Antara Keutuhan Negeri dan Budaya Tak Jelas

Antara Keutuhan Negeri dan Budaya Tak Jelas

- detikNews
Senin, 22 Des 2008 10:37 WIB
Antara Keutuhan Negeri dan Budaya Tak Jelas
Jakarta - Beberapa bulan yang lalu kita mendengar isu konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia terkait dengan perebutan lagu Rasa Sayange atau apa yang terjadi di Indonesia mengenai perdebatan yang alot mengenai pengesahan Undang-undang (UU) Anti Pornografi.

Sungguh sangat mengherankan apa yang terjadi terhadap bangsa kita. Dengan alasan memperjuangkan demi rasa nasionalisme dan mempertahankan kebudayaan nasional sampai-sampai hubungan diplomasi Indonesia - Malaysia sempat tegang.

Hal yang sangat-sangat ironi para aktivis liberalisme dan Hak Asasi Manusia (HAM). Mereka dengan dalih demi keutuhan bangsa dan persatuan rakyat serta mempertahankan kebudayaan di Indonesia mereka selalu menolak UU Anti Pornografi dan Pornoaksi serta mengkampanyekan sekulerisme.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika kita teliti dengan cermat mereka tidak lain adalah sebagai musuh dalam selimut. Kita ambil contoh dalam kasus Rancangan Undang-undang (RUU) Anti Pornografi dan Pornoaksi. Orang-orang di Irian memakai koteka. Seharusnya mereka bisa menilai mana kebudayaan yang baik dan tidak. Di Irian seharusnya mereka diajarkan bagaimana memakai pakaian yang layak dan sempurna tidak malah telanjang (hanya menutpi kemaluannya saja).

Orang-orang yang memakai kemben seharusnya pula tidak dilestarikan sebab itu merupakan budaya zaman penjajahan yang dahulu mereka tidak memakai pakaian yang layak karena sulit mendapatkannya sehingga mereka memakai pakaian seadanya.

Hal yang lebih gila lagi mengapa mereka yang selalu berdalih demi keutuhan bangsa mereka tidak tergerak untuk menolak upaya asing untuk memecah belah negara kita. Contohnya kasus Timor Timur serta kasus sekarang asing selalu menginginkan lepasnya Aceh dan Papua lepas dengan adanya kelompok-kelompok separatis kemerdekaan serta intervensi negara-negara asing melalu perusahaan perusahaan multinasional seperti Freefort di Papua, Exon Mobil, Cevron, dan lain-lain.

Maka dari itu mari seluruh komponen umat kita harus cermat. Mana orang-orang yang mau bersih memperjuangkan kebenaran dan keutuhan negara Indonesia atau para LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) komprador yang mereka bekerja hanya untuk memenuhi keinginan tuannya, yaitu asing, khususnya AS.

Setelah gagalnya kapitalis dalam mengatasi permasalahan hidup dan tejadinya krisis ekonomi global tidak ada jalan lain kecuali hadirnya sistem Islam sebagai solusi tepat dalam mengatasi krisis multidimensi terkini sampai akhir zaman.

Tidak akan pernah ada yang akan menandingi imperium Islam dalam naungan Daulah Khilafah Islamiah yang terkenal kejayaannya yang penuh dengan kesejahteraan sampai-sampai terkenal dari dunia timur sampai Barat. Wallahualam.

Ririh Priyatna Jafar
Jl Abesin Cibogor Bogor
jafar_itk@yahoo.com
085710373769

(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads