Jakarta - Pemilu yang merupakan agenda lima tahunan politik bangsa adalah hajatan perubahan kepemimpinan nasional. Disadari atau tidak, kondisi ini akan berimbas terhadap kehidupan masyarakat di perbatasan. Namun seperti apa wajah politik bagi masyarakat di perbatasan, khususnya di Nunukan?
Bagi mereka, pemilu tidak ubahnya proses peralihan kekuasan nasional. Selebihnya, mereka tidak lah dipedulikan, karena perubahan kepemimpinan ternyata tidak memiliki dampak besar terhadap keprihatinan yang dialami sebagian besar masyarakatnya.
Mereka lebih tertarik untuk menghitung atau menggunjingkan tentang perubahan nilai rupiah terhadap ringgit, tebaran baliho ataupun poster partai maupun caleg tidak membuat mereka membahas lebih mendalam, karena kondisi mereka tidak akan berubah dari hasil pemilu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertanyaan kemudian, hingar bingar politik seperti apa di perbatasan..? Yang ada adalah hingar bingar kesengsaraan karena imbas politik. Isu perbatasan, serta konflik garis batas telah menjadi penyebab ketidakpedulian akan politik. Berbagai bentuk kunjungan elit bangsa yang notabene elit politik, tidak sedikit pun mencerahkan kehidupan masyarakat. Mereka hanya dipertanyakan sisi nasionalismenya tanpa menyadari, seperti apa negara membangun nasionalisme mereka.
*)
Kasman Karim,
pembaca detikcom, tinggal di Nunukan, bisa disapa di kasmankarim@yahoo.com.
(asy/asy)