Membaca Pesan Tragedi Situ Gintung

Membaca Pesan Tragedi Situ Gintung

- detikNews
Selasa, 31 Mar 2009 08:57 WIB
Membaca Pesan Tragedi Situ Gintung
Jakarta - Indonesia kembali berduka. Di tengah hingar bingar pesta pora kampanye terbuka. Bencana membius kembali Indonesia. Perhatian publik yang semula berarah kepada janji-janji para politisi menjadi beralih terpusat ke bencana. Tepatnya di Situ Gintung Tangerang Banten tragedi itu terjadi.

Ratusan jiwa meninggal seketika. Tak terhitung pula berapa kehilangan materi yang terjadi. Bencana Situ Gintung merupakan estafet lanjutan dari runtutan rangkaian bencana yang telah sering hadir ke Indonesia. Tidak luput dari ingatan kita bagaimana tsunami mululuhlantakkan Aceh dan Pangandaran. Kemudian gempa bumi menggoyang Yogyakarta. Serta beberapa bencana lainnya.

Dan, kini oleh Situ Gintung. Indonesia kembali diberi pelajaran yang sangat berharga. Setiap bencana tidak dapat hanya dipandang secara lahiriah dan ilmiah semata karena bagi manusia beriman setiap fenomena di alam semesta ini tidak bisa lepas dari izin dan kehendak Allah SWT.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam sebuah Hadits Nabi Muhammad telah memperingatkan bahwa tidaklah setiap bencana atau musibah menghinggapi seseorang atau suatu kaum atau suatu negeri tidak lain merupakan buah hasil dari perbuatannya sendiri. Beliau bersabda kondisi itu sangat ditentukan oleh akibat faktor telah merajalelanya kedurhakaan-kedurhakaan yang dibuat manusia.

Hadirnya bencana yang dapat mematikan manusia secara massal dalam sekejap dan tanpa diduga-duga membuat kita harus semakin sadar akan betapa beragam dan mudahnya jalan-jalan kematian yang dapat menjumpai manusia. Serta memberikan pelajaran akan kefanaan diri serta semesta bumi ini.

Hal ini pula harus semakin memutar orientasi hidup masing-masing kita. Pangkat, jabatan, harta, popularitas, yang banyak mengecoh sebagian besar manusia sehingga menempatkannya sebagai tujuan hidup harus segera dievaluasi eksistensi kebenarannya.

Kembali kepada salah satu ayat Al Quran yang menyebutkan bahwa segala musibah atau bencana yang menimpa seseorang atau suatu kaum atau suatu negeri merupakan "hadiah" dari hasil perbuatannya sendiri. Dengan landasan  ayat ini kita dapat melihat fenomena beruntunnya keterjadian bencana yang terjadi di negeri ini sebagai buah dari semakin merajalelanya aktivitas amoral di negeri ini. Penanggulangannya tidak dapat hanya ditanggulangi secara lahiriah dan ilmiah semata. Tetapi, lebih dari itu, pula harus dienyahkan dengan mengikuti pandangan moralitas spiritualitas.

Kalau kita melihat prestasi kemaksiatan negeri ini kiranya wajar bencana menghujani Indonesia. Coba hitung berapa pencapaian "prestasi" aktivitas KKN (kolusi, korupsi, dan nepotisme. Khusus korupsi Indonesia merupakan salah satu jagoan besar di muka bumi ini. Itu baru contoh salah satu. Belum kedurhakaan aktivitas lainnya yang berhubungan dengan narkoba, perzinahan, aborsi ilegal, dan lain sebagainya.

Gerakan taubat nasional kiranya salah satu upaya mendasar yang harus digerakkan di negara ini. Agar terenyahkan dari segala bencana-bencana yang menghinggapi. Adalah dengan mencanangkan sebuah "gerakan taubat nasional".

Taubatlah pintu pertama dari terbukanya segala pintu-pintu anugerah dari Allah SWT. Indah kiranya ketika dari tingkat pimpinan atas nasional, daerah, beserta seluruh rakyat, menghiasi selalu hari dan dirinya dengan pertaubatan. 

Taubat merupakan sesuatu yang sangat dicintai oleh Allah SWT. Walau betapa besar dosa yang telah diperbuat ruang ampunan Tuhan sangat jauh lebih besar lagi. Pribadi bertaubat adalah pribadi yang sangat disayangi-Nya. Allah SWT  berjanji bahwa ketika Dia telah mencintai seorang hamba maka Dia akan tampil menjadi penjaga sejati hamba tersebut selama-lamanya.

Dari semua analisis di atas telihat jelas bahwa pembangunan spiritual dan moralitas bangsa sangat nyata akan membawa kemajuan bagi sebuah bangsa. Karena dapat dibayangkan bangsa yang taqwa akan selalu berada dalam perlindungan Tuhan sehingga dapat memangkas anggaran belanja negara yang selama ini digunakan untuk recovery bencana atau musibah. Untuk kemudian dapat digunakan pembiayaan pembangunan bangsa tersebut. 

Tidak hanya untuk menyelesaikan masalah bencana semata. Tetapi, juga untuk mengobati multi krisis yang menjangkiti negeri ini. Cara pandang Tauhid - Iman yang memandang setiap penyelesaian masalah harus dikembalikan kepada pemilik. Jalan keluar setiap masalah (Tuhan) sangat substansial dan amat penting menjadi langkah utama dalam setiap upaya pengendalian suatu bencana. 

Oleh karena itu dalam pemilu ke depan kiranya kita harus pintar memilih
pribadi-pribadi bertauhid beriman bertaqwa sebagai wakil dan pemimpin kita di pemerintahan. Wakil rakyat dan presiden yang bertauhid beriman bertaqwa dijamin akan memberikan keberkahan bagi Negara ini. Karena dalam menjalankan tugas kenegaraannya beliau selalu dibimbing oleh Sang Tuhan. 

Manusia bertauhid beriman bertaqwa memiliki ciri nyata berupa manusia yang selalu terikat hati dan jiwa raganya dengan Tuhan, dan menjadikan tugas kenegaraannya sebagai sebuah ibadah dan pengabdian kepada Sang Maha Pencipta. Serta memiliki ketakutan yang teramat sangat ketika menghianati-Nya.

Prinsip itu akan tertampak nyata dalam aktifitas hidupnya yang selalu mengutamakan kejujuran dan berbagai keutamaan kebaikan lainnya. Karena semua komponen-komponen tubuh yang ada pada jiwa raganya telah terikat kuat kepada Sang Maha Penguasa yang mutlak.

Dari semua argumen di atas bencana Situ Gintung harusnya memberikan pelajaran yang sangat besar bagi manusia. Terutama mengenai ketidakberdayaan manusia dalam menjalani kehidupannya.

Apabila tanpa menghadirkan perlindungan Sang Khalik dalam setiap sesi nafas hidupnya. Setiap bala bencana baik yang terlihat maupun tidak selalu mengintai untuk menghantam kita setiap waktu. Hanya kebersandaran diri yang total kepada sang pemilik alam semesta dengan segala isinya inilah manusia bisa "menang" dalam mengarungi kehidupannya.

Kepasrahan kepada dzat yang memang seharusnya menjadi tempat manusia memasrahkan dan menyandarkan diri akan membuat hidup menjadi tenang, damai, bahagia, dan terhindar dari bala bencana. Insya Allah. Amin.

Cecep Hidayat
Ciawi Bogor
hidayat_c2p@yahoo.com
0856 2434 1322



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads