Partai Politik dan Laut

Partai Politik dan Laut

- detikNews
Selasa, 24 Mar 2009 09:18 WIB
Partai Politik dan Laut
Jakarta - Sudah hampir 64 tahun bangsa Indonesia ini mengenyam kemerdekaan. Namun, belenggu kemiskinan masih saja menghantui rakyatnya.

Jika kita melihat kebesaran negara lain mungkin kita bisa menarik beberapa kesimpulan. Amerika Serikat kaya karena merupakan negara yang luas dengan penduduk yang besar. Jepang kaya karena sumber daya manusia (SDM) yang handal menguasai teknologi sehingga mampu menjadi penopang perekonomian bangsa. Sedangkan jika kita berbicara tentang Indonesia apa yang tidak kita punya?

Penduduk dengan jumlah 200 juta adalah sumberdaya potensial untuk mengelola bangsa jika dikelola dengan baik. Sedangkan sumber daya alam yang begitu banyak kita juga punya. Tanah yang subur ditambah bentangan laut dari Sabang dan Merauke yang jika dikonversikan seluas 93.000 kilometer per segi laut pedalaman, dan luas wilayah keseluruhannya menurut Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) mencapai 7,9 juta kilometer per segi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terlepas dari budaya korupsi yang melekat semenjak Indonesia merdeka sehingga rakyat menjadi korban kemiskinan bangsa ini kurang jeli membaca potensi yang dimiliki dirinya. Sepertinya halnya potensi diri kita 'tak kenal maka tak sayang', bagaimana kita akan menjadi manusia yang berhasil jika tidak tahu potensi yang dimiliki.

Bangsa ini telah lupa membaca sejarah masa lalu. Nusantara pernah menjadi bangsa yang besar ketika kita mampu menguasai menundukkan lautan. Kekuatan kerajaan nusantara sangat ditopang oleh kekuatan laut yang handal dan dukungan dari daratan secara sinergis.

Kita pernah memiliki kerajaan Sriwijaya, Majapahit hingga Demak, Indonesia adalah negara besar yang disegani di kawasan Asia. Bahkan mungkin di seluruh dunia. Namun, kenapa kekuatan itu hilang perlahan dan sampai saat ini kita belum menemukan bentuk negara kuat dengan nama Indonesia.

Semua itu karena kita lupa dan tidak sadar terhadap potensi besar bangsa. Ratusan tahun penjajah Belanda telah mampu menjauhkan kehidupan kita dari lautan sehingga kita terpangku ke darat.

Allah SWT telah memberikan anugerah terindah bagi negeri Indonesia. Seharusnya kita sadar akan hikmah kenapa Dia Yang Maha Pemberi telah memberikan wilayah Indonesia dengan luas lautan kurang lebih 80% dibandingkan daratan. Dan, Dialah yang memudahkan laut supaya kamu dapat makan daripadanya daging yang lembut hidup-hidup, dan dapat pula mengeluarkan daripadanya benda-benda perhiasan untuk kamu memakainya dan (selain itu) engkau melihat pula kapal-kapal belayar padanya dan lagi supaya kamu dapat mencari rezeki dari limpah kurnia-Nya dan supaya kamu bersyukur (QS An Nahl:14).Β 

Maha dasyatnya lautan Indonesia ketika dapat memuntahkan segala isinya. Potensi ikan tangkapan saja mencapai 6,4 juta ton setiap tahunnya. Dari sebuah hadist yang diriwayatkanΒ  Bukhari menerangkan bahwa hidangan yang disantap oleh penghuni surga adalah hati ikan paus.

Dari sini kita melihat Allah SWT pun telah mengajarkan kepada manusia tentang khasiat ikan. Rata-rata hidup orang Jepang sampai 77,9 tahun untuk pria dan 85,1 tahun untuk wanita yang merupakan rata-rata harapan hidup tertinggi di dunia. Ini disebabkan kegemaran makan ikan mentah ditambah keseimbangan dalam makanan.

Jika orang Jepang saja mampu mengamalkan ajaran-Nya kenapa kita yang mempunyai potensi ikan yang besar dan penduduk Muslim besar tidak mampu mengamalkan ayat-ayat-Nya. Sekali lagi potensi lautan Indonesia tidak hanya kita lihat dari hasil tangkapan ikan.

Lautan mampu mengeluarkan energi yang sangat dasyat di tengah krisis listrik dan bahan bakar minyak (BBM) yang melanda. Kita ketahui bahwa laut mampu menghasilkan energi melalui OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion). OTEC adalah metoda menghasilkan listrik dengan memanfaatkan kesenjangan temperatur air laut pada kedalaman yang berbeda.

Cara kerjanya adalah air laut pada permukaan (yang temperaturnya lebih hangat) dan air laut yang amat dingin (pada kedalaman 1000 m) disedot masing-masing. Air dengan perbedaan temperatur yang besar ini dengan mekanisme tertentu bisa dikonversi menjadi uap dan menggerakkan turbin untuk menghasilkan listrik. Energi ini mulai dikembangkan di Amerika dan Jepang mulai tahun 70-an.

Dalam Al Quran ratusan tahun lalu telah digambarkan tentang keadaan seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.

Dalam potensi perdagangan laut juga memerankan posisi yang penting. Ribuan kapal dagang asing melalui Selat Malaka membawa barang dagangan dan hampir kesemuanya transit ke Singapura. Dari sini saja Singapura telah mampu menjadikan negerinya sebagai salah satu negara maju di dunia. Kenapa kapal-kapal yang membawa uang untuk membongkar barang atau membeli BBM tidak singgah ke Batam atau Sabang. Padahal ini sumber devisa yang bisa membuat rakyat sejahtera.

Cuplikan gambaran di atas seharusnya sudah mampu secara sadar membuka para pemimpin bangsa ini yang telah dipercaya rakyat untuk membuat Indonesia makmur dan sejahtera. Di tengah hiruk pikuk kampanye partai politik (parpol) sekarang ini sudahkah kita melihat niatan mereka untuk menjadikan lautan sebagai salah satu penopang utama perekonomian bangsa?

Padahal parpol merupakan ujung tombak pembuat kebijakan ekonomi di legislatif nanti. Tidak kalah pentingnya parpol merupakan salah satu wadah yang akan menelurkan presiden di 2009 ini. Kita masih perlu melihat secara detail visi dan misi parpol dalam hal perekonomian bangsa.

Jika parpol saja tidak mampu jeli membaca potensi bangsa yang bersumber dari lautan maka kembali 5 tahun ke depan kita akan kehilangan momen untuk sadar menggunakan potensi sebagai modal kekuatan membangun bangsa. Kita harus merebut kembali kejayaan ekonomi Indonesia. Salah satunya dengan mewujudkan kejayaan laut. Kita jadikan Indonesia sebagai negara yang mempunyai daya tarik tersendiri untuk investasi di bidang kelautan. Tentunya investor yang dapat membuat kita sejahtera. Bukan investor yang mengeruk keuntungan dan dibawa pulang ke negaranya.

Jika para legislator mempunyai visi kelautan tentunya akan menelurkan kebijakan yang berpihak ke rakyat. Misalnya pembagian 75% keuntungan untuk rakyat dan 25% untuk investor. Bukan sebaliknya legislator dari parpol menjadi komperador asing untuk menanamkan investasinya yang sebagian besar dinikmati investor dan oknum tersebut. Bayangkan saja jika 75% keuntungan lautan dengan segala produk yang terkandung di dalamnya dari ikan, minyak, energi, transportasi laut, bioteknologi laut, dan lainnya digunakan untuk menyejahterakan rakyat.

Mungkin kita tidak akan melihat para nelayan miskin di tengah emas yang berlimpah di samping rumahnya. Sudah banyak tulisan membahas potensi kelautan Indonesia. Sekarang tinggal keberanian parpol untuk menggarap potensi Indonesia. Adakah parpol yang berani melakukan kontrak politik semisal jika menang akan membuat produksi perikanan Indonesia meningkat 100%, tentunya dengan menjaga kelestariannya.

Jika di darat kita telah mampu mewujudkan swasembada beras kenapa di laut kita tidak bisa? Semoga parpol bisa memulainya. Yakinlah dengan potensi bangsa karena dengan mampu membaca potensi diri kita akan melejit menjadi bangsa yang maju. Tidak ada keputusasaan karena harapan itu selalu ada. Tinggal adakah tekad untuk meraihnya?

Anton Setyo Nugroho
Saga University International House B-621 Sagashi 489-1 Saga
dkp_anton@yahoo.com
+819094969401

Penulis adalah Mahasiswa Saga University - Japan



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads