Melawan Terorisme

Melawan Terorisme

- detikNews
Rabu, 03 Des 2008 18:38 WIB
Melawan Terorisme
Jakarta - Meski hukuman mati dan penjara seumur hidup diberikan kepada para teroris ternyata terorisme juga tak kunjung berakhir. Gerakan terorisme seperti mati satu tumbuh seribu. Muncul silih berganti di berbagai tempat yang tidak diduga-duga.

Setelah Peristiwa 9/11, kemudian muncul Bom Bali I, Bom Madrid, dan yang terakhir terorisme muncul di Kota Mumbai, India. Para teroris yang menguasai Hotel Taj Mahal selamaΒ  60 jam itu akhirnya berhasil ditumpas oleh Pasukan Garda Keamanan Nasional India. Namun, dalam aksi terorisme itu 195 orang tewas.

Selepas kejadian di Mumbai apakah terorisme akan berakhir? Sepertinya tidak.
Terorisme akan terus muncul secara tiba-tiba di mana kita tidak tahu tempat dan sasarannya. Terorisme adalah bentuk perang baru setelah berakhirnya Perang Dingin. Usainya Perang Dingin ternyata tidak membawa angin perubahan pada tatanan dunia yang damai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Runtuhnya Blok Timur ternyata membawa Blok Barat yang dimotori Amerika Serikat menjadi kekuatan tunggal. Kekuatan Blok Barat tidak hanya pada kekuatan militer semata. Namun, juga pada kekuatan ekonomi, politik luar negeri, teknologi, dan budaya pop. Sebagai kekuatan tunggal, Amerika Serikat menjadi bangsa yang congkak.

Kekuatan-kekuatan itu akhirnya digunakan untuk mendominasi dan menghegemoni dunia. Nah, letak permasalahannya adalah ketidakadilan dan standar ganda Amerika Serikat dalam upaya menghegemoni dan mendominasi dunia.

Dampak politik standar ganda ini paling dirasakan oleh negara-negara Timur Tengah atau negara-negara Arab. Sebagai bangsa, negara-negara Timur Tengah dalam segi militer, politik luar negeri, dan ekonomi relatif lemah. Akibatnya dengan mudahnya Amerika Serikat dengan sesuka hati mengintervensi negara-negara itu. Konflik Palestina yang berlarut-larut serta Perang Irak adalah bukti bahwa denganhegemoninya Amerika Serikat bisa mendikte wilayah itu.

Dari sinilah muncul perlawanan-perlawanan alternatif untuk melawan dominasi dan hegemoni Amerika Serikat. Bentuk-bentuk perlawanan alternatif itu seperti:

Pertama, membangun blok baru. Sebuah blok negara yang sama-sama anti Amerika Serikat. Ini dilakukan oleh Iran bersama dengan negara-negara Amerika Latin seperti Venezuela. Presiden Venezuela Hugo Chaves dan Presiden Iran Mahmood Ahmadinedjad telah melakukan pertemuan dan sepakat untuk menggalang kekuatan anti Amerika.

Kedua, menggunakan mata uang Euro sebagai upaya menggembosi kekuatan ekonomi Amerika Serikat. Penggunaan mata uang Euro dilakukan oleh Iran dalam proses jual beli minyak. Dengan cara seperti ini maka kekuatan mata uang US $ akan menjadi melemah dan secara otomatis akan mempengaruhi sistem keuangan Amerika Serikat.

Ketiga, perlawanan alternatif oleh kelompok-kelompok yang merasa bahwa cara-cara kekerasan merupakan cara yang paling efektif. Sebab perang secara terbuka tidak mampu dilakukan maka kelompok ini menggunakan cara 'gerilya' teror dengan sasaran aset dan orang Amerika Serikat dan sekutunya, seperti orang Australia, Israel, dan Inggris di mana pun tempatnya.

Faktor Amerika Serikat sebagai kekuatan tunggal dunia dan politik standar gandanya inilah yang menyebabkan perlawanan alternatif itu akan terus muncul. Faktor pertama dan kedua tidak akan membahayakan umat manusia. Namun, faktor yang ketiga itulah yang akan menyebabkan korban terus berjatuhan. Diprediksi kekuatan Amerika Serikat puncaknya pada 2025. Dengan demikian terorisme akan terjadi sampai tahun itu.

Untuk mengimbangi kekuatan Amerika Serikat memang harus dimunculkan sebuah kekuatan baru. Kekuatan-kekuatan itulah yang bisa mencegah arogansi Amerika Serikat. Kekuatan baru itu tidak harus seperti Blok Timur namun bisa seperti China dengan kekuatan ekonominya. Kekuatan China membuat Amerika Serikat tak mampu mengintervensi negara itu.

Ardi Winangun
Jl Kendal Menteng Jakarta Pusat
ardi_winangun@yahoo.com
08159052503
Pengamat Sosial

(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads