Ketika, tiap dua jam seorang perempuan kehilangan sukma terakhirnya akibat kelahiran tanpa persiapan gizi yang matang. Ketika, tak urung 180.000 balita tewas setiap tahun karena rawan pangan dan akses kesehatan yang maha tertinggal. Ketika, 6 juta perempuan Indonesia masih terperangkap dalam perdagangan manusia dan selalu gagal tiap kali hendak membangkangi cengkeraman pucuk kuasa.
Maka, parodi menggelikan menegaskan dirinya dalam laporan anggaran sepasang gubernur dan wakil sebuah provinsi mencapai 1,3 miliar tiap tahun untuk menyusun naskah pidato, 500 juta buat sarapan pagi, 115 juta untuk pakaian dinas, 538 juta rupiah buat makan siang. Ada yang bukan sekadar aneh pada angka-angka itu melainkan juga teror yang mencambuk gairah dan menikam nurani waras.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Satu kematian adalah tragedi. Tapi, ribuan kematian akhirnya cuma bakalan jadi seonggok statistik yang membosankan. Dan, ketika nominal orang yang tewas terus beranjak tinggi sebetulnya ia tengah menjelaskan hal lain: kematian itu berpangkal di atas kemanjaan tubuh dan libido narsisme manusia lain yang haus tepukan tangan buat diri sendiri.
Penelusuran itu menemukan jejaknya dalam hasrat membludak yang bukan sekadar konsumsi, tapi menguasai. Bukan sekadar membeli, tapi ingin menjadi trendy. Dan kita, barangkali, salah satunya.
Ada yang menarik dalam sepetik dialog Romo Herry bersama seorang pebisnis di bidang gaya hidup (life style). Tiga insting manusia dijebak dan dipermainkan dalam rekayasa imaji semua iklan barang-barang konsumsi. Permainan ini melibatkan nafsu kepemilikan, insting privilese-status, dan daya tarik romatisme-sensualitas. Ada semacam libido yang dibangkitkan untuk memuaskan kehendak membeli, memiliki, menguasai.
Pamer adalah kepatutan baru, dan rendah hati tersisa sebagai potongan kenangan jadul (jaman dulu) yang tak lagi laku. Ekonomi tidak lagi beranjak di atas kebutuhan, melainkan telah berubah sebagai pencapaian terhadap apa-apa yang bisa membuat nilai manusia punya nilai "lebih". Sialnya, tak ada yang bisa membikin perburuan atas "lebih" menemukan ujung batas. "Lebih" adalah utopia paling absurd yang sengaja dibikin dalam siklus komersialisasi dan penggalian terus menerus tambang laba.
Mereka yang sempat sedikit-sedikit mengutip psikoanalisa sudah barang tentu mengerti turbulensi kejiwaan macam begini. Libido tak mengenal teritori, sumur yang tak punya dasar pun mau terus digali.
Karena itu, akan selalu ada yang masygul ketika decak kagum disodorkan pada
penyanyi tenar yang menghabiskan 100 juta rupiah sebulan untuk perawatan kecantikan. Panorama buram itu terus bergegas dalam tekstur kebiasaan baru yang diwakili seorang peragawati masyhur. "Saya enggan berbincang dengan orang yang kerah bajunya hitam-hitam karena keringat, sepatu dekil tak disemir, berpenampilan seadanya."
Teror itu terus menggilas dalam seremoni yang tidak normal: estetika adalah
setiap yang berkilau, estetika adalah gemerlap emas. Disparitas itu kian tak terelakkan ketika sebilah kesempatan dalam lowongan pekerjaan sekali pun menyisipkan sepotong kriteria baru: berpenampilan menarik. Kriteria begitu, mengutip Agus Budiman, bukan cuma terjadi dalam penyaringan gadis sampul --tapi juga ketika memilih pembantu, tukang ojek, tukang cuci pakaian, satpam,
penceramah, bupati, anggota parlemen, sampai presiden. Kurang ajar, Na'udubillah min dzalik.
Jika tak ada yang mengerikan dalam selipan-selipan cerita itu mungkin memang tengah ada sesuatu yang tengah menumpul dalam nurani. Pendidikan dan modernisasi yang salah kaprah telanjur menghadiahi budaya dengan terlalu banyak kekonyolan yang tak pernah kita kehendaki. Kepandaian tak serta merta menerbitkan kearifan. Melainkan mengilhami kepala dengan imajinasi bengis dan menjatuhkan.
Budaya Konsumtif yang Makin Primitif
Kalau ada sedikit waktu buat berpikir pangkalnya kerap melulu bercerita soal narsisme seorang konsumtif. Khayalan menjadi selebriti yang ingin memberi tepukan tangan bagi diri sendiri, mengucapkan selamat atas kecantikan, atau ketampanan diri.
Ada sejenis ketergila-gilaan untuk selalu memuja topeng yang ditaruh demi menutupi paras asli --sekaligus proses perlahan yang mengarah pada hancurnya etos publik lewat penampilan hingar bingar orang-orang yang haus nama dan popularitas di atas panggung.
Tentu kita bisa faham sekarang. Konsumerisme memang bukan perkara ada atau tidak ada uang untuk belanja dan shopping. Dengan begitu, analisa ini membantu kita buat mengerti, mengapa di tengah samudera kemiskinan banyak orang justru tidak peduli. Bahkan, sebaliknya, malah menumpuk barang-barang bermerk dengan harga yang luar biasa absurd dibeli.
Kuncinya ada pada psikologi. Bagaimana laba dikeruk dengan mengotak-atik insting libinal konsumsi, dan konsumsi yang tak karuan itu dilembagakan sebagai setapak menuju nirvana status.
Yang pernah membaca filsafat ekonomi tentu bisa terbelalak ini kali, karena
"nilai lebih" atau "nilai tambah" ternyata cuma utopia yang tak berhubungan dengan kualitas, ataupun kuantitas. Satu-satunya penjelasan yang mungkin, sekarang, cuma terletak pada klaim terhadap rasa pede, eksklusif, status, prestise, gaya, label modern.
Seseorang tak sekadar menenteng tas kulit, melainkan pamer logo Louis Vuitton. Tak sekadar minum kopi, melainkan kongkow di pojok Starbucks. Tak sekadar menginjak gas mobil, tapi duduk di atas Jaguar. Tak sekadar mengenakan pakaian buat menutup badan, tapi hendak menampakkan Armani di depan gerombolan kawan.
Dan gilanya, bila hari-hari belakangan alam tidak lagi ramah, nafas terasa sesak, polusi berhambur di semua sudut. Jangan-jangan semua itu juga akibat
peluluhlantakan konsumerisme yang merambah ke sektor ruang yang membikin ekologi berantakan, kemacetan lalu lintas di banyak jalan, dan kehancuran infrastruktur publik yang abai dari perbaikan. Mubazir telanjur meruak, jadi epidemi ke banyak lokan.
Korosi itu merusak, dan bikin hidup jadi dangkal. Dan psikoanalis perempuan,
Rachel Bowlby, yang juga seorang perempuan, punya hipotesa menawan soal ini. Ia mengungkap temuan menarik, a history of shopping was, until recently, a history of womenβdalam banyak hal, sejarah shopping dan konsumerisme adalah sejarah kaum perempuan. Para perempuan jangan buru-buru jengkel dan menyangkal, karena ternyata diagnosa Bowlby bukan yang pertama.
Pokok ini telah lama jadi refleksi dalam banyak literatur kalangan feminis.
Perempuan kerap disibukkan --dalam bahasa Ayu Utami, menyelaraskan warna sabuk dan sepatu, baju dan cincin, gelang dan anting. Paradigma berubah radikal dan bergeser dari struktur ke performa, dari hati ke body. Tentu saja, kenyataan ini sama sekali tidak mengandaikan lelaki terbebas dari gejala serupa, tapi prosentase memang hendak mengatakan: sebagaimana seks, konsumerisme adalah problem besar perempuan.
Yang menarik adalah, pengandaian manusia sebagai homo oeconomicus merentangkan nyaris semua lini hidup. Pendekatan ekonomi memberanikan diri menyediakan kerangka semesta a la Cartesian untuk memerikan kelakuan heboh manusia --yang sukar disangkal dengan memerhatikan gejala konsumtif perempuan. Tanpa disadari, konsumtivisme telah ikut memberi sokongan terhadap masokhisme, kebencian, agresivitas, dan kemarahan.
Kapitalisme dan perilaku libinal yang membiarkan manusia memenuhi libidonya tanpa batas adalah sebentuk kejahatan yang terbungkus rapi. Seorang kaya raya sebetulnya telah mencuri, karena tidak adanya kehendak untuk berbagi dengan mereka yang miskin.
Peristiwa eksploitasi dalam kapitalisme adalah pembunuhan yang tak kalah keji. Sekurangnya karena penyengsaraan manusia terjadi akibat perampasan terhadap segala yang menopang hidup manusia lain. Pola hidup yang rakus ujung-ujungnya cuma bakal memorakporandakan rajutan sosial yang menyangga hidup bersama.
Itulah kabar yang datang. Kian nyaring di hari-hari belakangan. Berpuluh-puluh orang yang terjungkal sukmanya setiap jam di sini di sana. Korban peminggiran yang konyol dan sembrono perilaku (atas nama hukum dan ketertiban) manusia haus pujian. Kebuasan telah menumpulkan nurani waras, dan menampilkan diri sebagai peristiwa yang dianggap lumrah, wajar, normal. Manusia butuh interupsi guna melanjutkan hidup, agaknya. Ratusan pasien tak mampu makin harus menikmati sakitnya yang kian hari kian mendera, atas nama Administrasi.
Keperihan, luka, cabik, seluruhnya bakal jadi simpul-simpul kecil dalam sejarah. Tragedi kita ialah, ketika kemauan untuk berendah hati sudah telanjur pupus, kehendak untuk bergandeng tangan bersama mereka yang di tepian sudah binasa. Akibatnya, adalah penyingkiran dan penampikan. Kita membutuhkan setiap diri bisa bersikukuh membangun kendali diri, melucuti horor, dan kebencian yang tak mau menekuk lutut.
Satu hal yang perlu kita hujamkan merata dalam diri kita, perubahan itu pasti, tapi hanya orang tertentu yang merasa nyaman dengan proses perubahan itu.
Arya Hermawan
Jl Taman Wijaya Kusumah No 1 Jakarta
surat@aryahermawan.co.cc
085743304433
(msh/msh)











































