Natal adalah saat ketika mereka menerima (sekali lagi penulis pertegas: 'MENERIMA') hadiah Natal. Jadi, seperti pada Natal-natal sebelumnya, kali ini mereka pun meminta mainan pada Sinterklas. Namun, berbeda dengan tahun lalu, kini kondisi keuangan orang tua mereka sedang tak baik. Namun, mereka sudah terlalu terbiasa dengan tradisi bahwa setiap Natal mereka akan mendapatkan hadiah.
Mereka akan merengek dan kecewa sekali kalau tahun ini mereka tak mendapatkannya. Para orang tua mereka yang tak tega melihat anaknya sedih meminta media untuk menghentikan iklan mainan (lihat: http://www.foxnews.com/story/0,2933,459185,00.html). Tapi, itu tak mengubah kenyataan: ada sesuatu yang salah dalam tradisi ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Natal adalah saat Tuhan YME memberikan harapan, memberikan hal non duniawi pada manusia. Jadi, kenapa sekarang natal mendadak menjadi perayaan datangnya Sinterklas yang membagi-bagikan hadiah Natal? Kenapa ketika kita mendengar genre "Christmas Film" itu artinya film mengenai Sinterklas? Bukankah ini artinya Natal sudah dibajak?
Para pengusaha jelas lebih menyukai Sinterklas daripada Yesus. Sebab, via Sinterklas mereka bisa menjual 1001 barang. Via Sinterklas, mereka bisa menjangkau masyarakat non Kristen (baca: menyuruh mereka belanja sebanyak mungkin di saat Natal). Namun, itu tak mengubah kenyataan: mereka sudah membajak Natal. Mereka sudah mengubah definisi sebuah perayaan suci menjadi sebuah alasan untuk belanja lebih banyak.
Mereka membajaknya dengan sangat bersemangat. Tiap tahunnya film-film Natal
diluncurkan studio Holywood, dan berapa persen yang menceritakan Yesus? Berapa persen yang plotnya berkisar pada Sinterklas dan kepercayaan pada sinterklas bahkan mengenai "Iman" kepada Sinterklas? Absurd.
Ini sebetulnya sama saja dengan kalau hari raya Waisak kita rayakan sebagai hari datangnya Sun Go Kong membagikan bakmie ke semua anak-anak baik. Ini sama saja seperti kalau kita merayakan Idul Fitri sebagai hari turunnya malaikat untuk membagi-bagikan madu ke semua anak-anak yang tidak nakal. Salah, dan menyesatkan.
Setelah melihat kesalahan praktek ini dari segi makna sucinya mari kita lihat dampaknya buat anak-anak. Apakah definisi baru ini bagus buat anak-anak? Tidak sama sekali. Pertama, anak-anak Amerika menjadi terbiasa untuk meminta, bukannya memberi.
Natal menjadi saat meminta dan menerima. Bukannya saat memberi. Bukan itu saja. Dengan kepercayaan bahwa Sinterklas datang dan memberikan hadiah cuma kepada anak baik. Mereka juga menjadi "Pedagang". Mereka jadi melakukan perbuatan baik demi hadiah. Mereka jadi melakukan perbuatan baik tidak dengan setulus hati.
Mereka melakukan perbuatan baik bukan karena tahu bahwa perbuatan baik itu memang baik. Tapi, karena iming-iming imbalannya. Ketika mereka tak mendapatkan imbalan itu mereka marah. Mereka menangis, dan mereka membuat pusing orang tuanya. Seperti yang terjadi sekarang ini.
Jadi, bukankah artinya kalau kita merayakan Natal dengan Sinterklas berarti kita merayakan kepalsuan dan kesalahan? Bukankah itu artinya kita sudah membuat orang lain lupa akan makna Natal yang sesungguhnya?
Beruntung, menurut penulis, di Indonesia dan negara-negara lain kebanyakan orang tidak lupa soal ini. Namun, siapa yang bisa menjamin apa yang terjadi 50 tahun ke depan? Amerika menjadi peringatan buat kita. Amerika sudah memulai kebiasaan buruk membajak makna Natal dan kini mereka menuai hasilnya. Inilah yang terjadi kalau kita melupakan makna Natal yang sesungguhnya.
Marcel Hizkia Susanto
353B Admiralty Drive #06-284
Singapore
marcel_hizkia_susanto@yahoo.co.id
+65-91568343
(msh/msh)











































