Benturan Antar Peradaban

Benturan Antar Peradaban

- detikNews
Senin, 22 Des 2008 18:31 WIB
Benturan Antar Peradaban
Jakarta - Ambruknya Uni Soviet tahun 1991-an mungkin boleh dijadikan tanda berakhirnya perang dingin antara blok Komunis dan Kapitalis Barat. Francis Fukuyama dalam The End of History-nya menyatakan bahwa dunia akan mencapai satu konsensus luar biasa terhadap Demokrasi Liberal. Ia berasumsi bahwa Demokrasi Liberal adalah akhir dari evolusi ideologi setelah runtuhnya berbagai ideologi lain seperti Monarki, Komunis, Fasisme, dan seterusnya. Tercabiknya Uni Soviet dalam beberapa negara seolah-olah menjadi momentum pembanding antara Kapitalisme dan ideologi serta isme-isme lain di muka bumi.

Jauh hari sebelumnya ketika perang dingin tengah berlangsung seru seorang ilmuwan muslim Naquib Al Attas lewat bukunya Islam and Secularism (1970) telah mengendus bahwa konflik antara Islam dan Barat adalah Permanent Confrontation (konflik yang abadi). Dan akan merambah pada semua level mulai dari ekonomi, militer, hingga level intelektual.

Bagi Samuel P Hutington penasehat politik kawakan Gedung Putih dalam bukunya Clash of Civilization (1996) menyebut konflik Islam dan Barat merupakan konflik sebenarnya. Sedangkan konflik antara Kapitalis dan Marxis sifatnya cuma sesaat dan dangkal. Dari 32 konflik besar dunia di tahun 2000-an dua per tiganya adalah antara Islam dengan Non-Islam tanpa ia mengurai secara detail sebab akibat dan mengapa konflik itu terjadi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada gilirannya Hutington merekomendasi perlunya Pre-emtive Strike (serangan dini) terhadap ancaman kaum Militan Islam. Idenya sangat efektif mewarnai politik luar negeri Amerika Serikat (AS) era George W Bush. Awal Juni tahun 2002, Pre-emtive Strike menjadi doktrin baru AS dan diumumkan ke publik. Meskipun itu menimbulkan kontroversi baik di kalangan dalam maupun luar negeri, sebab sewaktu perang dingin saja memakai metode penangkisan dan penangkalan, kenapa menghadapi musuh baru --teroris, yang masih samar-samar justru AS menggunakan metode serangan dini?

Namun, sang adidaya tak perduli. Ia jalan terus dengan para sekutu kendati invasi militernya pada beberapa wilayah disebut "illegal" oleh United Nations.

Inti kontroversi doktrin Pre-emtive Strike ialah dengan pertimbangan pembelaan diri --cukup melalui asumsi, maka suatu negara sudah boleh menyerang kedaulatan negara lain atau istilahnya pukul lebih dulu sebelum dipukul.
Β 
Banyak opini mengatakan doktrin tersebut lahir akibat phobia Barat terhadap Islam. Phobia adalah ketakutan berlebih tanpa dasar. Maka dengan beragam alasan ia pun menebar sentimen keagamaan atas tragedi 11 September 2001 melalui propaganda "perang melawan teroris" (WOT: War On Terror) guna meraih dukungan internasional. Akhirnya propaganda itu pun bergeser (atau sengaja digeser) maknanya bahwa teroris identik dengan Islam. Dan, memang itu tujuannya.

Dalam ulasannya Hutington menyebut berbagai faktor penyebab meningkatnya konflik antara Islam dan Barat, antara lain:

(1) Tumbuh cepatnya penduduk Muslim telah memunculkan pengangguran jumlah besar. Ini menimbulkan ketidakpuasan kalangan kaum muda muslim.
(2) Kebangkitan Islam memberi keyakinan kepada kaumnya akan tingginya dan keistimewaan nilai peradaban Islam dibanding Barat. Β 
(3) Di sisi lain, Barat berusaha meng-global-kan nilai dan institusi guna menjaga "superior" militer serta ekonomi dan turut campur tangan pada konflik-konflik di negara mayoritas Islam. Hal ini memicu kemarahan kaum muslim.
(4) Porak-porandanya Uni Soviet telah mengubah musuh (Komunisme) bersama, sehingga antara Islam dan Barat merasa sebagai ancaman. Β 
(5) Meningkatnya interaksi keduanya, mendorong perasaan baru masing-masing bahwa identitasnya berbeda dengan yang lain. Β 

Dalam buku terbarunya Who are We (2004), Hutington semakin tegas menggambarkan pemikirannya bahwa musuh Barat pasca perang dingin adalah Islam. Meski ditambah predikat "Militan", namun di berbagai penjelasan definisi Islam Militan melebar ke mana-mana sehingga mengaburkan makna sesungguhnya. Tatkala perang dingin usai, maka Islam (Militan) telah benar-benar mengganti posisi Uni Soviet sebagai musuh utama AS dan sekutunya.

Jatuhnya ekonomi AS menyebabkan krisis global di mana-mana sebagai efek domino. Hal itu membuktikan bahwa Kapitalisme yang mengagungkan Demokrasi Liberal ternyata bukan akhir evolusi ideologi sebagaimana asumsi yang dikemukakan oleh Francis Fukuyama. Kemenangan Kapitalis atas Komunis saat perang dingin tak membawanya ke puncak hegemoni. Nasibnya tidak berbeda juga dengan ideologi lain. Rontok secara alamiah. Tesis Fukuyama-pun gugur demi hukum. Dunia bertanya, peradaban dari ideologi manakah yang lebih unggul lagi lestari?

Kemunculan Rusia dan China dalam kiprah di panggung hegemoni global menarik perhatian bersama. Mata dunia seakan-akan melihat bangkitnya Komunis via kedua negara tersebut. Adakah solusi setelah bangkrutnya Kapitalisme, banyak negara bakal berkiblat kepada Rusia atau China?

Kembali masyarakat internasional terpana ketika banyak produk China ditolak
berbagai negara karena terkontaminasi bahan kimia berbahaya. Dunia pun menduga-duga bahwa Rusia bakal menjelma super power menggantikan AS dengan "Test Case" serangan ke Georgia. Tetapi, kembali diragukan ketika salah satu kapal selam canggihnya kecelakaan di perairan Jepang.

Persoalannya adalah peradaban manakah bisa menjadi teladan bagi masyarakat dunia setelah melihat berbagai ideologi yang tumbuh dan berkembang di muka bumi bertumbangan satu demi satu?

Kesalahan pokok dari Barat dan banyak komunitas lain adalah memandang "Islam
sebagai ideologi". Inilah titik awalnya. Sehingga dampak yang muncul Islam diletakkan sebagai Pesaing, Kompetitor, bahkan usai perang dingin pun ia dianggap sebagai musuh utama seperti isyarat Clash of Civilization yang menjadi rujukan Gedung Putih era Bush Jr.

Sesungguhnya Islam itu bukan Ideologi melainkan Agama. Kalau ideologi merupakan hasil olah pikir manusia yang dijadikan pedoman hidup dan kehidupan (peradaban) suatu komunitas, kaum, negara, dan sebagainya. Sedangkan Islam ialah "tuntunan" hidup manusia menurut petunjuk-Nya.

Manakala banyak aliran dalam tubuh Islam dan tiap aliran mengklaim dirinya sebagai kelompok paling benar sendiri itu bukanlah hal prinsip di internal Islam karena cuma masalah latar belakang, pendidikan, wacana, dan seterusnya. Memang butuh waktu untuk men-defrag (menata ulang) kembali.

Dampak yang timbul seakan-akan umatnya terkotak-kotak. Kondisi ini dimanfaatkan untuk memecah belah Islam dari sisi dalam oleh negara atau kaum yang menganggap sebagai ancaman. Ingat strategi belah bambu dan taktik adu domba Barat di negara-negara Islam. Adanya cap ataupun merek Islam radikal, liberal, modern, Islam fundamental, tradisional, dan seterusnya, sejatinya adalah stigma buatan Barat yang hendak membentur-benturkan sesama muslim tanpa umat Islam itu sendiri menyadarinya.

Itulah hakiki yang terjadi di berbagai negara. Walaupun tata cara dan format adu domba terlihat tidak sama di tiap wilayah namun hakikinya serupa. Hanya berbeda nama dan beda nuansa.

Merujuk judul tulisan ini, sesungguhnya tidak ada ideologi lestari di muka bumi ini karena semua bisa berubah menurut waktu. Tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Setiap ideologi mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing. Sebagai contoh ideologi X dianggap baik di negara A yang belum tentu cocok diterapkan pada negara B. Demikian sebaliknya. Oleh karena itu upaya peng-global-an nilai dan peradaban oleh suatu negara atau kaum tertentu adalah hal mustahil. Tak masuk akal.

Dan perlu dicatat baik-baik oleh semua pihak bahwa Islam "bukan" Ideologi. Sekali lagi: Islam itu bukan ideologi. Islam adalah Agama.

Tulisan sederhana ini bukanlah pembenaran dan juga belum bisa dikatakan kebenaran. Namun, sekedar menyikapi kecamuk dinamika global. Oleh karena secara hakiki berawal dari asumsi keliru suatu kaum atau negara tertentu. Lalu mereka menciptakan metode dan pola untuk menghancurkan Islam dengan berbagai cara.

Ketika pola-pola yang dipakai sudah "Basi dan Terbuka", maka ibarat "menepuk air di dulang memercik ke muka sendiri". Metode AS dan sekutu (Barat) menghantam kaum Muslim selama ini disinyalir seperti membuat liang lahat bagi
kuburnya sendiri. Bodoh. Percuma lagi sia-sia.

Oleh sebab implementasi metode pamungkasnya yaitu Invasi (Keroyokan) ala militer yang bermula pemberian "stigma" kepada suatu kelompok dan negara sasaran, justru menyebabkan bangunan moneter runtuh berhamburan ke mana-mana. Mengakibatkan krisis ekonomi global. Wajah kapitalis menebar senyum muram di mana-mana. Memetik buah kebangkrutan jerih payahnya. Demikianlah adanya.

Hamid Ghozali
Warung Contong Timur 1 Cimahi
hamidghozali@hotmail.com
0817437171

(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads