Prediksi Runtuhnya Hegemoni Amerika Serikat

Prediksi Runtuhnya Hegemoni Amerika Serikat

- detikNews
Kamis, 27 Nov 2008 09:24 WIB
Jakarta - Iklim kejatuhan pasar saat ini masih menghantui Amerika Serikat (AS). Sebagai negara yang paling awal merasakan dampak dari kegagalan pasar sub prime mortgage AS saat ini berhadapan dengan berbagai masalah yang sangat kritis dan mengancam keberlangsungan hegemoninya atas dunia. Khususnya dari segi ekonomi.

Sistem ekonomi AS yang seyogyanya didesain untuk memperkaya para konglomerat dan pengusaha Yahudi saat ini menghadapi ujian yang sangat berat dan meniscayakan kehancuran hegemoni ekonomi AS. Saat ini fluktuasi nilai mata uang Dolar AS di dunia sangat bervariasi.

Sejak kenaikan harga minyak dunia yang menembus 140 US$/ barel pada Juli 2008 yang kemudian memicu kenaikan harga pangan dan sejumlah komoditi lainnya mengakibatkan tingginya permintaan mata uang Dolar di dunia. Strategi Amerika dalam mendorong aksi spekulan di bursa komoditi agaknya mampu mendorong naiknya permintaan pasar terhadap Dolar AS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hasilnya, nilai mata uang Dolar AS menguat terhadap berbagai mata uang utama dunia. Akan tetapi kondisi tersebut tidak mampu bertahan lebih lama lagi. Ketika pada akhirnya gelembung krisis kredit (credit crash) meletus yang ditandai dengan ambruknya bank investasi raksasa Lehman Brothers yang kemudian disusul dengan kejatuhan pasar modal dan merapuhnya bisnis perbankan yang diterjang aksi rush dan kerugian berbagai perusahaan investasi lainnya akibat jatuhnya harga-harga saham. Hal ini membuat AS harus menebus kesalahannya dengan menggelontorkan dana segar untuk menyangga kejatuhan pasar keuangan.

Pada saat yang bersamaan, utang pemerintah AS saat ini sudah melampaui 10 triliun US$ yang akan terus bertambah 2,6 miliar US$ per hari. Dengan adanya upaya penyelamatan pasar sebesar USD 700 miliar yang akan dilakukan Pemerintah AS sebenarnya dapat menimbulkan masalah baru.

Sebab, dana untuk bail out tersebut merupakan utang baru yang diperoleh dari penjualan obligasi pemerintah AS. Hal ini akan membawa AS menjadi negara yang menanggung beban utang terbesar di dunia.

Selain pukulan telak di pasar modalnya AS saat ini juga terpukul dengan turunnya nilai mata uang Dolar di tingkat perdagangan internasional. Sejak September 2008 penjualan Dolar dan konversi Dolar ke mata uang lain semakin gencar dilakukan. Khususnya mata uang Euro.

Bahkan, beberapa negara seperti Brazil dan Argentina bersepakat untuk menghentikan penggunaan mata uang Dolar untuk transaksi perdagangan antar kedua negara tersebut. Aksi konversi Dolar ke Euro merupakan cara sebagian negara di dunia untuk menyelamatkan nilai mata uangnya akibat dari lemahnya nilai mata uang Dolar.

Apabila satu demi satu negara-negara di dunia sudah mulai melepaskan ketergantungan kepada Dolar AS dan menjadikan emas atau mata uang lain sebagai patokan perdagangannya maka saat itulah AS akan tinggal sejarah.

Dimas Haryo Pamungkas S Si
Jl Rahmadsyah No 171 / 99 Medan 20215
dims_stk36@yahoo.com

(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads