Layakkah Sultan Jadi Presiden Atau Wapres?

Layakkah Sultan Jadi Presiden Atau Wapres?

- detikNews
Kamis, 29 Jan 2009 16:40 WIB
Layakkah Sultan Jadi Presiden Atau Wapres?
Jakarta - Tampaknya sudah menjadi tekad yang kuat bagi Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk maju menjadi calon presiden RI. Minimal sebagai cawapres. Tetapi sebenarnya apa yang ditawarkan Sultan untuk sukses sebagai capres atau cawapres RI?

Ini sekadar catatan saya. Yang pertama adalah ketika seorang gubernur maju mencalonkan diri menjadi capres atau cawapres, tentu diharapkan gubernur tersebut mempunyai nilai lebih yang dapat ditawarkan oleh gubernur tersebut berkaitan dengan pengalamannya sebagai gubernur. Apa yang ditawarkan Sultan berkenaan dengan ini?

Beberapa data yang ada menunjukkan bahwa pada tahun 2005, WHO pernah mengadakan studi mengenai akses kesehatan di DI Yogyakarta dan menemukan bahwa provinsi DIY termasuk provinsi dengan tingkat kemiskinan yang relatif tinggi, yaitu 25%. Padahal Sultan telah menjabat sebagai gubernur sejak tahun 1998, sehingga peluang untuk mengentaskan kemiskinan di Yogya seharusnya telah dapat dilakukan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian, saya di LSM bersama mitra di Yogya pernah melakukan studi mengenai alokasi kesehatan di APBD Yogya yang ternyata amat minim, sehingga akses kesehatan untuk masyarakat di sini juga minim. Yang sukses di sini justru program pemerintah pusat berkaitan dengan Askeskin, sehingga banyak warga miskin yang terbantu pengobatannya.

Kemudian berkaitan dengan pelayanan publik, pemerintah DI Yogyakarta juga menjadi catatan sendiri, karena belum mempunyai sistem pelayanan publik satu pintu dan satu atap, sehingga masih menyulitkan masyarakat dalam mengakses pelayanan publik. Padahal, indikator pemerintah daerah yang sehat adalah akses pelayanan publik yang semakin efisien dan efektif.

Selain itu, DI Yogyakarta sesungguhnya menyimpan potensi yang luarbiasa untuk menjadi kota budaya, kota seni, kota wisata, dan sentra pengembangan industri kreatif. Tetapi sentuhan itu mengapa semakin pudar? Ketika saya ke Yogya pertengahan 2008 lalu dan berjalan di sepanjang jalan penghasil kaos dagadu, kesunyian yang terasa begitu mencekam. Begitu juga dengan potensi kerajinan perak di sentra industri perak yang begitu sepi. Dan ketika berjalan di sepanjang Malioboro, tidak ada satupun turis asing yang sedang berada di sini. Begitu juga dengan tiadanya pentas seni, teater, sendra tari yang ditawarkan di tempat-tempat umum, - yang menunjukkan bahwa kota ini kota budaya. Ini, misalnya berbeda sekali dengan kota Bandung,- yang melesat menjadi kota seni anak muda,- karena memang menjadi tempat yang kondusif sekali bagi anak muda untuk mengembangkan kemampuan seninya.

DI Yogyakarta… sesungguhnya menunggu seorang pemimpin visioner yang mampu mengubah provinsi ini unggul secara komparatif dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia. Karena potensinya yang luar biasa. Karena masyarakatnya yang luar biasa; pekerja keras, kreatif, nrimo dan gampang diatur.

Sultan, tidakkah Anda berjuang untuk Yogyakarta terlebih dahulu? Sejahterakan rakyatnya, dan majukan provinsi ini dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia. Mungkin setelah ini terwujud, langkah bagi Sultan untuk menjadi Presiden RI akan lebih mudah di tahun 2014, daripada maju sekarang sebagai capres ataupun cawapres.

*) Ilyani Sudardjat, pembaca detikcom, bisa dihubungi di: ilyani_sk@yahoo.com (asy/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads