SBY, Pilpres 2009, dan The Real War

SBY, Pilpres 2009, dan The Real War

- detikNews
Senin, 13 Apr 2009 09:44 WIB
SBY, Pilpres 2009, dan The Real War
Jakarta - Hajatan besar pesta demokrasi bangsa ini --pemilihan umum (pemilu) legislatif 2009, kini telah usai. Menurut versi Quick Account Partai Demokrat di bawah bayang-bayang kebesaran Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sampai saat ini masih memimpin. Meninggalkan partai Golkar dan PDIP sebagai partai mapan dan besar.

Itulah fenomena terbesar politik negeri ini. Namun demikian pertarungan sesungguhnya (the real war) bukan pada pemilu legislatif ini. Namun, pada pemilu presiden (pilpres). Pertarungan menjadi orang nomor 1 di negeri ini menjadi klimaks pertarungan politik negeri ini.

Tak pelak suhu politik menuju pilpres akan semakin panas dan menegangkan. Konstelasi paska pemilu legilastif ini pun mulai berubah dan peta koalisi pun semakin menemukan titik terang pertemuannya. Kini, tinggal menunggu langkah-langkah strategis apa yang akan diambil tiap partai yang masuk ambang batas electoral tresshold.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk itu, sebagai konsekuensinya, seluruh mesin partai harus tetap dalam status "siaga 1" menyiapkan kembali seluruh kekuatan politiknya untuk memenangi pilpres mendatang. Kampanye terbuka partai, beragam metode kampanye, paparan program, dan janji keberpihakan kepada masyarakat harus kembali ditata ulang demi meraih kursi presiden mendatang.

Harus diakui bahwa persaingan menuju kursi RI 1 begitu ketat. Kedigjayaan Partai Demokrat menjadi momok menakutkan bagi partai-partai lainnya. Termasuk PDIP dan Golkar sekali pun. Di sinilah kejelian, ketepatan, dan keakuratan jalinan koalisi dipertaruhkan. Salah berkoalisi maka kegagalan menjadi taruhannya.

Faktor Tokoh

Munculnya figur populer "SBY" telah menjadi fenomena tersendiri bagi dunia perpolitikan tanah air. Daya magnet wibawa dan kharismanya mampu menyihir publik Indonesia untuk menjadikan partai demokrat sebagai partai favorit pemilu legislatif 2009.

Suka atau tidak suka ketokohan SBY menjadi daya tarik luar biasa. Jadi wajar bila banyak pengamat memprediksi bahwa "dengan siapa pun SBY disandingkan dalam pilpres mendatang, maka dia akan menjadi pemenangnya". Benarkah demikian? Kita tunggu kebenarannya.

Selain di atas faktor kurang bagusnya performance partai-partai lain seperti PDIP dan Golkar yang notabene sebagai partai mapan dan memiliki pengalaman panjang juga sangat mempengaruhi "berjalan mulusnya" karir politik SBY. PDIP sering kali gagal menjadi kekuatan penyeimbang (oposisi) yang elegan. Apalagi dapat meraih simpati publik.

Yang ada malah "senjata makan tuan" seperti polemik Bantuan Langsung Tunai (BLT) di mana posisi PDIP terkesan mendua dan tidak tegas. Sementara itu Golkar terlanjur Percaya Diri sehingga terjebak dalam optimisme semu. Banyaknya persoalan "internal" partai dan keraguan politik Jusuf Kalla (JK) dalam konstelasi dan pewacanaan calon presiden (capres) misalnya menjadikannya kurang diapresiasi oleh konstituennya.

Konsekuensi Politik
Dalam teori tentang kelompok dan hubungan antar kelompok (Social Identity Theory dan Social Categorization Theory) bahwa dua kelompok yang berkompetisi memiliki potensi untuk konflik. Dampak kompetisi mestinya ada yang kalah dan ada yang menang.

Begitu pula dalam pilpres mendatang. Perjuangan sampai titik darah penghabisan para capres akhirnya akan menemukan sebuah keputusan akhir yaitu menang alias terpilih atau sebaliknya kalah alias tidak terpilih.

Jika kemenangan yang didapat maka ia akan dapat membawanya ke puncak kekuasaan. Namun, bila kekalahan yang di dapat maka "kiamat kecil" siap menghampirinya. Kiamat yang bisa menenggelamkan seluruh kesempatan "berkuasa" demi memperjuangkan negeri ini menuju yang lebih baik lagi.

Pertaruhan Mental
Untuk itulah kesiapan mental para capres haruslah sejak dini dipersiapkan. Jika menang diharapkan tidak jumawa, sombong, dan tinggi hati serta tidak melupakan janji-janji politik yang pernah disampaikan kepada masyarakat. Apalagi melakukan korupsi. Ingat "kekuasaan itu cenderung korup dan kekuasaan absolut pasti korup" (Lord Acton, 1887).

Namun, jika harus kalah maka sportivitas, obyektivitas, dan pengakuan akan kekalahan harus menjadi benteng terakhir. Sehingga kekecewaan yang berlebihan tidak benar-benar terjadi.

Melihat seluruh potret di atas penulis berharap terdapat kesadaran yang penuh dari seluruh capres yang ada agar benar-benar bersikap lebih realistis dan penuh perhitungan dalam mengejar sebuah mimpi menjadi presiden terpilih 2009 yang terhormat. Mental para capres ini harus kokoh disertai sikap arif dan bijaksana agar kelak bila akhirnya harus meraih sukses atau takdir menentukan gagal maka jiwa sportivitas dan profesional serta elegan menjadi dasar penerimaannya.

Kepada seluruh capres kelak penulis ucapkan selamat menuju peperangan yang sesungguhnya (the real war). Torehan sejarah akan mencatatmu sebagai pioner demokrasi di negeri ini walau dengan sejuta pengorbanan yang tak ternilai. Kalah dan menang dalam sebuah kompetisi adalah wajar. Motto "siap untuk menang dan kalah" harus dipegang teguh. Semoga para capres kita dapat berjiwa besar untuk sebuah kemenangan dan kekalahan sekali pun.

Sholehudin A Aziz MA
Jl Al-Ikhlas 6, BSI 2, Pengasinan, Depok
bkumbara@yahoo.com
081310758534

Penulis adalah Peneliti CSRC UIN Jakarta.


(msh/msh)


Berita Terkait