Memberikan yang terbaik berarti memberikan upaya maksimal dalam menjauhkan diri, keluarga, dan lingkungan dari segala bentuk kemaksiatan ekonomi yang dapat memberi kemudaratan bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat. Ianya juga berarti bahwa kita harus memberikan waktu khusus dan bukan waktu-waktu sisa dalam upaya untuk melakukan perenungan dan action tentang bagaimana pengembangan ekonomi Islam.
Mengapa konsep "memberikan yang terbaik" ini sangat diperlukan? Untuk menjawab pertanyaan itu kita harus memahami dulu tentang beberapa hal yang terkait dengan ekonomi Islam agar ekonomi Islam ini betul-betul tumbuh kokoh dan rindang daunnya akan meneduhkan setiap orang yang bernaung di bawahnya tanpa kecuali. Apakah Muslim ataupun Non-Muslim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, setelah kita bisa menerima kenyataan bahwa perjuangan menerapkan ekonomi Islam adalah juga perjuangan dakwah Islam itu sendiri maka kita haruslah sadar bahwa ini bukan pekerjaan satu orang, satu keluarga, atau satu generasi. Sejatinya ini adalah pekerjaan inter-generation yang waktunya hanya dibatasi oleh kehendak Allah sehingga para pejuang ekonomi Islam harus menegakkan kepalanya. Bukan malah memalingkan wajah kemudian berkata sinis bahwa ekonomi Islam hanyalah replika ekonomi kapitalis yang dibumbui ayat-ayat dan hadits.
Usia perjuangan penerapan ekonomi yang menjunjung tinggi keadilan ini tidak bisa disamakan dengan usia manusia. Ianya lebih panjang dari bayangan kita. Allah SWT yang akan memberikan ketetapan-Nya atas usaha kita. Janganlah berharap lekas menuai hasil jika ingin yang terbaik.
Keberadaan lembaga-lembaga keuangan Islam yang sekarang ini patutlah kita syukuri sebagai sebuah batu loncatan menuju era ekonomi Islam yang sebenarnya. Memanglah disadari bahwa banyak terdapat cacat di sana-sini. Banyak kesamaan dengan yang konvensional dari segi teknis. Namun, penulis meyakini bahwa semua pejuang ekonomi Islam telah memikirkan hal ini dan belum berhenti untuk terus mencari solusinya.
Ketiga, disebabkan kita telah memahami prinsip pertama dengan baik, bahwa kerja ini adalah bagian dari kerja dakwah. Maka sebuah kepastian dan keharusan bagi mereka yang akan bekerja di ladang dakwah ini untuk melengkapi dirinya dengan bekalan "ilmu" yang cukup. Baik itu ilmu tentang agama Islam maupun ilmu ekonomi itu sendiri. Tidak bisa ditinggalkan salah satunya. Apalagi kedua-keduanya.
Oleh karena itu menegakkan ekonomi Islam adalah pekerjaan bagi orang-orang yang merasa terpanggil. Bukan pekerjaan sepintas lalu yang kemudian mudah saja untuk melupakan fondasi tegaknya ekonomi Islam.
Dan, terakhir penulis berpesan kepada yang merasa terpanggil dalam perjuangan
menegakan ekonomi berkeadilan ini untuk meneguhkan pendirian karena perjuangan ini tidak menempuh jalan berhiaskan bunga bak kamar pengantin.Β Akan tetapi penuh onak dan duri yang menuntut kesabaran dan kerelaan berkorban. Wallahu musta'an.
Muhamad Abduh
LOT 1424-2D Batu 8
Kg Sg Chin chin, Kuala Lumpur
abduh.iium@gmail.com
+60163503502
Penulis adalah Mahasiswa asal Indonesia di Pascasarjana Ekonomi IIU Malaysia Ketua Islamic Economic Forum for Indonesia Development (ISEFID).
(msh/msh)











































