Cintai Rakyat

Cintai Rakyat

- detikNews
Selasa, 03 Mar 2009 18:19 WIB
Cintai Rakyat
Jakarta - Menyosong Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 intensitas kampanye semakin marak. Namun, ada ganjalan ketika "berbuat baik untuk rakyat" dianggap sebagai simbolis belaka. Sebagian calon legislatif (caleg) merasa gerah. Berbuat untuk rakyat meski datang dari nurani tak serta merta mendapat penghargaan.

Aktivitas berbaur dengan masyarakat sudah menjadi keharusan bagi caleg. Hampir setiap caleg kini melakukan direct selling atau menyambangi warga dari pintu ke pintu sebagai upaya menjangkau akar rumput dengan hasil optimal. Mengingat sistem pencoblosan kini aturannya semakin ketat.

Masyarakat tak dibenarkan lagi menusuk tanda gambar melainkan dengan mencontrengnya. Terdaftar dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap), mendapat undangan mencoblos, diberi tanda tinta, dan tak dibenarkan mencoblos beda TPS (Tempat Pemungutan Suara).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai warga ada kebanggaan tersendiri ketika para caleg menyambangi kediaman mereka. Apalagi jika caleg rela mendengar berbagai masalah yang kini menghimpit rakyat.

Mulai dari fasilitas jalan yang rusak tak kunjung ada perbaikan, harga kebutuhan pokok yang masih mahal, hingga pelayanan sektor publik untuk urusan pendidikan dan kesehatan atau pembukaan lowongan pekerjaan di tengah arus gelombang pemutusan hubungan pekerjaan (PHK) besar-besaran yang melanda negeri ini akibat krisis global.

Mengingat waktu yang semakin sempit, kurang dari dua bulan, sebagian caleg secara tak sadar mulai berlaku liar. Mereka nyaris tak peduli terhadap hak publik untuk menikmati kenyamanan.

Pemasangan atribut spanduk, baliho, hang banner, stiker, maupun poster sudah menjurus kepada tindakan berbahaya. Tak heran jika pihak kepolisian dan disetujui panitia pengawas (panswas) mulai mengambil tindakan menertibkan stiker di kaca belakang mobil yang dipasang ikon caleg dan partai tertentu.

Caleg pun kini dituntut untuk lebih jeli memasang atributnya di tempat yang
benar-benar steril, mudah dibaca setiap orang, berkesan, dan tidak mengganggu kenyamanan publik. Nah, untuk menjangkaunya tentu membutuhkan banyak biaya dan kerja keras meraihnya. Tapi, tak cukup jika caleg terkenal hanya karena nama dan fotonya terpampang di setiap sudut atau media massa.

Mau tak mau mendekatkan diri ke masyarakat menjadi poin tersendiri yang kelak
selalu diingat oleh masyarakat. Momen itu kini di ambang mata.

Curah hujan semakin tinggi melanda negeri hingga menyebabkan banjir dan longsor di mana-mana. Nelayan tak dapat melaut karena ombak tinggi. Kebutuhan pokok sebagian tak dapat masuk ke pulau tertentu karena akses transportasi terhambat. Sementara petani meratap gagal panen karena sawahnya tergenang air.

Di sisi lain banjir dan longsor memaksa masyarakat mengungsi. Merelakan harta
bendanya hanyut. Tak dapat bekerja sementara waktu dan semakin menambah daftar kemiskinan. Belum lagi fenomena aneh ditemukannya aliran kepercayaan yang menyimpang dari syariat.

Munculnya oknum yang mengaku sebagai Nabi bahkan Tuhan, dan seorang anak yang dianggap sakti memiliki kemampuan mengobati berbagai jenis penyakit, mengalahkan kemampuan dokter spesialis dan teknologi kesehatan. Situasi ini membutuhkan kejelian caleg untuk menyikapinya.   

Semoga prediksi Mei 2009 sebagai bulan dan puncaknya ketimpangan sosial tak
terjadi. Oleh karena masing-masing caleg telah bertarung habis-habisan mengeluarkan seluruh hartanya untuk mempromosikan diri dan partainya. Sementara rakyat butuh perhatian terus menerus dan bersama membangun bangsa. Karenanya semboyan iklan para caleg, "kami memberi bukti bukan janji" mesti selalu menjadi acuan dan pegangan. Tak sekedar cinta rakyat karena Pemilu.

Dwi Eka A
Jl Batan Raya Lebak Bulus Jakarta Selatan
ymku21@yahoo.com
021-92114002

(msh/msh)


Berita Terkait