Apa yang disampaikan oleh pihak Departemen Pertanian tersebut menarik untuk dicermati. Memang harus diakui dalam beberapa tahun terakhir ini sektor pertanian kita tumbuh pesat dan menjadi salah satu andalan ekspor nasional. Selain berhasil surplus dalam produksi tanaman pangan seperti beras dan jagung beberapa komoditas pertanian Indonesia telah mampu menjadi market leader di pasar internasional.
Seperti kelapa sawit yang selama ini selalu kalah dari Malaysia sejak tahun lalu sawit Indonesia telah menjadi nomor 1 di pasar dunia. Demikian juga dengan beberapa produk lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, sayangnya sampai hari ini petani sebagai penanggung risiko terbesar dalam produksi produk pertanian masih mendapatkan share value yang terkecil dalam sistem agribisnis kita. Penelitian yang dipublikasikan oleh Asian Development Bank (2006) menunjukkan bahwa petani Indonesia hanya memperoleh share value sebesar 26 % dari nilai pasar. Sementara value terbesar justru dinikmati oleh retailer yakni sebesarΒ 53% untuk distribusi di pasar modern.
Salah satu hal penting yang mempengaruhi keberhasilan swasembada pangan tahun 2008 adalah tingginya motivasi petani atau pelaku usaha pertanian untuk berproduksi. Jangan sampai motivasi ini menjadi hilang bahkan harus terus berkembang sehingga swasembada pangan yang terjadi bisa berkelanjutan. Tentu motivasi petani akan lebih mudah terjaga jika kemajuan dalam sektor ini benar-benar berimplikasi pada kesejahteraan petani.
Pertanian kita sejak dahulu sesungguhnya memiliki potensi yang luar biasa. Namun, propaganda industrialisasi telah menyebabkan sektor ini sedikit tersisihkan. Pelaku usaha dan dunia perbankan sebagai sumber permodalan sering kali menganggap pertanian sebagai sesuatu yang berisiko tinggi sehingga kurang layak untuk dibiayai.
Sekaranglah saatnya petani bicara. Dengan karya dan prestasi mereka sudah selayaknya semua elemen bangsa memberikan support yang memadai. Pemerintah, dunia perbankan, dan para pelaku usaha lainnya harus menyadari bahwa pertanian benar-benar sesuatu yang menjanjikan.
Bukankah dulu para penjajah datang ke Indonesia karena menginginkan hasil-hasil pertanian kita? Jika para penjajah jauh-jauh datang ke Indonesia untuk memperkaya negaranya dengan hasil-hasil pertanian dari Indonesia mengapa kita tidak menjadi bangsa yang percaya diri untuk mengembangkan dunia pertanian.
Mukhamad Najib
The University of Tokyo, 4-6-41
Shirokanedai, Minato-Ku Tokyo
mnajib23@yahoo.com
+81-90-982-10-982
Penulis adalah Sekretaris Indonesian Agricultural Sciences Association (IASA) Pusat.
(msh/msh)











































