Revolusi Moral vs Pemilihan Umum

Revolusi Moral vs Pemilihan Umum

- detikNews
Kamis, 08 Jan 2009 09:41 WIB
Revolusi Moral vs Pemilihan Umum
Jakarta - Indonesia adalah negara kita nan kaya tidak perlu dipungkiri. Bahwa tanah yang subur, lautan kaya, budaya etnik nan unik terdapat di setiap sudut pulau-pulaunya. Rakyatnya yang banyak dan pandai menjadi motivator di segala bidang adalah modal dan energi utama bagi kejayaan sebuah negeri.

Pertanyaannya adalah sungguh negeri ini kaya. Mengapa kita belum makmur, adil, dan sejahtera? Bahkan, negara masih saja berhutang dan bergantung donatur dan investor bangsa lain? Mengapa kita masih miskin dan miskin hingga anak-anak bangsa melacurkan tenaga dan harga diri ke luar negeri?

Mengapa tambah banyak anak-anak kecrek-kecrek di jalanan, menyodorkan amplop dan tangan meminta-minta? Mereka tidak sempat bersekolah. Lihatlah tiap tahun tumbuh kembang para lulusan sarjana namun memanjangkan daftar pengangguran di seantero negeri?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kesemua yang kita lihat dan kita rasakan menjadi sebuah fakta bahwa tanah air kita 'kaya' namun bangsa kita miskin. Akuilah ternyata bangsa kita 'kaya' karena hutang.

Bangsa kita terlanjur merasa kaya tapi sebenarnya kita miskin. Sudah miskin sombong pula. Hobi bergaya tapi malas. Lihat saja menterengnya mall di setiap sudut kota menandakan bahwa kita bangsa yang boros.  

Tumbuh Kembang Krisis
Lihatlah kenyataan melonjaknya harga kebutuhan yang tidak tahu ke mana kita harus protes? Harga barang kebutuhan melonjak karena bahan baku kebutuhan pun kita kebanyakan mengimport dari negara lain hingga akhirnya kita membayar mahal transportasi dan biaya-biaya lain tentu kita bayar dengan dollar.

Jika harga kebutuhan hidup seenaknya naik pasti pengusaha dan pedagang pengecer punya jawaban yang sama. "Biaya produksi udah selangit, kita juga rugi jual murah gak bakal perusahaan hidup. Dari sananya juga naik. Aduh, Bu, saya juga bingung jualnya tiap hari harga ini-itu naik."  

Sekarang daya beli rakyat engos-engosan. Jika bisa beli rakyat hanya bisa memenuhi kebutuhan perut keluarga. Untuk makan tempe tahu (itu pun karena bisa hutang di warung tetangga). Saya tidak habis pikir juga kenapa kebutuhan primer sehari-hari makanan begitu mahalnya di negeri nan subur ini.

Menjelang tahun 2009 'bejibun' ramalan dan analisa ahli ekonomi. Mereka mengatakan bahwa tahun depan adalah tahun krisis ekonomi terparah sejak krisis 1998. Jika kita cermat dan tidak melupakan fakta tahun 1998 kita telah mengalami multi krisis.

Gejolak euforia masyarakat dan pemuda yang akhirnya mengusung kata "reformasi" hanya sebab akibat kecil dari kejenuhan dan stagnasi keadaan yang tertekan karena kebijakan rezim. Sayangnya hal ini mudah dilupakan.

Bangsa kita memang sombong tidak mau belajar dari penderitaan, tidak sabaran, tidak mau disiplin, tidak mau bekerja keras, apalagi prihatin. Jika kita terus memakai pola-pola pemikiran dan sikap hati yang angkuh dan kemaruk, tidak mustahil krisis multidimensi secara sporadis akan menghancurkan kita semua.

Revolusi Moral
Tahun berganti agendapun berganti tajuk dan judul. Sebentar lagi ajang pesta bangsa yang bertujuan 'memilih' wakil rakyat yaitu pemilu. Yang katanya memilih caleg alias calon legislatif.

Dalam obrolan saya menikmati singkong bakar di dusun sejuk pedalaman Jawa Tengah masyarakat desa tidak banyak tertarik pemilu. Kata mereka itu
'pestane wong nduwur' (jarene kanjeng-kanjeng sing rame-rame pesta iku tujuane nggedeni perute dewe alias besarkan perut sendiri). Catatan: rupanya bahasa sarkasme sudah sedikit menjadi bahasa adopsi orang di desa. Atau mungkin orang desa sudah muak dengan bahasa menawan para tokoh yang gemar 'omdo' (alias omong doang begitu kata orang Jakarta).
 
Biaya pesta demokrasi tentu tidak sedikit. Fantastis karena setiap 4 tahun dana dikeluarkan oleh negara dari 'celengan rakyat'. Lumayan uey biayanya. Biaya yang besar tentu tidak menjadi hitungan untung rugi. Harusnya biaya besar ini menghasilkan manusia berkualitas yang bermoral.

Mereka yang ingin mewakili rakyat selayaknya berilmu. Bukan hanya keilmuan formal gelar titel dan sederet ijazah tapi 'ilmu yang berasal dari Tuhan karena ilmu dari Tuhan jelas mengandung kecerdasan universal, jujur, dan amanah'.

Saya sebagai salah satu dari sekian banyak rakyat yang kritis dan cakap ingin andil dalam memikirkan solusi bangsa agar dapat Indonesia  menjadi bangsa yang bermartabat, berderajat, dan disegani oleh dunia.

Pemikiran saya paling mendasar saat ini adalah mengajak seluruh rakyat berhijrah. Hijrah bathin dengan melaksanakan perintah Tuhan dengan kesungguhan. Lalu kita bersama-sama merevolusi perilaku kita atau moral dengan "kesadaran baru".

Koreksi Total Paradigma
Kedengarannya kata 'revolusi' begitu menyeramkan bagi sebagian orang. Tapi, jika kita penuh kesungguhan mengubah diri menjadi berkualitas maka tidak alergi dengan sikap revolusioner.

Mengapa saya lebih tertarik dengan revolusi? Karena sejauh saya menganalisa dan mencoba pada diri saya sendiri ternyata revolusi adalah jalan cepat bagi "perubahan". Kita wajib mengoreksi paradigma. Jika paradigma dan gaya hidup kita adalah biang keladi tumbuhnya krisis demi krisis maka tidak ada kata lain segeralah 'revolusi diri'. Indonesia perlu membuat gerakan 'revolusi moral'.

Kecakapan, kepandaian, kesuburan negeri, tidaklah cukup bagi bangsa ini menuju Indonesia jaya jika moral bangsa semakin absurd. Modal caleg tampang keren di-'poles', baju necis, lisan yang pandai pidato, buat janji segunung tak logika, sementara hati dan pikirannya hanya tertuju pada kekuasaan dan materi maka ini hanya menimbulkan dan menyuburkan pengkhianatan amanah rakyat nantinya. Jika ini dibiarkan terus terjadi saya pikir pemilu yang sebentar lagi di selenggarakan akan percuma. Ibarat pepatah "menyiram garam ke dalam laut".

Sebenarnya sebagian besar rakyat sudah apatis dengan pemilu. Tidak mengubah keadaan mereka. Rakyat sudah apatis dan mati rasa. Hanya doa dan diam. Tak ada tarikan hati untuk menyapa. Tak ada senyum tuk simpatik. Tak ada lagi makna berdemo. "Lelah" itulah jawaban tersisa dari bibir-bibir kering rakyat.

Alangkah mashlatnya jika kampanye pemilu menjadi kampanye sosialisasi revolusi moral. Untuk hal ini kita hanya membutuhkan kebesaran jiwa untuk introspeksi, mengakui dengan jujur dan bukan basa-basi, mengoreksi kesalahan dengan siap menunaikan kewajiban dan bersikap berani atas kebenaran.

Selain itu sebagai mahluk ciptaan Tuhan kita koreksi hati dan perbuatan yang telah khianat dengan taubat yang abadi. Hiasi hati dengan jujur, ikhlas. Bersihkan sifat dan sikap dengan budi pekerti yang santun dan luhur.

Waktu
Sekaranglah saatnya kita memulainya. Setidaknya dari individu-individu melakukan gerakan revolusi moral. Setiap pejabat atau calon wakil rakyat dari strata dan agama apa pun wajib menguji tingkat keimanannya. Apakah bisa menolak perbuatan suap menyuap. Ini bisa dilihat dari cara pandang dan gaya hidup seseorang dan keluarganya. Sederhanakah atau penuh kemewahan.

Dalam tindakan dan sikap tidak egois. Tapi, bersikap sabar, peduli, dan bijaksana. Ini akan terlihat dalam kesehariannya dalam menata organisasi maupun kegiatannya.

Bunuhlah rasa kemaruk terhadap harta. Bahkan latihlah hati dengan banyak mementingkan dan mengorbankan harta pribadinya untuk kemaslahatan masyarakat. Asahlah diri menjadi orang yang berilmu pengetahuan luas tetapi rendah hati. Tidak bersikap menyombongkan pangkat dan gelar.

Jika menjadi pejabat negara jangan membawa label pengusaha. Tinggalkan kegiatan dan jabatan bisnis apa pun. Ini menghindari perbuatan KKN. Peraturan negara harus diubah khususnya dalam penyediaan fasilitas negara yang berlebihan bagi pejabat.

Beri rumah dinas yang layak namun tidak perlu dengan perabotan yang mewah, pembayaran listrik, air, dan telepon di batasi. Karena dikhawatirkan menjadi aji mumpung dari keluarga atau kerabatnya. Hal ini setidaknya mengurangi pemborosan uang negara. Demikian sekilas pemikiran.  

Widya Mukti
Jakarta
widya_mukti@yahoo.co.id
0818 04 111 446

Ketua Komunitas Suara Revolusi 'Moral'.

(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads