PKS Kehilangan Momentum

PKS Kehilangan Momentum

- detikNews
Rabu, 07 Jan 2009 15:25 WIB
PKS Kehilangan Momentum
Jakarta - Setelah sempat menjadi partai Islam yang meroket di Pemilu 2004, dengan tema 'Bersih dan Peduli', tampaknya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sudah siap untuk meraih persentase suara yang jauh lebih besar di Pemilu 2009. Sebuah lembaga riset di pertengahan tahun 2008 bahkan memprediksikan PKS akan mampu meraih suara sekitar 13%, jauh meninggalkan PAN dan PPP yang hanya bertengger di kisaran 3%.

Tetapi akhir Desember 2008 ini, hampir semua lembaga riset menunjukkan bahwa perolehan PKS hanya berkisar 4%, yang berarti lebih rendah dari perolehan Pemilu 2004 (7%). Prediksi ini, walaupun belum akurat, tetaplah merupakan lampu merah bagi PKS.

Beberapa alasan yang menurut penulis cukup esensial dalam menjatuhkan perolehan PKS, antara lain adalah karena PKS kurang peka dalam mengangkat isu-isu yang strategis dalam keseharian masyarakat. Seperti ketika Kebangkitan Nasional akhir November 2008, ketika PKS menampilkan Soeharto sebagai pahlawan nasional, apa maksudnya? Dalam suatu talkshow di TVRI, PKS yang diwakili oleh Anis Matta menyebutkan itu sebagai 'antitesa nasional'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi masyarakat kelas menengah, muslim dan teredukasi, yang notabene menjadi segmen PKS, masih banyak yang menganggap Soeharto sebagai penjahat demokrasi, koruptor, yang belum menjalani pengadilan secara layak. Dan secara kasat mata, masyarakat juga masih melihat bahwa keluarga Soeharto bukanlah keluarga yang kelihatan secara sosial sederhana, tetapi penuh dengan intrik perebutan harta yang menjenuhkan. Sementara bagi masyarakat kelas bawah, masyarakat tidak akan peduli lagi pada Soeharto, bagi mereka bagaimana keadaan tenang, bisa makan dan bisa kerja.

Selain itu, isu lain yang diangkat oleh PKS adalah ketika Hidayat Nurwahid menyebutkan bahwa golput sebagai 'haram'. Isu ini juga semakin membuat citra PKS tidak simpatik, karena telah membawa agama untuk kepentingan politik. Ini adalah negara demokrasi. Apapun pilihan orang harus dihargai, termasuk jika dia tidak percaya kepada partai apapun.

Kemudian, pandangan yang mencolok adalah ketika penulis ke Depok, yang dipimpin oleh Walikota Nurmahmudi, yang notabene dari PKS. Apa yang terpampang di sini? Baliho yang sangat besar yang bertuliskan bahwa identitas bangsa ditentukan oleh 'makan dengan tangan kanan'. Apa relevansinya dengan persoalan bangsa? Seharusnya identitas bangsa ditentukan oleh harga dirinya untuk tidak korupsi, peka dan peduli pada masyarakat sekitar dan bekerja secara sungguh-sungguh/prodesional (yang sebenarnya merupakan tema kampanye PKS).

Jadi sayang sekali, walaupun PKS menyebut bahwa 'Harapan itu masih ada' tetapi apa yang ditampilkan PKS bukanlah sesuatu yang menyisakan harapan bagi PKS. Masyarakat membutuhkan partai yang serius bekerja untuk masyarakat. Yang terlihat dalam upaya untuk mencerdaskan masyarakat, membuka akses pendidikan, kesehatan, pemberdayaan UMKM, pemberdayaan petani dan nelayan, mengangkat kesejahteraan masyarakat miskin/golongan dhuafa, mencegah korupsi dan mengatasinya, memperbaiki system pelayanan public bagi pemimpin daerah dari PKS, dsbnya. Dan kalau itu telah dilakukan dan diiklankan/dikomunikasikan dengan baik, mungkin belum terlambat bagi PKS untuk mendongkrak citranya.

* Ilyani Sudardjat, pembaca detikcom, bisa dihubungi di ilyani_sk@yahoo.com (asy/asy)


Berita Terkait