Krisis demi krisis di seantero bukanlah disebabkan oleh zaman. Akan tetapi krisis di seluruh dunia berawal dari kerusakan yang kita ciptakan dan budayakan. Lihat saja betapa banyaknya korban reruntuhan dari 'hasil' pekerjaan umat manusia yang bernama perang.
Bukan saja hasil dari peperangan antar negara, perang antar golongan, dan isme-pun selalu menimbulkan kerusakan. Apa pun perang selalu menghasilkan kerusakan dan sisa; penderitaan. Namun, ada perang yang 'hasil' kemenangannya adalah kedamaian; yaitu perang melawan hawa nafsu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Inilah yang harus kita perangi. Jika kita dapat memenangkan nafsu-nafsu ini maka akan menimbulkan sinkronisasi energi positif bukan saja pada diri individual akan tetapi akan terasa secara global.
Krisis global yang mulai terjadi adalah sebab akibat kita yang selama ini membiarkan nafsu-nafsu kita menjadi subur dan liar. Semua sumber daya alam, sumber daya manusia, dieksploitasi sebagai pemenuhan kepuasan fisik semata.
Lihatlah hutan kita yang gundul akibat penebangan semena-mena para pemilik HPH yang notabene pengusaha dan kroni para pejabat. Tambang emas, batu bara, minyak, gas bumi, pasir besi, pasir laut dikeruk sepuasnya untuk pemenuhan 'keinginan' sebagian besar penduduk bumi. Betapa rakusnya manusia.
Krisis global yang mulai berlangsung memang sebuah peringatan dini bagi umat manusia di mana pun untuk segera kembali kepada fitrah Ilahi bahwa Tuhan menurunkan manusia ke bumi untuk memakmurkan bumi, dan bumi diciptakan untuk kemakmuran umat manusia. Namun, manusia kini malah merusaknya.
Manusialah menghancurkan tatanan bumi dan alam semesta dengan rakus sehingga ketika segala sumber daya alam menjadi terbatas kita seolah tak punya harapan. Tuhan adalah sumber segala sumber kehidupan, DIA-lah sumber pemberi kemakmuran.
Ia memberi kepada umat manusia yang diciptakan-Nya segala kebutuhan hidup manusia, tanpa lelah, tanpa tidur menjaga segenap alam semesta dengan segala kasih sayangNya. Ia tentu Maha Penyayang. Buktinya kita masih saja diberi kemudahan melangsungkan kehidupan. Masih ada ikan di laut kita, masih ada tumbuhan dan sayur mayur, masih ada hewan untuk protein kita.
Namun, kita jangan melupakan bahwa Tuhan Maha Menghancurkan yang Dia ciptakan apa pun jua. Kita telah melihat dan melewati bencana-bencana kecil maupun skala besar seperti Tsunami. Ingatkah ketika bencana itu menjadi hikmah bagi kita untuk mengakui salah dan penuh dosa, kita merasa kecil, lemah dan tak berdaya.
Mengapa kita hanya dapat bersedih, meratap, lalu tafakur introspeksi tanpa kita mau koreksi dan mengubah? Krisis yang akan kita hadapi bisa jadi cara Tuhan memberi kita ingatan bahwa kehancuran global akan terjadi di sentero dunia jika kita masih saja sombong, tidak jujur, rakus, menindas yang lemah, kejam kepada sesama.
Bukan mustahil krisis hanya bayang-bayang yang tidak pernah nyata jika saja kita semua berubah menjadi arif, penuh cinta kasih kepada sesama, jujur, rendah hati, dan penuh kebajikan dan berbudi luhur. Dan yang utama: Libatkan Tuhan dalam setiap aktifitas luhur kita. Anda yakin? Ayo berubah niscaya krisis berlalu.
Widya Mukti
Ketua Komunitas “Suara Revolusi(moral)”,
Pemerhati Masalah Sosial dan Hukum.
(msh/msh)











































