Melalui tulisan ini diharapkan dapat menggugah kesadaran para calon anggota dewan yang terhormat akan peran dan kontribusi pertanian yang tidak hanya bagi pembangunan ekonomi bangsa. Namun, juga untuk menjunjung martabat bangsa. Sudah cukup banyak pemerhati dan ahli yang memiliki perhatian pada pembangunan pertanian dan sumber daya menggarisbawahi akan pentingnya menggagas masa depan pertanian nasional.
Kalau kita menengok tragedi krisis ekonomi global yang saat ini tengah berlangsung di belahan dunia nampaknya pertanian sebagai akar awal profesi kehidupan di banyak negara menemukan kembali momentumnya untuk menjadi penggerak pekonomian bangsa.
Ada pemberitaan yang sangat menarik dari Asahi Shimbun (16/4/2009) yang mengulas tentang strategi pada masa sulit bagi ekonomi Jepang. Dimulai sejak bulan lalu ketika pemerintah meluncurkan paket stimulus ekonomi di mana salah satunya adalah revitalisasi pertanian. Banyak tenaga muda produktif yang kehilangan pekerjaan di sektor industri dan jasa diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan berbagai proses produksi pertanian.
Kemudian mereka (2.400 orang) dipekerjakan di berbagai sektor pertanian. Baik perusahaan pertanian, koperasi pertanian, maupun rumah tangga pertanian skala besar. Mereka mendapat upah yang layak yang tidak kalah dengan upah bekerja di industri.
Situasi ini merupakan momen yang tepat di tengah semakin berkurangnya dan menuanya para pekerja pertanian di seluruh wilayah Jepang. Selain sebagai jaring pengaman sosial program ini juga diarahkan untuk menjamin kedaulatan pangan dan merevitalisasi pembangunan pertanian.
Belajar dari strategi Jepang sebagai negara industri terkemuka yang masih memiliki perhatian besar pada pertanian mestinya Indonesia yang masih memproklamirkan diri sebagai negara agraris harus melakukan perhatian dan tindakan yang jauh lebih serius dari yang dilakukan Jepang. Dengan kontribusi pertanian sekitar 17 persen pada GDP nasional dan kemampuan menampung angkatan kerja sekitar 40 persen nampaknya tidak ada alasan yang kuat dan logis untuk mengabaikan pembangunan pertanian Indonesia.
Selain itu pertanian juga merupakan penyumbang devisa negera yang cukup signifikan. Dengan semakin kokohnya dominasi produk perkebunan seperti kelapa sawit, karet, kakao di pasar dunia potensi devisa yang dapat diraup semakin terbuka lebar. Fungsi lain yang kadang terlupakan adalah fungsi konservasi dan kemampuan pertanian untuk memberikan ruang hidup yang nyaman, segar, dan udara yang bersih memiliki nilai yang sangat strategis.
Masih banyak persoalan substansial yang belum terpecahkan. Bukan hanya persoalan klasik peningkatan produktivitas lahan dan teknologi saja. Persoalan mendasar utamanya akses petani terhadap unsur utama pertanian juga belum terselesaikan.
Paling tidak akses terhadap lahan, benih, dan air. Reformasi agraria yang beberapa saat yang lalu dikumandangkan juga belum menunjukkan tindakan yang nyata. Kesulitan petani mengakses benih berkualitas dengan harga terjangkau juga masih menjadi mimpi.
Β
Oligopoli atau bahkan monopoli sarana produksi oleh perusahaan multinasioanl yang bisa mendikte harga juga sangat menyulitkan petani. Isu privatisasi air serta layanan irigasi yang belum optimal juga masih menjadi isu besar bagi petani pangan.
Kalau akses dasar pertanian sudah terpenuhi akses-akses sekunder dan tersier yang muaranya peningkatan kesejahteraan petani perlu terus didorong. Akses terhadap pembiayaan, pasar, dan pengolahan hasil juga sangat penting.
Pemberian ruang partisipasi dan kebebasan petani untuk mengekpresikan kepentingannya juga sangat urgen. Masih menjadi mimpi panjang sebagaimana petani melalui koperasi menjadi kekuatan yang hebat yang mampu menyuarakan dan membela kepentingan warganya seperti di Jepang dan negara-negara Eropa.
Prioritas pembangunan pertanian yang hampir selalu berada di bawah baik di level nasional maupun daerah masih menjadi hal biasa selama beberapa tahun terakhir. Apalagi di era otonomi daerah di mana otoritas kepala daerah dan DPR daerah dalam penentuan prioritas pembangunan yang kadang masih melihat pertanian sebagai sektor yang hasilnya lama sehingga menjadi kurang menarik bagi mereka.
Dengan potensi lahan yang sangat besar, komoditas yang sangat beragam, serta pangsa pasar yang sangat besar pertanian sudah seharusnya menjadi leading sektor yang juga dapat menentukan martabat bangsa. Jika Indonesia mampu menghasilkan berbagai produk pangan serta produk-produk lainnya baik perikanan, peternakan, perkebunan, kehutanan, dan lain-lain yang mampu menguasai pasar dunia maka Indonesia tidak hanya disegani secara ekonomi. Namun, akan sangat kuat ditinjau dari geopolitik internasional.
Martabat bangsa akan berkibar karena kita akan menjadi salah satu bangsa yang menentukan pasokan pangan dunia. Mestinya ini bukan hanya sekedar mimpi. Namun, perlu direalisasikan dengan semangat dan kerja keras kita bersama.
Para calon wakil rakyat yang terhormat itulah peran strategis dan peluang pertanian bagi pembangunan bangsa. Buktikan dan tunjukkan bahwa banyak di antara anda yang saat kampanye lalu menyuarakan pentingnya pembelaan pada wong cilik dan petani.
Kepedulian dan keberpihakan anda terhadap pembanguan pertanian yang akan menguji apakah janji dan kampanye anda sekedar lips service ataukah memang merupakan cita-cita mulia untuk kemakmuran bangsa. Waktu yang akan membuktikan dan mengujinya. Mari bersama-sama kita tunggu.
Subejo
Dosen UGM, PhD Candidate The University of Tokyo dan Ketua IASA Jepang
(msh/msh)











































