Rakyat Butuh Pemimpin Simpatik Bukan Pemanuver Politik

Rakyat Butuh Pemimpin Simpatik Bukan Pemanuver Politik

- detikNews
Senin, 20 Apr 2009 09:13 WIB
Rakyat Butuh Pemimpin Simpatik Bukan Pemanuver Politik
Jakarta - Jika pemilihan umum (pemilu) legislatif 2009 disebut-sebut sebagai pemilu yang paling buruk dari Pemilu 2004 dan pemilu-pemilu yang pernah ada di Indonesia mungkin ada benarnya.

Menyikapi laporan pelanggaran-pelanggaran selama pelaksanaan pemungutan suara,
banyaknya masyarakat yang tidak terdaftar dalam DPT, hingga lambatnya proses tabulasi suara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) kita setuju satu hal: pemilu legislatif kali ini tidak sempurna.

Tetapi, untuk setuju pada hal lain: desakan seperti pembubaran KPU atau pelaksanaan pemilu ulang rasanya nanti dulu. Karena tidak jelas maksud dan tujuan sebenarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apakah setelah KPU benar-benar dibubarkan tidak akan ada lagi pelanggaran-pelangaran dan semua rakyat Indonesia yang berhak memilih masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT). Atau apakah dengan pemilu ulang Partai Hanura, PAN, atau PDIP, atau Gerindra bisa naik ke nomor urut pertama. Atau menambah perolehan suara tambahan untuk duduk di Senayan. Rasanya belum tentu juga.

Walaupun tingkat pendidikan rata-rata rakyat Indonesia rendah tetapi kemampuan bersimpati dan berempatinya tidak boleh dianggap rendah. Masih ingat ketika rakyat melihat dan merasakan Ibu Mega ditekan oleh Soeharto. Atau ketika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) disingkirkan oleh Ibu

Mega. Saat itu simpati rakyat jatuh kepada Ibu Mega yang seolah tidak berdaya di bawah pemerintahan Soeharto. Lalu ketika Ibu Mega berkuasa simpati itu jatuh kepada Bapak SBY yang (rakyat melihat) didzolimi oleh Ibu Mega.

Dalam mempersiapkan pemilu-pemilu berikutnya termasuk pemilihan presiden (pilpres) mendatang rakyat Indonesia tidak menginginkan calon anggota legislatif (caleg) dan presiden yang grasak-grusuk, bersuara lantang, dan sibuk dengan trik-trik dan manuver politik. Seperti air yang mencari tempat yang paling rendah. Dia akan mengalir dan jatuh kepada mereka yang terlihat paling tenang dan membutuhkan dukungan.

Jadi, semakin para elit politik yang tidak puas tidak bisa menerima kenyataan dan bersuara nyaring (seolah) membela rakyat maka semakin jauh pulalah hati rakyat darinya. Karena rakyat --lebih dari sebatas individu, kelompok, atau partai dengan kedaulatan politik yang dimilikinya tidak akan tertarik dengan manuver atau kucing-kucingan politik. Tetapi, tertarik kepada pemimpin yang simpatik.

Barangkali hal ini jugalah yang menjadi pengingat bagi SBY dan tim suksesnya untuk tidak terlalu membanggakan prestasinya. Karena, bisa saja karena kesombongan itu tiba-tiba rakyat memutuskan pindah hati.

Erwin Robinson
Jl Sawo No 43 Depok
erwinrobinson@gmail.com
081808787455


(msh/msh)


Berita Terkait