Dari yang paling up date dan menyita perhatian publik Indonesia dan bisa diketegorikan "kontroversial" adalah penggunaan analogi atau simbol-simbol tertentu untuk menyerang (attacking) pihak lawan untuk mendapatkan simpati publik. Lihat saja tudingan Megawati yang menuding pemerintahan SBY - JK gagal mengemban amanat rakyat.
Bahkan, dia menganalogikan rakyat seperti yoyo di mana yoyo dilempar ke sana-ke mari, kelihatannya indah tapi pada dasarnya tidak menentu hidupnya. Buktinya data BPS 2008 menyebutkan angka kemiskinan mencapai 35 juta orang. Angka ini lebih tinggi dari angka kemiskinan tahun 2004 sebesar 34 juta orang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara etika politik penilaian itu sangat wajar dan sah-sah saja. Namun, dalam hal pembelajaran politik sangat tidak baik karena cenderung apriori dan ingin benar sendiri berdasarkan bangunan logika pembenaran yang dibangun secara parsial. Banyak sekali istilah yang pernah dipopulerkan tokoh elit kita seperti poco-poco, tebar pesona, tebar kinerja, taman kanak-kanak, kampung maling, dan sebagainya. Dan, semuanya terbukti mengundang "Kontroversi".
Coba tengok pula, pernyataan Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP Muhammadiyah, Achmad Syafii Maarif beberapa waktu yang lalu, yang menyebut Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai "The Real President" saat ini. Pernyataan ini kontan menimbulkan keprihatinan berbagai pihak karena dianggap kurang arif dan bijak karena cenderung spekulatif dan tendensius.
Munculnya penyataan dari seorang tokoh sekaliber beliau tentunya bisa menyebabkan renggangnya hubungan presiden dan wakil presiden yang sudah baik. Komentar buya ini pun akhirnya dicurigai penuh dengan kompromi politik menjelang pilpres 2009. Penulis yakin Buya Syafi'i tidak sampai sejauh itu maksudnya. Namun, apa daya api kontroversi terlanjur dipantik maka Buya pun harus ikhlas terkenal jilatan api ini dan harus segera memadamkannya.
Kasus Abdurrahman Wahid alias Gus Dur misalnya yang secara nyata mengajak masyarakat Indonesia untuk tidak menggunakan hak pilihnya alias 'golput' pada Pemilu 2009 nanti. Jujur saya betul-betul bingung. Mengapa orang sekaliber beliau yang sering disebut Bapak Bangsa sang panutan, pejuang demokrasi, memberikan pernyataan seperti itu. Bukankah dia seharusnya menganjurkan sebaliknya? Sepemahaman penulis, pro dan kontra 'golput' haruslah disikapi dengan bijak. Apalagi dalam konteks negara demokrasi yang menjadikan pemilu sebagai ukuran legitimasi pemerintahan.
Begitu pula dengan pernyataan kontroversial Megawati Soekarno Putri yang mengatakan bahwa orang yang bergabung dalam 'golput' seharusnya tidak bisa jadi warga negara Indonesia (WNI) karena telah menghancurkan sistem dan tatanan demokrasi. Pernyataan ini sebenarnya bagus. Dengan niat agar seluruh masyarakat memberikan hak pilihnya (tidak 'golput').
Namun, dengan mengaitkannya dengan status kewarganegaraan seseorang kiranya maka penyataan ini dianggap tidak layak dikeluarkan karena memang tidak ada landasan konstitusinya. Coba bayangkan. Jika seseorang menggunakan haknya dalam pilpres nanti untuk tidak memilih siapa pun lantas dia dicap tidak berhak dan layak berdiam di bumi tercinta ini pertanyaannya kemudian apa memang benar demikian adanya.
Tokoh bangsa lainnya yang cukup sering melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial adalah Amien Rais. Tudingannya akan adanya aliran dana kampanye dari Amerika Serikat ke salah satu calon pasangan presiden dan wakil presiden (SBY - JK) dalam pemilu 2004 lalu telah juga menimbulkan polemik dan debat berkepanjangan.
Tak urung pernyataan kontroversi ini membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono angkat bicara. Membantah semua tudingan itu karena dianggap sebagai fitnah belaka tanpa dasar yang kuat. Hubungan keduanya pun sempat tegang dan lagi-lagi secara tidak langsung mengakibatkan kekisruhan dan kekacauan stabilitas politik tanah air.
Dan masih banyak lagi penyataan-pernyataan kontroversial lainnya yang tercatat dalam sejarah bangsa ini. Baik yang dilontarkan elite pemerintah, tokoh bangsa, tokoh masyarakat, dan elemen-elemen lainnya yang bukannya menciptakan ketenangan dan suasana kondusif tapi malah memperkeruh suasana yang sudah keruh pula.
Melihat fenomena di atas terus terang penulis merasa cukup prihatin. Prihatin karena ternyata para tokoh/ elit bangsa ini kurang arif dan bijaksana dalam menyampaikan berbagai statemen, komentar, dan pandangannya tentang banyak hal. Pernyataan-pernyataan saling klaim ini selalu mengundang polemik berkepanjangan, berpotensi menyulut api permusuhan, fitnah, dan akhirnya menghilangkan kepercayaan (trust) yang berujung kepada instabilitas bangsa ini secara keseluruhan.
Mulutmu harimaumu!! Lidahmu harimaumu!! Itulah kata-kata yang tepat untuk melukiskan betapa pentingnya setiap penggalan kata yang terucap dari lidah kita. Akibat satu atau dua kata yang terucap orang lain bisa terluka hatinya, merasa difitnah, dituduh, direndahkan, dan didzalimi karenanya. Meskipun maksudnya tidak untuk melukai perasaan dan hati. Apalagi disengaja namun terkadang maksud baik saja tidak cukup jika tidak ditunjang dengan cara penyampaian yang benar.
Sekedar mengingatkan kepada seluruh tokoh bangsa atau siapa pun yang merasa dirinya tokoh bangsa agar lebih berhati-hati lagi dalam mengeluarkan setiap pendapat, komentar, dan pandangannya. Karena "anda" saat ini tak ubahnya seperti seorang selebritis yang setiap gerak-gerik, ucapan, tindakan, dan keputusan yang diambil selalu di intai "paparazzi" dan kamera pengintai yang saat itu juga akan mempublikasikannya ke seantero jagad indonesia. Tak ada alasan privasi lagi, atau perbedaan penyataan pribadi atau jabatan yang diembannya, yang jelas setiap kata terucap akan selalu bermakna dan bernilai.
Penulis berharap, seluruh tokoh bangsa di republik ini, menyadari posisi dan
konsekuensi yang harus dihadapinya. Kearifan dan kebijaksanaan yang dimilikinya haruslah melebihi kearifan dan kebijaksanaan masyarakat lainnya, penyakit "Kontroversial"-nya sedapatnya diminimalisir jika tidak mungkin dihilangkan sehingga "ketokohannya" benar-benar menjadi manfaat, pelajaran, dan rahmat bagi seluruh stakeholder bangsa besar ini. Semoga
Sholehudin A Aziz MA
Jl al-Ikhlas 6 B2A 11
Bumi Sawangan Indah 2 Depok
bkumbara@yahoo.com
081310758534
Penulis adalah Peneliti CSRC UIN Jakarta.
(msh/msh)











































