Semua orang mempunyai cara dan menempuh banyak cara untuk mewujudkan keinginannya. Baik dengan cara yang wajar dan tidak wajar. Begitu juga orang-orang yang mengakunya ingin jadi wakil rakyat, memperjuangkan kepentingan dan nasib rakyat yang tentunya menyangkut kemakmuran, ketentraman bangsa. Β
Semua orang ingin bikin partai. Ikut partai dan mencalonkan menjadi calon legislatif yang istilah kerennya caleg (calon legislatif). Dulu Zaman Pak Harto tidak banyak Partai. Kita perhatikan kerukunan lebih terjaga. Kerusuhan dan kejahatan di jalanan jarang terjadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kekurangan, keteledoran, kesalahan, kelemahan itu sudah menjadi kodrat manusia. Maka dari itu Al Quran saja menegaskan supaya kita saling nasehat
menasehati. Saling berbagi ilmu. Saling membantu dengan cara yang baik.Β Bukan lantas kita menyalahkan, merongrong, menjatuhkan, dengan mempengaruhi banyak orang. menyebarkan opini-opini yang tidak sehat yang tentu tidak membangun justru merusak tatanan yang ada.
Banyak orang, banyak yang kata orang katanya, "tokoh" yang nyatanya pandai berbicara, pandai mengumpat, mencari-cari kekurangan, kesalahan orang, atau tokoh yang sedang menjabat. Mestinya seorang Tokoh yang mengaku tinggi ilmu, pengalaman, dan wawasannya berperilaku yang arif. Tutur katanya menyejukkan banyak orang. Nasehatnya bersifat men-suport/ menyemangati demi kebaikan dan kemajuan bersama.
Di negara kita ini banyak yang mengaku pintar. Tapi, perilakunya menunjukkan bahwa mereka itu bodoh dan kadang tidak bermoral. Saya pikir kalau orang mau menjadi wakil rakyat, mau jadi pemimpin, kalau masih melewati jalur partai-partai politik tetap saja tidak bisa diharapkan menjadi pemimpin yang benar-benar mengutamakan kepentingan rakyat dan bangsa.
Β
Saya menilai mereka itu hanya mengejar pangkat, jabatan, uang, yang tentunya ingin bergaya hidup mewah di tengah kesusahan masyarakat. Coba kita perhatikan calon-calon legislatif. Banyak yang latah. Calon-calon muda maupun tua. Dengan melihat kenyataannya uang yang didapat menjadi anggota DPR banyak, gaji pokok, tunjangan-tunjangan, sampai rapat-rapat membuat peraturan ataupun undang-undang mereka juga dapat uang lebih.
Atas dasar itu saya berkesimpulan nilai dasar sebagai anggota DPR bukan lagi sebagai wakil rakyat. Tapi, menjadi lahan bisnis. Lahan kerja yang menjanjikan dan menggiurkan banyak orang yang menutup hatinya terhadap kesusahan rakyat dan kehancuran bangsa.
Agung Wibisono
Jl Menteri Empat Martapura
agung.wibisono@gmail.com
081348009800
(msh/msh)











































