Namun, setelah salah satu mimpi saya di atas menjadi kenyataan sekarang ternyata saya sangat bersyukur karena mimpi kedua tidak menjadi kenyataan. Paling tidak hingga tulisan ini dibuat. Ternyata begitu repot kita dibuat oleh salju. Mulai dari penyediaan listrik yang memadai sebagai sistem penghangat atau pun kayu bakar sebagai alternatif.
Bayangkan. Di saat sekarang saja listrik yang tersedia sering terkena pemadaman bergilir. Belum lagi pepohonan yang bakal dipotong sebagai kayu bakar. Dapat dibayangkan orang-orang yang hidup di kolong jembatan mungkin akan kedinginan selama musim tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Juga harus tersedia kendaraan-kendaraan besar untuk membersihkan tumpukan salju di jalan setiap harinya. Tentunya kendaraan-kendaraan tersebut tidak jalan sendirinya. Hutuh bahan bakar. Dengan kondisi cadangan minyak yang semakin menipis tentunya bahan bakar akan tersita untuk mobil-mobil setiap musim salju.
Dengan kondisi sekarang transportasi udara yang sering mengalami kecelakaan bisa kita bayangkan seandainya salju terjadi. Sewaktu musim salju kemarin Bandara Heathrow (London) yang sarana dan prasarananya semakin maju dan katanya didarati oleh pesawat-pesawat yang "qualified" menutup sementara waktu selagi badai salju.
Bisa kita bayangkan lalu lintas udara di Indonesia akan kacau dan mungkin semakin banyak kecelakaan-kecelakaan terjadi. Dan, masih banyak lagi dampak-dampak negatif lainnya bagi negara kita bila turun salju.
Jadi saya sangat bersyukur. Indonesia yang terletak di daerah tropis ini tidak mengalami 4 musim seperti negara tempat saya berada sekarang. Semoga pemanasan global tidak mewujudkan mimpi saya yang kedua di atas. Selamat Hari Bumi.
Luky Hendraningrat
Penulis adalah Mahasiswa S2 Jurusan Teknik Perminyakan di Norwegian Institute of Science and Technology (NTNU) Trondheim - Norwegia
(msh/msh)











































