Seiringan dengan itu kita "kecolongan" ideologi impor yang memandang rendah maternal function --apa yang yang dahulu dilakukan kaum wanita sebagai amal saleh, apa yang dahulu menimbulkan perasaan harga diri dan kegembiraan, sekarang dipandang sebagai kolot dan konservatif.
Maka terjadilah maternal deprivation terselubung --pada kaum wanita sering kali dijumpai hal konfrontatif-kompetitif terhadap kaum pria. Pendekatan yang semacam inilah yang tidak jarang menimbulkan kesan bahwa wanita merasa dikesampingkan peranannya dalam proses kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Persoalannya kemudian adalah dapatkah wanita itu menikmati peran gandanya dan atau malah menjadi beban ganda? Adakah konsekuensi dari wanita berperan ganda itu?Β Β
John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam bukunya yang sangat terkenal: Megatrends 2000 menyebutkan satu dari sepuluh kecenderungan besar dasawarsa 90-an sebagai dasawarsa wanita dalam kepemimpinan. Ramalan itu kemudian memang cukup dapat dibuktikan. Terutama ketika Megawati Soekarno Putri menjadi presiden yang kelima republik ini, dan ada beberapa wanita yang menjadi menteri serta kepala daerah.
Terbukti atau tidak ramalan Naisbitt tersebut yang jelas kaum wanita kini hampir di segala bidang telah memperoleh kesempatan yang sama dengan pria untuk mengaktualisasikan dirinya di tengah masyarakat. Melihat keadaan seperti ini kita tidak akan bertanya apa saja yang sudah dilakukan oleh wanita. Tetapi, apa saja yang belum dilakukan oleh wanita.
Kalau dicari kata kunci yang menjadi pemicu semangat kaum wanita ini adalah emansipasi, feminisme, atau kebebasan wanita. Istilah "emansipasi" bermakna
"kemerdekaan", "pembebasan" (dari kekangan). Istilah itu menyangkut kaum wanita, yaitu memberikan hak, kesempatan, dan tanggung jawab yang sama dengan pria. Sedangkan "feminisme" adalah wadah gerakan emansipasi itu yang lahir di Amerika Serikat.
Sebenarnya feminisme sudah ada sejak abad 19. Untuk meletakkan dasar-dasar
perjuangannya mereka menyusun teori-teori untuk membantah anggapan mengenai wanita dari pemikir-pemikir sebelumnya yang menganggap wanita lebih rendah derajat kemanusiaannya dari pria. Pemikir-pemikir kuno hingga zaman Freud masih menilai wanita sebagai lebih rendah dari pria. Berbagai literatur menyebutkan bahwa Aristoteles filsuf kesohor Yunani yang hidup 382-322 M pernah berkata: "bahwa laki-laki menguasai wanita karena jiwa wanita tidak sempurna".
Pelopor psikoanalisa, Sigmund Freud, dengan teori "Penis Envy"-nya membuat teori yang menggelikan. Dia berpendapat: "bahwa perbedaan kelamin yang dimiliki laki-laki dan wanita menyebabkan wanita merasa rendah diri".Β Β
Di era globalisasi ini menurut saya kaum wanita cenderung dieksploitasi untuk berbagai kepentingan bisnis. Hampir semua jenis bisnis mulai dari industri iklan sampai biro perjalanan tidak ada yang tidak memanfaatkan wanita. Bukan hanya sekedar wajah cantik dan senyum menawan. Tapi, bagian-bagian tubuh seksual pun "diperdagangkan" demi uang dan popularitas.
Setiap orang boleh-boleh saja untuk menunjukkan eksistensinya. Citra dirinya. Hal ini berlaku secara umum tanpa membeda jenis kelamin karena hakikat manusia adalah selfish (mementingkan dirinya sendiri). Sikap selfish itulah yang memotivasi seseorang dalam berbuat dan bertindak. Manusia terkadang tidak mempedulikan di tempat mana dan bagaimana caranya. Namun, itulah hakikat manusia melakukan rangkaian peri dan tingkah laku kehidupannya. Termasuk wanita.
Wanita mana pun di dunia ini sangatlah mendambakan hak dan kewajiban mereka sederajat dengan kaum pria. Karenanya, wanita Indonesia sangatlah beruntung memiliki pahlawan seperti Raden Ajeng Kartini, Cut Mutia, Dewi Sartika, Cut Nya Dien, dan masih banyak pahlawan-pahlawan wanita lainnya yang semasa hidupnya begitu gigih memperjuangkan agar hak dan kewajiban wanita disamakan dengan kaum pria.
Jika kita merenungkan sejenak mengenai peran sebagai wanita karier maka sebenarnya apa sih yang kita inginkan. Dan wanita pada saat ini merupakan senjata yang ampuh bagi promosi bisnis.
Banyaknya produk-produk dan industri telekomunikasi informasi yang dipasarkan menggunakan wanita sebagai model iklannya untuk menarik peminat pembeli sebanyak-banyaknya. Para kalangan bisnis ini berdalih dengan mengatakan: "kami meng-cover anda karena profesi anda sebagai seorang yang pantas dijadikan model iklan atau produk tertentu".
Wanita merupakan dagangan yang secara materi sangat berarti bagi laku tidaknya suatu produk. Sesungguhnya popularitas itu pada akhirnya akan masuk ke dalam keranjang-keranjang sampah sehingga para pembeli akan mencari produk baru yang memuat gadis-gadis cantik sebagai model iklannya. Inilah fakta "barang dagangan" para kalangan bisnis dalam menjual berbagai produk dagangannya.
Seiring dengan kemajuan ilmu dan teknologi negara-negara industri maju mengalami pula apa yang dinamakan konflik nilai. Satu di antara berbagai permasalahannya adalah gelombang protes wanita. Gerakan pembebasan wanita (women's liberation) telah menjungkirbalikkan tata nilai yang telah berlaku sebelumnya di negara-negara tersebut. Mereka menuntut emansipasi wanita. Suatu usaha untuk mempersamakan hak wanita terhadap pria di segala bidang.
Peletakan peran, fungsi, hak dan kewajiban antara pria dan wanita sesuai dengan proporsinya didasari oleh realita obyektif bahwa antara pria dan wanita memiliki perbedaan mendasar. Baik Biologis maupun psikologis. Artinya wanita hendaknya memahami bahwa maternal function (fungsi keibuan) berada di garis depan karena rentang waktu kewajibannya yang panjang dan berlainan dengan bapak.
Kesehatan keluarga berada di tangan ibu yang mengatur dan melaksanakan ketertiban rumah tangga. Kebersihan dan kerapiannya. Ibu pula yang menentukan sehatnya keluarga melalui gizi keluarga. Fungsi ibu pula yang melahirkan anak dan tak tergantikan oleh bapak, menjadikan ibu mutlak sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, bahkan melalui perilaku ibu sewaktu janin masih dalam kandungan.
Dengan begitu, seorang ibu sangat menentukan pada saat-saat paling kritis dalam kehidupan manusia, mensuplai zat-zat kimia yang menentukan pada saat kehamilan dan menyusui selama dua tahun, di saat anak manusia sangat mudah dibentuk.
Wanita juga merupakan nurture, yang memberi pengaruh nongenetic utama yang memungkinkan pembentukan watak dan kepribadian. Ini sangat tergantung pada kedewasaan dan kearifan wanita itu sendiri dalam mempersiapkan dirinya yang tak kalah mulianya dengan hak dan kewajiban serta tanggung jawab pria.
Dalam konteks hubungannya dengan pembangunan karakter bangsa peranan dan fungsi wanita harus jelas, dipahami, dan ditindaklanjuti. Dalam hal ini belum diperoleh jawaban yang pasti. Tetapi, yang pasti adalah diperlukan pemahaman yang komprehensif tentang makna kewajiban yang hakiki dari wanita. Inilah yang seharusnya menjadi concern dari Kementerian Pemberdayaan Wanita.
Imelda
Jl Ahyar No 17 Duren Sawit Jakarta Timur
imelda.73amd@gmail.com
085921755345
(msh/msh)











































