Message in The "Sepatu"

Message in The "Sepatu"

- detikNews
Selasa, 16 Des 2008 18:06 WIB
Message in The Sepatu
Jakarta - Nampaknya ada sedikit pergeseran di seni panggung budaya Nusantara kita. Di tatanan seni panggung, biasanya, puncak atau klimaks nilai "entertain"-nya adalah ketika sosok pelawak tampil di tengah-tengah cerita. Tidak disebut sebagai inti dari pertunjukkan tetapi cukup disebut sebagai klimaksnya hiburan. Karena itu jangan heran jika sosok pelawak biasanya justru sang maestro di paguyubannya.

Dia harus bisa menampilkan lawakan yang mengundang gelak orang banyak. Dan, itu sangat tidak mudah. Karena di sesi ini semua orang menunggu dan terpusat perhatiannya. Dia harus serba bisa. Bahkan, jika perlu dia harus bisa membawa tema-tema kontemporer yang sedang "in" saat itu agar penonton merasa diajak ke dunia yang lebih "nyata" dan "hangat".

Sebagai contoh adalah wayang. Klimaksnya tentu di "goro-goro". Orang biasa melihat kualitas sang dalang untuk mengukur talenta "menghiburnya" dengan melihat bagaimana dia membawakan goro-goro di tengah cerita.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kirun misalnya, merupakan seorang maestro. Bisa nyanyi, nembang, gamelan, falsafah Jawa, dan bahkan dangdutan sekali pun. Jika diperlukan harus bisa nge-rock. Kreator dan Sutradara Kethoprak Humor yang pernah mengorbit lama di RCTI itu ada di Timbul.

Padahal biasanya dia berperan sebagai pesuruh atau abdi. Lesus pada zamannya merupakan talent yang sudah jarang ditemukan di tanah Jawa sekali pun. Lenong, ludruk, dan sekian banyak seni panggung asli Nusantara semua memiliki ciri khas yang kurang lebih sama.

Rupanya, saat dagelan digelar, hubungan antara penonton dan seniman tiba-tiba "demokratis". Sang penonton bisa terlibat langsung. Celometan. Bersautan. Bahkan ada yang sebagian melempar sesuatu ke arah pemain. Jika sebuah penghargaan biasanya bungkusan yang terlempar adalah nilai uang yang lumayan. Nilainya bisa dijadikan patokan sebesar apa apresiasi penonton terhadapnya. Ada kalanya disertai request sesuatu. Bisa lagu atau tembang khusus yang harus dinyanyikan oleh sang pelawak.

Tetapi, kalau "feeback" penonton karena kekecewaan bisa macam-macam yang dilempar. Mulai dari bungkusan kosong, kardus bekas, botol Aqua, sampai alas kaki. Alas kaki saja bertingkat mulai dari sepatu, selop, dan terendah adalah sandal jepit tentunya.

Apa yang dilempar penonton itu sebenarnya menunjukkan dua sisi peradaban yang berbeda. Bisa jadi dimulai dari pemainnya yang memang benar-benar tidak mutu. Tetapi, sangat mungkin dari sisi pemainnya yang memang tergolong kelas "kurang beradab". Kalau sudah di tengah-tengah cerita siapa yang bisa menahannya? Jadi berhati-hatilah saat dagelan digelar. Biasanya sutradara malah tegang lho!

Karena apa yang dilempar penonton itu menunjukkan "kualitas" dua belah pihak setidaknya George W Bush sedikit bisa mengendalikan agar di pihaknya nampak lebih elegan. Lihat, dia terbiasa tenang, karena alam demokrasi tentu lebih biasa dia hadapi daripada sang pelempar sepatu.

Kalau dia gagap, tiba-tiba tidak terkendali, tidak hanya dirinya atau Partai Republik yang kehilangan muka. Tetapi juga rakyat Amerika. Bush lebih suka berkomentar tentang "message" yang sengaja dilemparkan ke dia. Substansi dari tragedi pelemparan sepatu itu. Jadi dia tidak banyak komentar soal sepatu kecuali niatnya untuk bercanda.

Nah, bayangkan jika itu terjadi untuk Presiden kita. Di waktu yang berdekatan, presiden kita marah-marah karena loudspeaker para demonstran pada saat yang bersamaan menggangu sidang yang dipimpin oleh presiden. Alih-alih menjawab apa yang menjadi "message" sang demonstran SBY justru berkomentar soal loudspeaker-nya. Besok lagi, ada rumor loudspeaker akan dilarang Kapolri dibawa dalam demonstrasi.

Jika ada drama sepatu di Istana Negara boleh jadi orang dilarang pakai sepatu masuk Istana. Mungkin presiden kita bukan "seniman serba bisa". Jadi, lebih cepat terkena "demam panggung" saat konsentrasinya terganggu oleh sebuah insiden yang sebenarnya bisa tiba-tiba terjadi di alam demokrasi.

Saptadi Nurfarid
Vila Mutiara Gading C9/04 Bekasi
saptadi@yahoo.com
08551000727

(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads