Menakar Kualitas Seorang Pemimpin

Menakar Kualitas Seorang Pemimpin

- detikNews
Jumat, 23 Jan 2009 19:08 WIB
Menakar Kualitas Seorang Pemimpin
Jakarta - Suasana menjelang pemilihan umum (pemilu) seperti ini kita banyak disuguhkan media tentang perilaku para calon pemimpin kita yang sangat dekat dengan rakyatnya. Terlihat mereka begitu akrabnya dengan rakyat yang nanti akan dipimpinnya. Seperti tak ada lagi jarak antara pemimpin dan rakyatnya.

Kita lihat di media massa calon presiden (capres) A mengunjungi korban gempa dan memberikan bantuan. Capres B berdialog dengan pedagang pasar tradisional dan membeli barang di pasar tersebut. Capres C mengunjungi tempat wisata dan bersalaman dengan pengunjung tempat wisata, dan lain-lain.

Apakah itu salah? Tentu tidak. Ini adalah perilaku yang seharusnya dimiliki oleh para calon pemimpin yaitu dekat dengan rakyat. Yang menjadi permasalahan adalah apakah ini mereka lakukan hanya menjelang pemilu untuk menjaring suara atau memang inilah perilaku mereka sehari-hari. Lalu bagaimana kita menakarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kali ini kita coba belajar dari presiden terpilih Amerika Serikat Barack Hussein Obama. Ada hal positif yang kita bisa ambil dari perilaku Obama sebagai seorang calon pemimpin --terlepas dari tidak empatinya Obama terhadap tragedi kemanusiaan di Gaza.

Kepopuleran Obama bukanlah karena dia anak seorang presiden atau dia menjadi oposan yang tertindas. Obama populer memang karena dia mempunyai kualitas sebagai seorang calon pemimpin. Dia memulai karir politiknya dari nol.

Dalam sebuah situs online disebutkan bahwa setelah menyelesaikan Bachelors of Arts Obama mengelola proyek nirlaba kemudian menyusun program pelatihan kerja bagi penduduk yang tinggal di lingkungan miskin. Tugas Obama antara lain mendatangi rumah satu per satu guna mendata berbagai permasalahan warga. Mulai dari perkara selokan mampet, air ledeng cuma menetes, sampai bagaimana caranya mengatasi persoalan pelacuran.

Tidak mudah karena Obama lebih banyak ditolak daripada dipersilakan masuk rumah. Bahkan diusir dan dimaki-maki. Sejarah kemudian mencatat Obama sukses menambah jumlah organisasi antikenakalan remaja, membuat sistem manajemen sampah, memperbaiki jalan raya, membersihkan selokan dan menyusun keamanan mandiri. Harvard Law School pun menawari bea siswa kepada Obama.

Kemudian setelah itu-berbekal kemampuannya menyelesaikan berbagai masalah sosial kemasyarakatan --karir politik Obama terus menanjak perlahan-lahan sampai akhirnya ia terpilih sebagai presiden pertama di Amerika Serikat yang berkulit hitam.

Dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa hal yang harus dimiliki seorang calon pemimpin adalah kemampuannya menyelesaikan permasalahan sosial kemasyarakatan dimulai dari lingkungan terdekatnya. Kemampuan seperti ini harus dimiliki oleh setiap calon pemimpin bangsa.

Selain menandakan kualitasnya sebagai seorang pemimpin juga membuktikan kedekatannya dengan rakyat. Jangan sampai seorang calon pemimpin hanya terkenal karena iklan atau dibesarkan media massa lalu tidak mengenal sama sekali tetangga di sekitarnya. Apalagi membantu kesulitan mereka.

Jadi, kalau anda ingin tahu kualitas pemimpin yang anda dukung carilah informasi tentang keakraban mereka terhadap tetangganya. Cari tahu di media massa seberapa kontribusi mereka terhadap permasalahan di lingkungan sekitarnya. Β 

Dan kita berharap ke depan bahwa Indonesia akan mempunyai pemimpin yang mampu menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa yang tidak banyak mengumbar janji. Tetapi, bisa memberikan bukti nyata tentang kualitas kepemimpinanya dan juga tetap dekat dengan rakyat. Semoga.

Abdul Majid K
4-4 Futatsuya-cho, Kanagawa-ku Yokohama
ibnuqomar@gmail.com
+818037586695

(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads