Tahun Baru, Generasi Baru, Harapan Baru

Tahun Baru, Generasi Baru, Harapan Baru

- detikNews
Jumat, 02 Jan 2009 18:19 WIB
Tahun Baru, Generasi Baru, Harapan Baru
Jakarta - Tahun 2009 menjadi tahun yang mencemaskan sekaligus tahun yang penuh harapan. Mencemaskan karena memang kita memasuki tahun ini dengan badai krisis ekonomi yang belum juga mampu kita lalui.

Krisis yang sebenarnya adalah imbas dari krisis keuangan global. Namun, rapuhnya struktur ekonomi yang kita miliki menyebabkan kita terseret dalam arus krisis ini secara berkepanjangan.

Akan tetapi tahun ini juga tahun yang penuh harapan karena banyak pengamat menganggapnya sebagai titik awal pergantian generasi dalam kepemimpinan bangsa. Generasi lama yang terbukti gagal akan segera berakhir dan generasi baru dengan harapan baru akan segera terlahir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai bangsa yang ingin terus eksis maka tidak ada kata lain selain harus selalu optimis. Persoalan sesulit apa pun mestilah ada jalan keluarnya sepanjang kita mau menyelesaikannya. Untuk bisa menemukan jalan penyelesaian maka kita sebagai bangsa harus berani melakukan introspeksi atas kesalahan masa lalu kita dan mau melakukan perbaikan yang terus menerus.

Proses introspeksi dan memperbaiki diri ini hanya mungkin terjadi ketika kita mau menerima kenyataan bahwa ada hal yang kurang yang mungkin telah kita lakukan. Sepanjang kita selalu merasa benar dan menolak setiap kritikan, maka sepanjang itu pula kerusakan akan terus berkelanjutan.

Di tengah gemuruh politik yang tiada henti, di tengah teriakan kampanye yang bersaut-sautan dengan aksi demonstrasi, di tengah pidato politisi yang berkejaran dengan mereka yang sibuk berebut nasi, kita harus menyadari bahwa sesungguhnya kita masih memiliki beban berat dalam hal ekonomi. Meskipun beberapa tahun ini pemerintah mengklaim Indonesia telah surplus pangan.

Namun, hal itu tidak dapat menutup kenyataan mengenai masih banyaknya rakyat yang kelaparan. Meskipun pemerintah mengklaim negara ini memiliki fundamental ekonomi yang kokoh hal itu tak mampu menjawab fenomena rupiah kita yang terus tergopoh-gopoh. Meskipun pemerintah mengklaim kita mengalami pertumbuhan ekonomi yang luar biasa, namun hal itu sama sekali tak mampu menutup realita banyaknya mereka yang di-PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dan bertambahnya antrian pencari kerja.

Tentu kita harus berani mengatakan bahwa memang ada yang salah dari cara kita
mengelola persoalan ekonomi sehingga klaim-klaim mengenai pertumbuhan ekonomi tidak memiliki bukti. Pertumbuhan ekonomi yang didengung-dengungkan terjadi sama sekali tidak berkorelasi pada kesejahteraan masyarakat di seluruh negeri.

Dalam kaitan ini menarik untuk diperhatikan ucapan Paul P Streeten, Direktur World Development Institute ketika mengakatan, "jika hanya dihitung berdasarkan tingkat pertumbuhan agregat maka mungkin pembangunan yang sudah dijalankan selama ini telah membawa keberhasilan besar. Tetapi, apabila diukur atas dasar jumlah kesempatan kerja baru peningkatan keadilan sosial dan pemberantasan kemiskinan, pembangunan selama ini tidak banyak membuahkan hasil, atau bahkan telah gagal."

Pada tahun baru ini kita harus berani mengakui bahwa pembangunan kita memang telah gagal. Tengoklah formasi masyarakat kaya dan miskin di negeri kita yang masih belum banyak berubah. Lihatlah situasi desa dan kota kita yang masih selalu kumuh, terbelakang, dan menyedihkan.

Saksikan juga mobilisasi masyarakat kita dari desa yang nekat mengadu nasib di kota tanpa bekal apa-apa. Tataplah dalam-dalam sorot mata anak-anak muda kita yang hampir kehilangan harapan karena sulitnya mencari pekerjaan.

Sesungguhnya kita akan menemukan bukti-bukti kegagalan itu telah nyata. Pembangunan ekonomi kita telah gagal karena memang seluruh kekayaan kita telah tergadai oleh konsesi-konsesi yang hanya menguntungkan segelintir orang sejak awal kita memulai pembangunan. Ekonomi yang hanya berorientasi pada angka telah menyebabkan rakyat tidak memiliki apa-apa. Atas nama Negara, sekelompok orang telah mengeksploitasi kekayaan alam kita untuk kemaslahatan diri dan kelompoknya.

Contoh sederhana, sulit untuk menalar dengan akal sehat dimana pemerintah bisa menjual gas kita di LNG Tangguh dengan harga yang sangat murah ke China sementara rakyat kita sulit mendapatkannya. Sulit menalar dengan pikiran bersih ketika pemerintah berencana menjual beras ke Negara lain saat masih banyak rakyat yang kelaparan.

Sulit menerima tanpa curiga ketika pemerintah membiarkan korporasi pertambangan dunia menghisap kekayaan bumi kita dan membuat mereka kaya raya sementara rakyat yang notabene adalah pemilik syah dari kekayaan itu masih terus menderita. Dan tentu masih banyak lagi perilaku tak bermoral dari pembangunan ekonomi kita yang harus segera dihentikan.

Pemerintahan yang sama sekali tidak berpihak pada rakyat sudah seharusnya diakhiri dengan mekanisme demokrasi. Rakyat juga harus menjadi saksi dan turut berkontribusi untuk menghentikan langkah mereka-mereka yang kegagalannya telah terbukti untuk maju kembali. Sudah saatnya generasi baru bangkit untuk menawarkan solusi bagi kemajuan negeri. Pemilu 2009 harus menjadi akhir dari semua penipuan terhadap anak negeri.

Oleh karenanya marilah kita menjadi saksi dan berkontribusi untuk perubahan-perubahan besar di negeri ini. Semoga di tahun yang baru, kita akan benar menyaksikan kelahiran generasi baru yang mampu membawa harapan baru dan sama sekali bukan penipu. Semoga!

Mukhamad Najib
The University of Tokyo International Lodge
4-6-41 Shirokanedai Minato-Ku Tokyo
mnajib23@yahoo.com
09098210982

(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads