Semoga Indonesia Tidak Benar-benar Kehilangan Anatomi Nilai

Semoga Indonesia Tidak Benar-benar Kehilangan Anatomi Nilai

- detikNews
Jumat, 03 Apr 2009 09:41 WIB
Semoga Indonesia Tidak Benar-benar Kehilangan Anatomi Nilai
Jakarta - Ada yang menarik dalam tulisan sebuah harian terkemuka nasional pada Minggu, 29 Maret 2008 mengenai bencana Situ Gintung. Pada halaman empat dengan judul "Menonton Musibah". Pada awal rubrik penulis mendeskripsikan suasana haru di daerah bencana pada Jumat, 27 Maret 2009 malam. Puluhan muda-mudi mondar-mandir turun naik di jalan yang berlumpur mengantar berbagai macam bantuan. Kemudian polisi, tentara, mahasiswa, dan sukarelawan terus bekerja dan merancang tugas untuk besok hari.

Setelah itu inilah yang menarik. Ternyata kawasan bencana "seakan-akan" menjadi arena wisata. Masyarakat datang untuk menyaksikan apa yang mereka rasa dan lihat sendiri di lokasi bencana. Mereka seakan-akan ingin membandingkan antara yang di TV dan yang sebenarnya.

Masyarakat di sini ingin mendapatkan "experience" yang sebenarnya. Bahkan penulis menambahkan bahwa ada masyarakat yang membawa serta keluarganya untuk melihat langung di lokasi kejadian. Meskipun jalan licin dan berbatu. Nampak oleh saya di TV, police line menjadi tidak berharga bagi sebagian orang. Semua orang mendekat untuk melihat lokasi bencana.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika hal itu dilakukan oleh masyarakat yang memang berkepentingan memang sah-sah saja. Namun, jika dilakukan oleh orang yang hanya sekedar melihat maka hal ini terasa kurang pas karena malah menghambat proses pencarian dan evakuasi. Inilah yang terjadi di Indonesia. Sama seperti kasus Lapindo. Ketika melewati Porong Sidoarjo banyak mobil berhenti hanya untuk menonton lokasi lumpur tersebut. Bahkan di beberapa bagian banyak yang menyediakan ojek motor untuk mendekati lokasi bencana.

Menyikapi masalah Situ Gintung penulis kemudian membawakan komentar dari sutradara dan budayawan Garin Nugroho yang dihubungi Sabtu, 28 Maret 2009. Menurut Garin Nugroho, masyarakat ingin merasakan sensasinya (atau saya menyebutnya sebagai "experience"). Merasakan sensasi saudara-saudaranya yang sedang susah. Merasakan sensasi kengerian melihat kiamat di satu tempat. Ditambahkan oleh Garin, bahwa inilah maximum reality show televisi.

Prediksi saya hal ini berkorelasi juga dengan berjamurnya serial reality show di beberapa stasiun TV. Masyarakat ingin merasakan emosi secara langsung dengan aktivitas yang terjadi. Garin juga mengatakan bahwa ini terjadi karena tumbuhnya tradisi televisi dan birokrasi negara yang buruk.

Kemudian Emha Ainun Nadjib juga berkomentar bahwa hal ini bisa terjadi karena bangsa Indonesia sudah kehilangan anatomi nilai. Emha menegaskan bahwa masyarakat tidak bisa lagi membedakan dan merasakan apa itu malu, penyesalan, kerendahan hati, kesombongan, kesusahan atau kegembiraan. Meski demikian, kata Emha, itu menjadi cara bangsa Indonesia memelihara daya tahan mereka teradap penderitaan yang bukan karena tindakan mereka. Mereka sadar, suatu saat, mereka akan kena bencana dan ditonton.

Yang menarik perhatian saya dari pernyataan Emha adalah apakah benar bangsa kita sudah kehilangan anatomi nilai. Bisa jadi. Atau menurut saya jika "kehilangan anatomi nilai" terlalu kasar untuk bangsa kita. Saya lebih suka dengan asumsi bahwa masyarakat kita saat ini sudah berbeda pandangan mengenai anatomi nilai. Atau dengan kata lain adanya persepsi yang berbeda mengenai anatomi nilai dalam suatu masyarakat.

Rasa malu, penyesalan, kerendahan hati, kesombongan, kesusahan, atau kegembiraan digambarkan secara berbeda-beda oleh masyarakat saat ini. Ada yang menggambarkan suatu kesedihan dengan skala 4. Namun, orang lain mungkin kesedihan hanya perlu dengan skala 3 atau 2. Artinya ada perbedaan dalam menyikapi sesuatu. Terus terang saya belum tahu sejauh mana tingkat signifikan pebedaan tersebut karena bagi saya tidak mudah untuk membandingkan hal ini.

Perbedaan ini bisa dilihat dari komentar Garin di atas yang mengatakan bahwa (mereka yang datang ingin) merasakan sensasi saudara-saudaranya yang sedang susah. Mereka yang datang mungkin punya persepsi yang berbeda bahwa dengan kedatangannya sudah membantu yaitu dengan merasakan kesedihan korban bencana. Meskipun dengan datang saja tidak akan menyelesaikan masalah. Korban bencana membutuhkan lebih dari sekedar merasakan saja. Mereka lebih membutuhkan bantuan secara finansial dan minimal doa.

Saya berharap semoga kita tidak benar-benar kehilangan anatomi nilai. Namun, saat ini hanya berbeda persepsi saja. Meskipun hal itu juga kurang bijaksana untuk bangsa
ini.

Krisna
Komplek Puspitek Blok V-E / 8 Serpong Tangerang
krisnafr@gmail.com
085216192839



(msh/msh)


Berita Terkait