Sudah saatnya kita sadar bahwa para pemimpin yang akan kita pilih bukan pemimpin yang pandai beretorika yang melangit penuh dengan buaian dan rayuan bagaikan buluh perindu. Rakyat saat ini harus cermat lagi memilih para pemimpinnya. Jangan terpikat dengan tebar pesona dan omongan-omongan yang halus. Akan tetapi kita harus melihat langkah nyata dari kebijakan-kebijakan pemimpin tersebut. Apakah berpihak pada rakyat atau malah sebaliknya.
Retorika kepemimpinan yang baik berdasarkan ajaran Ki Hajar Dewantara. Bunyinya adalah sebagai berikut:
"Ing ngarso sung tulodo". Artinya seorang pemimpin harus mampu lewat sikap dan perbuatannya menjadikan dirinya pola anutan dan ikutan orang-orang yang dipimpinnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tut wuri handayani", artinya seorang pemimpin harus mampu mendorong orang-orang yang diasuhnya agar berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab.
Memang, dalam politik rasanya sukar bagi seorang politikus untuk mencapai reputasi, prestasi, dan prestise tanpa penguasaan retorika. Bagaimana dia bisa menyebarluaskan idenya kepada rakyat dan menanamkan idenya pada benak tiap individu tanpa retorika.
Seorang politikus mutlak harus seorang retor atau orator yang mampu membawa rakyat ke arah yang dituju bersama-sama. Terutama berperan serta dalam mengisi pembangunan untuk mencapai kemakmuran hidup.
Tapi, apakah cukup sekedar retorika yang baik saja dan menebar pesona di mata rakyatnya, sementara janji-janji saat kampanye belumlah banyak terbukti di hadapan rakyatnya. Atau pemimpin yang banyak diam tidak banyak bicara di mana rakyatnya tidak tahu apa yang jadi kebijakan pemimpinnya karena tidak adanya komunikasi politik. Apakah kepemimpinan yang model begini yang dapat memberikan harapan bagi rakyatnya.
Kesenjangan hidup saat ini antara si miskin dan si kaya makin jelas terlihat kontras. Bahkan yang miskin makin bertambah. Pesona janji yang ditawarkan saat kampanye oleh para politikus malah jadi boomerang bagi rakyat itu sendiri yang mana janji-janji tidak terbukti.
Kesalahan fatal bagi rakyat adalah mudahnya terjebak dengan rayuan-rayuan manis dan retorika-retorika yang mempesona dengan bahasa yang lembut dan halus dari para politisi. Sudah saatnya kita memilih pemimpin yang mampu membumikan retorika-retorikanya. Bukan hanya sekedar janji tapi bukti. Bukan wacana tapi realita dan fakta. Kinerja bukan hanya pesona.
Untuk memilih pemimpin di tahun 2009 hendaknya rakyat berhati-hati. Jangan mudah terjebak dan terayu dengan retorika belaka. Bahkan kalau memang yang sudah-sudah kita pilih di masa lalu tidak dapat memberi harapan dan perubahan maka carilah pemimpin alternatif yang belum pernah memimpin.
Dengan demikian kita masih dapat memberikan harapan yang terbaik dari yang sudah-sudah kita pilih dulu. Atau sebaliknya kita malah sudah muak dan jengah dengan istilah pemilu yang hasilnya 'cuma gitu lagi-gitu lagi ngga' membawa perubahan dan perbaikan bagi kehidupan rakyat dan membuang-buang uang rakyat saja.
Sikap pesimis pun rasanya wajar-wajar aja saat ini jika memang kenyataannya sangat memilukan. Rakyat terus menderita. Hidupnya tak berubah tiap kali pemilu. Tiap kali buang-buang anggaran negara yang hasilnya nol besar dan makin carut marut tak karuan.
Biaya pendidikan makin mahal. Bahkan pendidikan terutama pendidikan tinggi nantinya hanya milik golongan si kaya saja. Sebab, mustahil si miskin mampu menjangkaunya sebab biayanya makin melangit. PHK makin menambah pengangguran di pelosok negeri ini. Pokoknya masih banyak lagi berbagai ketimpangan yang terjadi di bumi Indonesia ini.
Masih adakah harapan negeri ini menjadi baik dan masih adakah orang yang akan memimpin negeri ini dengan baik pula gitu. Entahlah.
Ghie
Melong Raya Cimahi
paradigma.rider@yahoo.co.id
02292554639
(msh/msh)











































