Amerika Serikat, Republik Indonesia, dan Uni Eropa

Amerika Serikat, Republik Indonesia, dan Uni Eropa

- detikNews
Senin, 02 Feb 2009 10:02 WIB
Amerika Serikat, Republik Indonesia, dan Uni Eropa
Jakarta - Sejak lama banyak rakyat Indonesia tak menyukai Negeri Paman Sam. Bung Karno saja meneriakkan "Inggris kita linggis, Amerika kita setrika." Ketidaksukaan ini makin menguat setiap kali konflik Palestina-Israel meletup.

Bendera Amerika Serikat (AS) dibakar, restoran dari AS disegel, bahkan produk-produknya diboikot. Ketika rakyat Indonesia mendengar nama "Amerika" yang terbayang adalah rasa benci, kemerosotan moral (dekadensi), kesombongan, dan hal-hal buruk lainnya. Bagaimana dengan Uni Eropa?

Penulis yakin pendapatnya akan jauh lebih positif. Sejauh penulis tahu pembakaran bendera Uni Eropa atau anggotanya jauh lebih jarang daripada pembakaran bendera Amerika. Sejauh penulis tahu cuma sekali pemboikotan terhada produk Uni Eropa diserukan, yaitu produk Denmark, ketika terjadi kontroversi kartun Nabi Muhammad SAW. Apakah ini logis? Tidak secara psikologis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Manusia selalu menyukai apa pun yang mirip dengannya. Lihat saja ketika manusia memilih pacar atau suami atau istri. Mereka secara otomatis akan mencari orang yang memiliki kesamaan iman, hobi, cara pandang, bahkan kesamaan suku dan ras. Ketika kita membaca novel atau menonton film, kita akan jauh lebih bisa menyukai novel atau film tersebut ketika kita merasa "Ah, tokoh ini persis seperti saya." Faktanya manusia selalu tertarik pada persamaan.

Nah, karena itulah di satu sisi, tindakan rakyat Indonesia tak menyukai Negeri Paman Sam adalah "aneh." Kalau kita membandingkan Negeri Paman Sam dengan Indonesia kita akan menemukan banyak persamaan. Persamaan tersebut akan menjadi makin terasa ketika kita membandingkan Uni Eropa dan AS, dan tak menemukan persamaan-persamaan tersebut.

Persamaan pertama adalah persamaan geografis. Kedua negara sama-sama berada di antara dua samudra. Bukan cuma itu saja. Kedua negara sama-sama menguasai akses antara dua samudera tersebut biar pun tak secara eksklusif.

Selat Malaka yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia adalah wilayah Indonesia dan Malaysia. Terusan Panama yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Atlantik dikontrol oleh Amerika Serikat dan Republik Panama, sampai tahun 1999 ketika Republik Panama mengambil alih kontrol sepenuhnya.

Baik terusan Panama maupun Selat Malaka sama-sama merupakan jalur ramai yang dilalui ribuan kapal dan ribuan ton komoditas dari berbagai negara. Persamaan ini memungkinkan kedua negara mempengaruhi perdagangan internasional. Tidak ada negeri Eropa yang menguasai akses antara 2 samudera dalam waktu dekat ini.

Persamaan kedua adalah persamaan sistem politik. Baik Indonesia maupun AS sama-sama bersistem Republik Presidensil. Presiden dipilih langsung oleh rakyat, dan kabinet dibentuk oleh presiden. Di Eropa, yang paling mendekati adalah Perancis, di mana Presiden masih berpengaruh, walaupun kabinet dipimpin oleh Perdana Menteri.

Di negeri-negeri lain, semuanya menggunakan sistem parlementer. Ini adalah perbedaan krusial. Di sistem presidensil, Trias Politica terbagi dengan jelas, Presiden dan kabinetnya sebagai eksekutor, Parlemen sebagai Legislator, Mahkamah Agung sebagai Yudikator, sedangkan di sistem Parlementer, Eksekutor dan Legislator tercampur.

Sebuah kabinet bisa "dijatuhkan" kalau para Legislator tak puas dengan kinerjanya. Di sistem Parlementer, presiden cuma menjadi Kepala Negara dan hampir tak berpengaruh terhadap pemerintah. Perdana menterilah yang mengatur jalannya pemerintahan.

Persamaan ketiga adalah persamaan demografis atau kependudukan. Keduanya sama-sama memiliki lebih dari dua ratus juta penduduk. Jumlah penduduk ini bisa menjadi aset, bisa menjadi liabilitas, tapi sudah pasti membutuhkan pengaturan yang berbeda dengan negara berpenduduk di bawah seratus juta orang, seperti negara-negara anggota Uni Eropa.

Persamaan penduduk ini makin nyata ketika kita meneliti penduduk kedua negeri. Bukan cuma jumlahnya saja yang banyak, suku, bahasa, budaya, dan agama yang menyusun rakyat kedua negara juga beragam. Amerika Serikat disusun oleh para pemukim dan imigran yang datang dari semua penjuru dunia. Di AS, kita bisa menemukan orang dari suku-kebudayaan Inggris (Anglo Saxon), Irlandia, Italia, Jerman, Spanyol, bahkan Vietnam, Cina, Jepang, Afrika, dan seterusnya.

Persamaan keempat adalah persamaan motto. Sejak lahirnya Republik Amerika Serikat sampai dengan tahun 1956, mereka "E Pluribus Unum"; adalah motto Negara AS secara de facto. E Pluribus Unum adalah Bahasa Latin yang terjemahan dalam bahasa Sansekertanya adalah "Bhinneka Tunggal Ika." Jadi kedua negara sama-sama memiliki pandangan bahwa pluralitas dan kesatuan adalah penting.

Tahun 1956, motto resmi dipilih, dan motto resmi itu membawa kita ke persamaan kelima antara kedua negara. Motto resmi tersebut adalah "In God We
Trust." Persamaan kelima antara kedua negara adalah sama-sama menganggap penting agama dalam kehidupan. Berbeda dengan orang-orang Eropa yang makin Atheis dan Agnostic.

Penduduk Amerika makin saleh. Bukan cuma di masa kini. Menurut Samuel P Huntington dalam buku terbarunya "Who Are We"; di Bab 5, para pendiri Amerika serikat memandang revolusi mereka secara religius. Mereka memandang revolusi sebagai perang suci melawan para antikris (Antichrist) dari Inggris. Kongres mendeklarasikan masa puasa untuk memohon berkat Tuhan YME (Yang Maha Esa).

Bahkan pemimpin-pemimpin yang non Kristen seperti Thomas Jefferson dan Thomas Paine tak protes ketika hal ini berlangsung sehingga membuktikan bahwa mereka pun sadar bahwa aspek agama dalam revolusi akan sangat membantu revolusi.

Berbeda dengan Napoleon III, Bismarck, Disraeli, dan pemimpin-pemimpin Eropa di zaman yang sama. Abraham Lincoln jelas-jelas berdoa agar Tuhan mendukung pihaknya dalam Perang Saudara Amerika. Semua hasil survei menunjukkan rendahnya angka penganut Atheisme di Amerika, dan tingginya tingkat kehadiran di gereja-gereja mereka.

Masih banyak persamaan lain antara kedua negara. Selain lima persamaan itu, kedua negara juga sama-sama memiliki hobi berhutang. Kedua negara sama-sama baru dihantam bencana alam mahahebat (Hurricane Katrina dan Tsunami Aceh) maupun serangan teroris mahadahsyat (9/11, Bom Bali, Bom Bali II, dan seterusnya). Bahkan, Bung Karno sendiri sebenarnya menganggap para pendiri AS sebagai pahlawannya.

Begitu banyak persamaan antara kedua negara. Antara kedua bangsa. Kita harus mulai berpikir dan mengajukan beberapa pertanyaan. Apakah kita memang layak membenci Amerika Serikat? Apakah Amerika Serikat itu cerminan buat kita? Apakah kita sebenarnya sedang berjalan di jalan yang sama dengan Amerika Serikat? Kenapa biar pun memiliki persamaan-persamaan tersebut ketika menemui konflik Palestina sikap bangsa Indonesia lebih sering sama dengan Eropa daripada dengan Amerika? Wallahuallam.

Marcel Hizkia Susanto
353B Admiralty Drive #06-284
Singapore
marcel_hizkia_susanto@yahoo.co.id
+65-91568343

(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads