kredit berkembang menjalar ke semua lini masyarakat. Menjadi sebuah tren pola kehidupan masyarakat Barat.
Dengan menjalarya kredit di masyarakat berimbas kepada pemerintah. Bahkan, kepada masyarakat Barat sendiri. Masyarakat tidak mampu untuk melunasi perkreditan. Kredit yang berangsur lama dengan bunga yang terus berjalan semakin besar menjadikan masyarakat tidak mampu membayar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketidakmampuan masyarakat untuk melunasi kredit menjadikan pemerintah dilema sehingga mencetak uang baru sebagai solusi untuk problem masyarakat. Keluarnya uang-uang baru sebagai sarana yang dipakai untuk melunasi perkreditan macet yang dialami masyarakat. Perusahaan bahkan negara menjadikan melambungnya peredaran uang yang melimpah. Maka terjadilah inflasi yang besar-besaran.
Ketidakrapihan perkreditan dan melimpahnya uang sehingga menjadikan inflasi. Solusi pemerintah yang kurang tepat menuai sebuah krisis besar-besaran terhadap sistem perekonomian negara AS.
Tidak hanya itu saja. Banyak efek yang ditimbulkan oleh pristiwa terjadinya krisis besar-besaran ini yang sekarang trennya dengan krisis global karena krisis ini berpengaruh terhadap negara-negara berkembang lainya. Seperti halnya dampak krisis yang terjadi di AS.
Dunia sedang gonjang-ganjing. Negeri Paman Sam yang selama ini menjadi poros Kapitalisme sedang terancam. Ibarat bangunan fondasi utamanya mulai keropos sehingga dikhawatirkan akan berdampak pada ambruknya pilar-pilar penyangganya. Jika itu terjadi bisa jadi dunia benar-benar akan mengalami "kiamat kecil".
Banyak hal yang diterapkan di Barat tidak sesuai dengan mekanisme ekonominya. Dengan sistem ekonomi Kapitalisme dan juga Sosialisme yang dianut oleh Barat dan dimasuki juga dengan paham-paham Liberalisme menjadikan Barat negara yang sekuler. Baik dalam hal pemikiran dan bahkan dalam hal perekonomian. Semua dianggap bebas. Semua berhak dan semua dapat berasumsi dengan sangat bebasnya.
Dangan terjadinya krisis global yang semakin marak di kalangan perekonomian dunia timbul hujatan-hujatan yang diarahkan kepada sistem ekonomi Kapitalis yang sekian lama terpuruk tanpa solusi. Hingga saat ini menjadi salah satu cikal bakal ketidakstabilan ekonomi AS. AS adalah negara Kapitalis terbesar dan termasuk negara yang menganut sistem ekonomi neo-liberal mempunyai daya pikat yang sangat signifikan terhadap negara-negara berkembang. Tak terkecuali Indonesia.
Negara-negara berkembang yang dipayungi oleh AS mulai merasakan dampaknya. Kebocoran terjadi di mana-mana. Tidak hanya dalam segi money politic dan ekonomi saja. Bahkan yang lebih penting etika dan moral tidak lagi dianggap sebagai identitas dan batasan-batasan masyarakat dalam berbuat.
Fenomena ini terus berjalan di negeri adi daya dan adi kuasa tersebut. Bahkan timbul asumsi bahwasanya perekonomian AS sedang berada di ujung tanduk. Tinggal menunggu kehancuran sebuah sistem ekonominya.
Namun, pada waktu pemerintahan "Bush" para analis bersikap skeptis dengan optimisme Bush dan para pejabat perekonomiannya. "Orang-orang di pemerintahan tidak paham apa yang dialami rata-rata rakyat AS. Mereka saat ini dalam kondisi sangat tertekan. Rumah-rumah mereka sudah tidak ada harganya lagi. Mereka terlilit hutang kartu kredit", kata Israel Adelman, seorang trader dari perusahaan Fordham Financials di Wall Street.
Sejumlah analis berpendapat inilah detik-detik kehancuran ekonomi negara adi daya AS. Negara yang menganut sistem ekonomi Neo-liberal dan menancapkan ekonomi Imperialisnya ke berbagai belahan negara akhirnya ambruk juga. "Esensinya, riwayat AS sebagai kekuatan ekonomi global sudah tamat", kata Max Keiser, seorang analis pasar di Paris. "Skenario kiamat ini hanya akan terjadi di AS dan Inggris yang masyarakatnya hidup dari uang pinjaman dari generasi ke generasi", lanjut Keiser.
Allister Heath, editor surat kabar finansial London's City A.M menambahkan ketika bank-bank besar seperti Lehman mengalami kebangkrutan yang terkena dampaknya juga masyarakat kecil. Termasuk para pensiunan yang mempercayakan uang pensiunnya diinvestasikan di bursa-bursa saham yang kebanyakan ditanamkan di sektor perbankan. Selain itu, kata Heath, ribuan orang juga akan menjadi pengangguran.
Pada akhirnya situasi ini akan menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat pada lembaga keuangan. Termasuk pada pemerintah dengan sistem perekonomian Neo-liberalnya yang ternyata rapuh. Sebuah gambaran yang tragis bagi sebuah imperium bernama AS yang selalu sesumbar dengan sistem perekonomian Kapitalis yang disebarkannya ke seluruh dunia ternyata tak mampu menolong perekonomian di negerinya sendiri. Bagaimana? Masih silau dengan gemerlapnya AS?
Elvan Syaputra
Institut Studi Islam Darussalam Ponorogo
elvansyaputra@gmail.com
085267354065
(msh/msh)











































