Sebagai mantan istri presiden negara adidaya Hillary memang masih cukup memiliki pesona. Ini terlihat dari banyaknya mahasiswa, baik mahasiswa Jepang maupun mahasiswa internasional, yang antusias untuk menghadiri diskusi dengan Hillary.
Materi yang didiskusikan bukanlah hal yang istimewa. Hanya sekedar sharing mengenai apa yang tengah terjadi di dunia serta isu-isu yang telah banyak dibahas media. Paling menarik adalah pihak universitas tidak memperlakukan Hilarry sebagai sesuatu yang sangat istimewa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini sangat berbeda dengan sambutan yang dilakukan Pemerintah Indonesia. Sebanyak 2.800 polisi disiapkan dan sniper-sniper disiagakan. Sistem pengamanan terhadap Hillary dibuat sedemikian ketat. Seolah teroris berkeliaran di Indonesia dan Indonesia dikesankan oleh pemerintahnya sendiri sebagai negeri yang tidak aman.
Memang tidak hanya Hillary yang mendapat pengamanan istimewa seperti ini. Semua pejabat Amerika yang datang mendapatkan pengamanan yang luar biasa. Bahkan saat Bush datang pemerintah tanpa malu mendemonstrasikan diskriminasi penyambutan yang menunjukkan betapa berbedanya Indonesia dalam menyambut Bush dibanding menyambut pemimpin-pemimpin dunia lain yang datang.
Pemerintah Indonesia menunjukkan ketakutan yang luar biasa terhadap pejabat-pejabat Amerika. Hal ini bukan karena wibawa Amerika yang begitu besarnya, melainkan lebih karena pemerintah Indonesia yang kurang memiliki harga diri.
Sebagai Negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, memiliki wilayah geografis yang luas, serta kekayaan alam yang melimpah, baik di daratan maupun di lautan sesungguhnya Indonesia memiliki potensi untuk menjadi negara yang disegani oleh negara-negara lain di dunia. Tentu saja itu harus dimulai dari bagaimana negara ini menghargai dirinya sendiri. Bagaimana mungkin negara lain menghargai Indonesia kalau pemerintah tak mampu menghargai kebesaran bangsa dan negaranya.
Jika ingin menjadi bangsa besar yang disegani maka pemerintah harus mampu menegakkan harga diri bangsa di hadapan bangsa-bangsa lain. Kunjungan Hillary sebagai utusan dari pemerintahan baru yang menjanjikan perubahan harus disambut dengan positioning baru Indonesia terhadap Amerika.
Pemerintah harus berani menunjukkan bahwa Indonesia bukanlah salah satu provinsi Amerika di Asia. Dalam hal ini politik harga diri harus ditegakkan.
Harus dibedakan antara menghormati tamu yang datang dengan perasaan takut karena atasan yang datang.
Sebagai tuan rumah yang baik tentu kita harus menyambut tamu dengan baik. Namun, sambutan itu harus dilakukan dengan sewajarnya. Sebagaimana yang pemerintah lakukan terhadap tamu dari negara-negara lain. Jangan posisikan pejabat Amerika yang datang ke Indonesia seperti atasan yang sedang melakukan inspeksi terhadap bawahan. Selama itu masih kita lakukan selama itu pula kita tidak akan pernah bisa berdiri sejajar.
Mukhamad Najib
The University of Tokyo, 4-6-41
Shirokanedai, Minato-Ku Tokyo
mnajib23@yahoo.com
+81-90-982-10-982
(msh/msh)











































