Sikap apriori dalam menjawab fenomena kekinian seperti terlihat di atas hanya akan membawa kita pada polarisasi di mana muncul sikap subyektivisme kelompok. Mari kita telaah segi-segi dominan dalam dua bentuk pemerintahan di atas. Jika mau jujur, tentu saja Negara Tuhan seperti yang dicita-citakan oleh Augustinus lah yang paling ideal kita terapkan, hanya segalanya memang kembali kepada kita, manusia, warga negara, dan pemerintah. Konsep semulia apa pun, aturan sehebat apa pun, jika manusia-manusia yang menjadi penghuni sebuah negara terdiri dari kelompok-kelompok yang belum tercerahkan, tetap akan gagal dan menemui kebuntuan.
Begitu pun demokrasi. Demokrasi yang konon menurut Aristoteles merupakan bentuk penyimpangan dari bentuk pemerintahan politea adalah bentuk buruk karena demokrasi atau kekuasaan berada di tangan rakyat, rakyat yang dimaksud adalah kelompok mayoritas yang tidak memiliki akses apa pun atau miskin. Jika pada bentuk politea kekuasaan akan diarahkan untuk kepentingan bersama, maka pada bentuk demokrasi ini kekuasaan akan diarahkan untuk kepentingan kelompok besar saja. Tentu saja, jika kita membaca mentalitas kita dengan hukum x = bukan x, rakyat= bukan rakyat, atau rakyat = wakil rakyat, maka hanya minoritas lah yang akan mencicipi kue demokrasi ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faktanya? Hampir semua negara menganut bentuk pemerintahan ini. Namun, pada sisi lain, dalam clash of civilization, Samuel Huntington menyebut bahwa demokrasi pada akhirnya akan menemukan sebuah batu sandungan. Hal itu akan tetap terjadi meskipun para pengusung demokrasi mempetahankan agar demokrasi tidak terkalahkan.
Mari kita telaah, apa penyebab demokrasi tetap akan tergantikan?
1. Sehebat apa pun bentuk pemerintahan, karena yang memegang kendali pemerintahan adalah manusia tetap akan mengalami siklus kekuasaan, perputaran bentuk pemerintahan di dunia ini adalah sebuah keniscayaan, hal yang tidak terbantahkan, mau tidak mau memang harus dilalui.
2. Manusia akan senantiasa mencari konsep-konsep ideal bentuk pemerintahan, segalanya akan berujung pada digantinya satu bentuk negara oleh bentuk yang lainnya.
3. Yang membawa kemunduran demokrasi adalah karena cacatnya warga negara, kurang tegasnya penguasa, dan mandulnya peraturan yang dibuat
Maka, melihat tiga alasan di atas, benarkah demokrasi kita sedang terancam? Ya, jika warga negara dan pemimpin di suatu negara tersebut ada dalam kondisi seperti pada point ke-tiga. Tapi jika tidak? Biarkanlah waktu akan menjawab kapan bentuk pemerintahan demokrasi ini akan diganti , tentu oleh bentuk pemerintahan monarki.
*) Warsa Suwarsa, Jl. Widyakrama Balandongan RT 03/05 Kelurahan Sudajayahilir Kecamatan Baros, Sukabumi, warsa_suwarsa@yahoo.com
(asy/asy)











































